Best I Ever Had


Ini minggu kedua Her datang ke kelas bimbingan laporan akhir, siswa bimbinganku yang gagal di sidang laporan akhir beberapa minggu yang lalu dan harus turun angkatan. Sikap cuek masih sama seperti 3 bulan yang lalu, saat pertama kali dia menemui aku dan bilang kalau aku pembimbing laporan akhirnya.

Her: Deddy aku bingung sama judul aku.
Aku mengenyitkan dahi thinking . Anak ini kok nggak sopan yaaa manggil aku kok dengan nama? Siapa sih dia? Teman bukan, saudara bukan?
Aku: Memang kamu mau bahas tentang apa?
Her: Tentang biografi orang-orang sukses, Deddy.
Aku: Boleh.

Besoknya dia datang lagi dan bilang kalau dia mengganti judul laporannya dengan judul yang baru. Aku tanya alasannya karena bahan yang dia dapat sedikit dan aku referensikan untuk cari lewat internet.

Her: Males Deddy…. *sambil ketawa*
Aku: Lho kok males? Kamu bikin judul yang baru juga butuh referensi yang banyak kan?
Her: Kalau judul yang baru ini sumbernya dari buku.
Aku: Berapa buku?
Her: Satu!

bigeyesAku semakin dibikin ‘gemes’ sama Her. Proses bimbingan laporannya terus berjalan setiap minggu, dan memang dia kerjakan laporan dan projek akhirnya. Kalau boleh aku katakan hasilnya belum maksimal, harusnya dia bisa lebih. Tapi biar aku dorong dia untuk lebih tetap percuma. Alasannya malas! Wajarlah dia malas, lha wong dia ini sebelum aku jadi pembimbing laporannya sudah turun angkatan lantaran dia sama sekali nggak mengerjakan kewajiban dia untuk selesaikan laporan akhir.

Aku: Kenapa waktu itu bisa sampai turun angkatan?
Her: *senyum* Malas, Deddy.
Aku: Udah pernah ajukan judul belum?
Her: Belum. *geleng-geleng kepala*

Ya ampun… doh jadi selama 3 bulan dia sama sekali nggak pernah bimbingan sama pembimbingnya terdahulu dan cuek.

… dan tibalah hari sidangnya. Aku sedikit bernafas lega. Aku memberi dia semangat dan petunjuk tentang cara presentasi dan apa saja yang perlu dia persiapkan. Dia mengerti. Puji Tuhan worship.

Tiba besok hari, temanku yang menjadi penguji siswaku ini bilang minta maaf karena mereka tidak meluluskan Her. Bukan karena laporan dan projeknya. Memang projeknya terlalu sederhana, aku akui dan aku juga nggak menyalahkan. Tapi karena sikap dari Her yang kurang sopan dan menghargai penguji.

Biasanya selesai siswa diuji, penguji menyuruh siswa untuk menunggu diluar dengan maksud penguji ingin diskusi apa siswa tersebut layak lulus atau tidak. Kata temanku, harusnya Her bisa lulus dengan syarat. Syarat yang dikasih sama penguji untuk revisi laporan dan projek. Her-pun disuruh masuk ke dalam ruangan dan sebelum penguji memberi tahu hasil akhirnya, biasanya diajak ngobrol ringan tentang perasaan siswa.

Temanku: Gimana perasaan kamu setelah sidang ini?
Her: Membosankan! Dan aku bakalan dendam sama kalian!

Terkejut bukan kepalang temanku mendengar jawaban dari Her. Sangat tidak sopan dan terlalu keras kepala. Aku sampai malu mendengar cerita dari temanku. Akhirnya aku jelasin sama temanku kalau karakter Her memang seperti itu, dia terlalu menjaga pendapat dia dan dia berusaha supaya pendapat dia nggak ada yang menentang. Bagi dia, pendapat dia adalah pendapat dia, dia nggak perduli tentang pendapat orang lain yang bertujuan untuk memberi dia masukkan.

… dan sekarang. Aku memberi masukkan sama dia saat aku lagi berbicara sama dia.

Aku: Her, kalau lagi ngobrol sama orang… arah matamu juga lihat orang yang lagi ajak kamu ngobrol.
Her: *senyum* Takut, Deddy.
Aku: Lho takut kenapa? Aku galak?
Her: Ntar Deddy bilang aku nggak sopan karena lihat Deddy.
Aku: Apa hubungannya?
Her: Memang aku nggak sopannya dari mana sih?

Aku menarik nafas beberapa kali sambil otakku berpikir. Sementara siswa bimbinganku yang lain udah senyam-senyum dengar Her selalu beradu argumen. Senyuman mereka seolah berbicara kau-itu-ringam!

Aku mulai kasih tahu beberapa poin masukkan, berharap dia mau menerima.

