It’s My Turn, Mom


“Terakhir tinggal di panti jompo.”

Setidaknya seperti itu obrolan antara aku dan mama sewaktu makan malam di rumah makan vegetarian. Berhasil membuat berhenti sejenak makan dan melihat ke arah wanita yang baru melewati umur setengah abad ini. Untuk kembali topik pembicaraan kita, dimulai dari kakakku yang laki. Aku cuma punya dua saudara, dan aku anak kedua. Sifat kakakku agak cuek dan kalau boleh memilih antara kepentingan dia bersama teman-temannya atau mama. Dia tentu akan memilih kepentingan dia bersama teman-temannya supaya bisa berkumpul. Jadi kita berdua membuat kesimpulan kalau dia tentu akan lebih berpihak dengan mertua dia berserta istrinya daripada kami sebagai keluarganya.

Sampai dengan obrolan, kalau begitu berarti yang nanti urusin anaknya si kakak ya diurus sama keluarga istrinya, karena tentu kakakku akan keluar rumah daripada memilih tinggal bareng mama. Lalu, mama bertanya nanti kalau aku sudah berkeluarga bagaimana nasib dia? Maukah aku tinggal bersama mama?

Aku terdiam.

Dalam pikiranku kenapa mama harus bertanya pertanyaan seperti itu? Sudah jelas tentu aku akan mengajak mama ikut serta tinggal sama aku. Anak mana yang rela menitipkan orangtuanya di panti jompo? Bahkan sampai orangtua menghembuskan nafas inginnya anak ada di samping mereka dan mengiring mereka dengan doa yang tulus.

Aku hanya seorang anak yang biasa, lemah, penakut, cengeng. Itulah seorang Huang. Saat sedang terjatuh pun membutuhkan mama yang memulihkan lagi.

p.s : Huang, semangat ya cari pekerjaan baru dengan gaji yang baik.

p.s : Jika orang bilang uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun untuk saat ini aku sangat membutuhkan uang yang lebih dari cukup membeli sebuah rumah layak huni karena sebentar lagi rumah kontrakan kami sudah habis masa sewa.

Iklan