Ketika Tangis dan Gelap Bertemu Dalam Kemesraan


a

Awan di langit sudah mulai memeras bak gunung merapi yang sebentar lagi bakalan memuntahkan larvanya. Kilatan-kilatan putih tajam sudah mulai nampak disusul dengan suaranya yang menggelegar. Aku yang seharusnya sudah pulang tepat jam 5 sore, tapi batal karena langitpun mulai menangis dengan kencangnya hingga membuat orang-orang berkumpul dalam satu tempat. Saling bertanya apakah yang sedang terjadi sama langit? Kenapa langit menangis dengan begitu kencangnya? Seandainya pampers ada seukuran langit mungkin tangisannya bakal lebih cepat terserap dan berhenti. Namun sayang, langit semakin menangis. Dari berupa genangan lama kelamaan tangisannya menjadi suatu banjir.

AAahhh…

Semuanya menjerit dalam kegelapan. Tidak ada cahaya seterang matahari, beruntung ada cahaya-cahaya kecil yang selalu menerangin dikala kegelapan mulai datang. Tidak ada aktivitas juga selain orang-orang berkumpul dalam satu tempat. Bercanda.

Yaaakk… batal deh mengajar..

Yaakkk… batal deh main fesbuk..

Yaaakk.. batal deh balik rumah..

Yaaakk.. hujannya lama banget sih…

Yaakk.. cocok deh listrikpun juga padam..

p.s : Enggak apa-apa deh… yang penting tetap bisa eksis dalam kegelapan :p

Iklan