Aku: Cobalah kalau kamu lagi ngobrol sama orang, mata kamu menatap orang itu juga. Itu tandanya kamu hargain orang yang lagi ajak kamu ngobrol.
Her: Biasa aja… *senyum*
Aku: Biasa??
Her: Iya..
Duh.. nih anak kok… ngeyelll…
Aku: Terus kamu harus hormatin orang yang lebih tua dari kamu. Sapa mereka dengan panggilan pak/ibu/mbak/mas/kak. Bukan kamu panggil dengan nama, seolah kamu sudah akrab dengan mereka dan biasanya orang kurang suka dan anggap kamu kurang sopan.

Dia mulai nggak menerima omongan aku barusan.

Her: Kalau di luar negeri, sebutan nama itu udah biasa. Manggil orangtuanya aja pake sebutan nama.
Aku: Iya itu kalau di luar negeri, sekarang kamu tinggal di luar negeri atau di dalam negeri?
Her: Yaaa… tapi biasa aja, aku biasanya panggil juga gitu. Emang kurang sopan?

Aduh… doh

Aku: Kamu panggil orangtua kamu pakai panggilan nama?
Her: Yaa enggak lah, kecuali itu.
Aku: Nah kalau misalnya kamu ketemu sama orang asing, ada ibu atau bapak. Kamu tetap panggil dia dengan nama?
Her: Ya enggak… bisa-bisa aku ditonjok.
Aku: Nah kalau gitu kenapa kamu panggil penguji dengan sebutan kau?

Temanku cerita kalau dia kurang suka sama Her, lantaran Her sudah keterlaluan dari sikap dia menjawab pertanyaan sampai memanggil penguji dengan nama “kau”. “Kau” bisa diartikan panggilan kurang sopan kalau itu disebut oleh orang yang usianya lebih muda dari orang yang dipanggilnya.

Aku: Trus, kalau misalnya ada orang kasih kamu masukkan demi kebaikan kamu. Sebaiknya kamu terima dan urusan belakang kamu setuju atau nggak. Yang penting kamu hargai orang yang sudah memberi kamu masukkan. Ngerti?
Her: Aku itu kurang sopan dari mana sih? Aku udah tanya sama temen aku, katanya aku normal saja!
Aku: ~!@&*#$%^`!@*@##!

Dalam hati aku teriak:

Aduh Tuhan kok nih anak bebel banget sih? Orang niatnya baik pengen dia baik, cara penyampaian juga udah aku usahain dengan baik. Tapi apa hasil akhirnya juga bisa baik?

Akhir kata aku bilang kayak gini sama Her:

Her, aku harap suatu saat bakalan ada orang yang lebih baik dari aku yang bisa membimbing kamu lebih dari aku. Mungkin saat ini aku bukan orang yang tepat untuk membimbing kamu, mungkin akan ada orang lain yang punya metode lain untuk kamu. Dan wajar, kalau seseorang tidak mudah berubah hanya karena satu orang saja. Aku udah pelajarin karakter kamu, dan buatku itu nggak masalah karena aku udah menerima yaaa itulah diri kamu. Kamu masih tetap bisa panggil aku dengan nama, tapi nggak untuk orang lain yang jauh lebih tua dari kamu. Oke?

***

Teman, ada kalanya kita dalam bersikap selalu berpatokan sama apa yang kita lihat bukan dengan apa yang orang lain lihat. Aku bisa menulis ini, karena aku udah belajar kalau semua ini adalah proses dalam diri kita. Ujian-ujian kehidupan yang membawa kita dinyatakan lulus atau tidak. Permasalahan sekarang, apa kita siap ikhlas menerima kalau kita dinyatakan tidak lulus dalam ujian kehidupan ini?

Teman, hari itu pula aku belajar tentang kesempatan. Ada orang yang rela mengorbankan sejumlah uangnya untuk waktu yang nggak bisa dia beli kembali. Sementara logikanya waktu akan terus berjalan, pernahkah berharap waktu berhenti sejenak?

Teman, aku juga belajar tentang memberi dan menerima kepercayaan. Aku memberi kepercayaan sama setiap siswa bimbinganku, percaya kalau mereka bisa menyelesaikan tepat waktu dan lulus saat presentasi sidang nanti. Tapi, saat kepercayaan yang aku berikan sama siswaku ternyata disalah gunakan. Apa nanti aku masih bisa menerima kepercayaan hasil dari yang sudah aku berikan?

Teman, terakhir aku belajar dari ujian-ujian kehidupan yang aku lewati. Aku percaya aku kuat! Selama kita punya perasaan dan pikiran yang selaras, Puji Tuhan, Tuhan akan memberikan yang terbaik menurut waktu-Nya dan kehendak-Nya.

Iklan

32 pemikiran pada “Best I Ever Had

  1. waahh… tabah ngadepin orang kayak gitu. yaa, mirip banget sih sama adek gw. dia juga sering kelewat ngeyel. malah kalo ngomong ngeyelnya, gw biarin. gak dikasih tau ini-itu. hehehe

    thanks udah maen ke blog gw. maen lagi juga boleehh… 😀
    salam ganteng dari diazhandsome

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s