Talk less, listen more…

Mungkin langkah ini yang sulit. Sulit karena untuk berbicara yang sedikit mungkin masih dapat dilakukan, tapi kalau untuk mendengar yang lebih? apa kamu sendiri bisa??

Mendengar yang kayak apa? bukan mendengar ya cuma ah ya oh.. cuma supaya si orang itu cepat kelarin curhatannya. Tapi mendengar yang memang kita ikutin permasalahan dia, sampai bisa curhat ber-episode-episode mendengar kelanjutan curhatan dia. Tapi apa tuh orang juga memahami perasaan kita?

Jujur aku capek! Capek untuk berpikir memberi solusi. Tapi orang kadang juga angin lalu, ya sudahlah.. itu hidupmu. Urus saja hidupmu itu. Aku juga sudah capek toh waktu aku mau curhat kadang orang juga cuma ah oh ah oh..

Oh ya satu lagi..

Ada juga rasa kesal dengan satu orang, seorang pak tua yang terlalu berlebihan dalam berkomentar. Membawa-bawa agama untuk memberi komentar akan sesuatu. Sehingga dari komentarnya tersebut kita merasa terpojokkan dari apa kita tulis. Dasar rasis dan kafir!

Cuma, tenang aku nggak akan termakan oleh komentar si pak tua. Buat apa di-pusing-in sama jenis komentar sampah seperti itu, pertama dia emang gak level sama saya *niru Cathrine Wilson.. hahaha.. gw suka gaya-nya! Level!*

p.s : Gak ada orang yang baik di dunia ini!

9 pemikiran pada “

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s