Pre-Marital Check Up


Biasa saya suka ajak ngobrol abang sopir angkot kalau misalnya saya duduk di samping sopir. Yaa.. memecah suasana yang cuma diam dan lirik kanan-kiri, siapa tahu bisa dapet free ongkos angkot lmao. Ceritanya si abang ini baru menikah lima bulan yll, dan bininya belum ada ‘isi’. You know lahhh… dan saya sih kaget aja waktu dia bilang mau ceraikan bininya gara-gara belum hamil.

Salah siapa? nerd

Kadang pria dengan egonya suka menyalahkan wanita kalau nggak bisa menghasilkan bibit unggul dari spermanya pria. Pernah baca Test Pack-nya Ninit? Atau film Facing The Giant? Saya coba ‘interogasi’ sedikit, misal dari frekuensi hubungan seksualnya, kebiasaan merokok dan sampai kualitas sperma si abang, karena ini bisa jadi faktor lain bukan?

Dari cerita si abang, saya jadi ingat kalau calon pasutri bisa bikin perjanjian pra-nikah? Biasanya isinya tentang kesepakatan-kesepakatan kedua pihak yang do and do not bagi pasutri scenic. Nah, kalian pernah dengar istilah pre-marital check up nggak? Intinya pemeriksaan kesehatan dari kedua pasangan, dari situ kita tahu apa pasangan kita fertil atau infertil, dan sebaliknya. Menurut kalian pemeriksaan ini perlu nggak? thinking

Menurut Sonia Wibisono, dokter umum dan konsultan kesehatan dalam artikel di Bisnis Indonesia Edisi 118. Ada delapan tahap untuk pre-marital check up:

  1. Pemeriksaan riwayat kesehatan umum, misalnya fisik dari kedua pasangan.
  2. Pemeriksaan darah secara lengkap untuk tahu kadar hemoglobin sebelum kehamilan, ada infeksi, atau kelainan darah lain.
  3. Tes gula darah. Misalnya kedua orang tua punya sejarah kencing manis waktu muda, anaknya juga bisa berpotensi mengalami penyakit serupa.
  4. Pemeriksaan serologi torch, yaitu antibodi untuk penyakit toksoplasma, rubella, citomegalovirus, dan herpes simpleks. Semua penyakit infeksi ini sebaiknya diobati tuntas sebelum ibu mengandung anak agar tidak menyebabkan cacat atau keadaan anak yang tidak normal.
  5. VDRL atau TPHA. Tes ini buat periksa adanya infeksi sifilis (PMS).
  6. Tes antibodi terhadap virus yang menyebabkan penyakit hepatitis, terutama hepatitis B yang bisa menular lewat darah dan hubungan seksual.
  7. Tes deteksi HIV (Human Immuo deficiency Virus).
  8. Tes urine buat periksa kemungkinan infeksi di saluran kemih atau kelainan lain di saluran kemih.

Selain itu juga ada tes lainnya, misal tes paru-paru, jantung, tes fungsi ginjal, tes analisis sperma dan tes getah vagina.  Juga diskusi tentang kehamilan dan jumlah anak yang diharapkan sama kedua pasangan.

IMHo, pre-marital check up itu ibarat dua sisi keping mata uang logam. Bisa saja pasangan kita menolak buat check-up karena merasa dirinya fertil. Padahal, maksud dari pemeriksaan ini baik buat kedua pasangan. Dapat mendeteksi gejala penyakit dan segera mungkin diobati sebelum menular ke calon anak. Kalau pemeriksaan itu baik untuk kedepannya, kenapa takut?

p.s : Lu subur.. gw juga subur.. yukkk mariii… banana_rock
Iklan

63 pemikiran pada “Pre-Marital Check Up

  1. Ping balik: Anda Puas, Saya Loyo « une note du noir et blanc

  2. aiiihh..
    dilema juga nih jadinya.
    check..
    engga..
    check..
    engga..
    check..
    engga..
    check..

    waduh, klo cek ntar ketauan dong klo saya sebenarnya laki2..
    ahhaahahha.

    anyway, salam kenal mas Huang.. 😀

  3. salah sopir angkotnya lah, kagak sabaran bgt baru juga 5 bulan nikah. pasutri laen ada yg sampe bertahun2 blom dikasih keturunan (annoyed). aku sih setuju sama yg bilang kalo PMCU harus willing dr kedua belah pihak, bukan suatu keharusan. pernah denger cerita temen di milis, kalo calon mertua cewekny mengharuskan dia buat ngelakuin PMCU, emang terkesan kayak gak percaya sih ya.

    baru kemaren temen aku cerita soal suka dukanya setelah merit, sampe ke soal cek kesehatan sbelumnya. aku sih dengerin aja, secara buat nambah pengetahuan juga.

    • Nah kadang justru camer yang lebih agresif ketimbang anak-anaknya sendiri. Maklum, camerkan pengen cepat nimang cucu dan mengalihwariskan hartanya 😈

  4. wahahahah baru lima bulan ajah udah ribut!!! gila kali :p

    iya dong harus sadar juga… menghasilkan anak kan “kerjasama” berdua bukan sendiri aja masa main nyalahin begitu ajah… sempit ah sempit!!!

  5. Kalau ternya waktu ditest ada yang salah dengan pasangannya, bisa nerima gak ya? atau malah gak jadi merit? Nah lho… kalo undangan udah disebar baru check up, bisa runyam tuh

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s