Koper : Money Please


Tadi siang jalan sama Triana di PIM. Ngalor ngidul kongkow geje (gak jelas) gitu tiba-tiba saya celetuk gini ke dia.

“Kadang aku kepikiran bisa lahir di keluarga orang kaya,” celetukku.

“Huss.. itu tandanya kita nggak mensyukuri apa yang udah dikasih.”

Memang apa yang saya celetukin tadi hanya pikiranku yang kebetulan lewat. Saat itu saya sedang lihat orang-orang borjuis yang kelihatan bahagia menenteng beberapa goodie bags dan asik sama gadget mereka. Haiyaa.. pikiranku begitu negatif. Tapi.. (ngotot) beneran kadang aku kepikiran if i were riches huang? I have money and power! Disini egoku mulai muncul, karena apa? Yang aku sadarin, dalam hidup ini: kita nggak bisa meminta setiap hari dilalui dengan bahagia. Semua perasaan itu hanyalah perasaan yang punya waktu buat hilang dan berganti.

Kemarin saya dapat cerita tentang Christina Onaris. Siapa dia? Saya sendiri juga nggak kenal. Dari cerita, si Chistina itu ahli waris dari perusahaan pelabuhan, termasuk dalam orang terkaya di dunia. Mungkin mirip Paris Hilton yang jadi ahli waris Hilton Hotel? Punya segalanya (uang) dan gampang untuk wujudin apa yang dipengen. Beda dengan saya, pengen A, B, C, D, semuanya itu cuma di dalam pikiran. Akhir cerita Christina ini koid di dalam hotel di Afganistan akibat serangan jantung. Dan dia tidak bahagia sama hidupnya. Walaupun if i were in her shoes, tentu saya bakalan bahagia dong!

Ah.. akhirnya saya kembali disadarin.. bahagia tidaknya seseorang dipengaruh sama persepsi, pikiran, dan how to thankfull to God 🙂

Iklan