Footprint


Alone

Sebuah impian itu bentuknya sangat rapuh. Bentuknya seperti busa-busa dalam secangkir espresso yang mengapung lalu setelah diaduk pakai sendok maka lenyaplah sudah.

Oke… disaat yang seperti ini sikapku: angkat tangan dan angkat kaki.

Angkat tangan menandakan kalau aku udah pasrah. Pasrah karena memang belum layak.

Angkat kaki menandakan kalau aku nggak mau menoleh ke belakangan lagi. Hidup dibayangin oleh masa lalu tampaknya buruk bukan?

p.s : Setiap orang pasti pernah juga merasakan hal seperti ini.

13 pemikiran pada “Footprint

  1. Ping balik: On Marriage: Companionless | Food for Thought

  2. but for me, it’s not about the dream, the dream is the dream, the problem is in us. now is our dream in past. congratulation for all ur’dream that’ve come true.

    Huang : Amen. 🙂

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s