Leave on Wood House


Rumah dua tingkat ini harus ditinggalkan juga pada akhirnya.

Tujuh belas tahun yang lalu, saat itu aku dan mama masih menumpang di rumah orangtua mama. Sementara kakakku dan papa tinggal di rumah orangtua papa. Aneh, klasik, atau apalah kenapa sepasang suami istri tidak tinggal dalam satu atap. Saat itu papa belum berpenghasilan, akibatnya masih menumpang di rumah orangtua masing-masing dulu. Hingga akhirnya papa berinisiatif untuk mengontrak rumah dua lantai yang asal muasal itu bukan rumah, melainkan bekas bengkel lalu direnovasi sedikit. Bahkan tidak ada kamar tidur.

Jadi bagaimana kita tidur?

Berhubung rumahnya itu rumah kayu, maka tidur cuma beralaskan papan kayu dan tidur bersama. Selama puluhan tahun aku sudah kebal merasakan tidur tanpa kasur, jadi rasanya senang kalau bisa tidur di atas kasur yang empuk dan hangat.

Kita akhirnya berkumpul menjadi satu keluarga. Akupun baru menyadari kalau aku punya kakak laki-laki. Kalau aku ingat-ingat lagi rasanya canggung bertemu dengan orang baru dan dia bernama kakak. Dan kenapa aku dipisahkan dengan kakakku juga alasan yang sama. Terlalu besar pengeluaran untuk membiayai kami saat itu. Aku rasa kalian yang sudah berkeluarga juga bisa merasakan kesulitan dan kekurangan seperti kedua orangtuaku.

Dua tahun tinggal, papa menghembuskan nafas terakhir karena sakit. Dan saat itu juga kembali aku dan kakakku dipisahkan. Beranjak kakakku masuk SMA, mama mengambil kembali kakakku dari asuhan keluarga papa sampai sekarang. Kemudian hidup menjanda sampai sekarang.

Dan sekarang, rumah yang hampir delapan belas tahun inipun harus kami tinggalin akhir bulan ini juga. Dikarenakan tetangga di sekitar rumah yang jahat hati. Kami tinggal di lingkungan mayoritas (baca: pribumi), dan rumahpun bersebelahan dengan masjid. Jadi, mungkin ada kesan yang aneh seorang keluarga minoritas tinggal di lingkungan mayoritas.

Desas desus yang aku dengar, si tetangga itu menghasut orang yang akan menjadi penyewa baru ini agar menyewa tempat tinggal kami dengan harga sewa yang tinggi. Ingin rasanya aku menonjok bapak haji itu. Dalam hati, aduh Anda seorang haji tapi kelakuan kok begitu rendah.

Namun sudahlah, kami juga sudah tumbuh dewasa. Saatnya untuk berpindah ke tempat yang lebih baik. Karena kami belum memiliki uang yang cukup menyewa rumah bahkan membeli. Mama putuskan untuk tinggal dulu sementara di rumah orangtua mama.

p.s : Ya Tuhan, semoga kami diberi rejeki untuk memiliki rumah yang layak huni. Dan didalamnya penuh sukacita dan harmonis.

p.s : Mulai cicil untuk packing barang deh.

Iklan