Pelayanan Dokter Haruslah Lebih Bernurani


Satu bulan lalu, ada kejadian diwaktu subuh hari. Saya terbangun dari tidur karena teriakan mama. Kebetulan saya tidur dengan mama, maka saya segera lihat kondisi tangan dan kaki sebelah kanannya kaku, mulutnya seperti orang cadel lagi ngomong. Saya langsung panggil kakak saya untuk bangun.

10 menit berlalu

Kakak saya terus menggosok kaki dan tangan mama dengan minyak kayu putih. Sampai pukul 5 pagi pun kami masih terjaga sampai menunggu agak siang baru ke dokter untuk memeriksa kondisi mama. Paginya, saya coba untuk berangkat kerja namun pikiran saya sudah cemas. Mungkinkah?

Selama di kantor saya tetap kontak kakak saya melalui BBM. Tiba-tiba kakak saya bilang kalau mama harus segera dirawat inap dan diopname. Ini kali pertamanya masuk ke rumah sakit, dan saya pun minta izin dari kantor untuk segera ke rumah sakit siang itu juga. Sesampainya di rumah sakit, semua kamar saat itu masih penuh. Kami disuruh datang pada sore harinya. Untungnya kondisi mama masih bisa jalan walau masih dipapah.

Sorenya setelah membereskan pakaian ke koper, kita berangkat ke rumah sakit. Cukup lama juga menunggu di ruang pendaftaran kamar, karena kamar pasien masih penuh. Setelah kami desak, baru bisa dapat kamar. Malam itu juga, menjadi malam pertama mama saya menginap di rumah sakit dan kakak saya bertugas menjaga di rumah sakit.

Saya coba tanyakan kondisi mama lewat kakak saya melalui BBM. Ternyata dokter ini sudah mau memberikan suntikan obat-obat ke mama saya, namun kami menolak. Kami merasa aneh dokter ini karena dia sendiri belum periksa detil, sudah mau pasang infus dan suntik obat-obat sarap. Akhirnya, setelah menelpon sana-sini ternyata dokter yang kami dapatin ini reputasinya kurang baik. Malam itu mama saya mencoba bertahan sampai besok pagi dan ganti dokter yang baru. Alasan kami menolak menggunakan dokter pertama ini karena dia menganggap penyakit mamaku itu treatmentnya sama seperti penyakit-penyakit lainnya. Padahal dia belum periksa secara detil. Contoh kalau kita sakit kepala dan badan panas, ya tinggal kasih parasetamol saja. Padahal penyebab sakit kepala dan badan panas kan bisa saja nggak harus minum parasetamol.

Ganti dokter kedua, dokter ini sayangnya kurang begitu memuaskan dari cara penjelasannya. Belum 5 menit dia berada di kamar pasien, dia sudah keluar. Belum juga mama saya bercerita dan bertanya, dia sudah memotong dengan berkata : Ibu saya sudah tahu keluhan ibu. Sudah gitu saja… saya yang berdiri disana pun nggak bisa bertanya.

Hari lewat hari, mama hanya bed-rest total. Dokter kedua pun tidak menjenguk kembali. Hingga satu malam, tangan mama saya kembali terasa kaku dan kepalanya pusing. Meminta dipanggilkan dokter pun percuma, karena dokternya tidak ada di rumah sakit. Panggil dokter jaga pun juga sama percuma, malahan dia sendiri tidak bisa menangkap yang dimaksud mama saya. Dia menyuruh mama saya untuk tidur dan minum obat kembali. Obat sendiri sudah mama saya minum dua jam yang lalu. Bayangkan saja, orang pusing gimana bisa tidur? Orang yang baru minum obat masa disuruh minum obat lagi?

Setelah kondisi mama saya cukup baikkan, mama pun sudah bisa keluar dari rumah sakit. Ironis sekali waktu mau bertemu sama dokter kedua ini pun nggak bisa. Padahal kita mau kontrol untuk tanya gimana supaya kondisi mama saya cepat pulih, apa ada pantangan makanannya, dll.

Seminggu berlalu, saat rawat jalan kami pergi ke dokter yang baru. Dokter ketiga ini anaknya dari dokter kedua. Buah tidak jauh jatuh dari pohon. Seperti itulah yang bisa saya katakan. Dokter ketiga ini juga tidak begitu mendengar keluhan dari mama saya. Saat mama saya sedang bercerita dia kadang sibuk lihat BB Torch dan Iphone 4 nya, atau kalau tidak bicara sama susternya. Sampai si dokter ketiga ini membuat resep obat, dan ternyata obat tersebut harganya cukup mahal. Satu resep bisa mencapai 800 ribu.

Kebetulan saya punya beberapa teman yang berprofesi dokter, saya ceritakanlah kondisi mama saya, termasuk resep yang dikasih sama dokter ketiga itu. Teman saya bilang kalau resep yang diberi itu merupakan obat paten, maka wajar kalau mahal. Ada yang tahu obat paten itu apa? Saya deskripsikan kalau obat paten itu ibarat kamu menonton sebuah konser musik. Tentunya kamu perlu tiket untuk masuk kan? Ada tiket atrium atas, bawah, sampai VVIP. Tapi tujuannya sama, yaitu menonton konser musik. Nah, obat paten itu termasuk golongan VVIP. Jelas kan?

Obat itu terus dikonsumsi sama mama saya, sampai suatu malam mama saya kesulitan tidur dan dia tampak cemas. Tensi darahnya juga naik lagi. Mama saya ingin ke rumah sakit, tapi kami jelaskan kalau percuma saja ke rumah sakit karena tidak ada dokter dan palingan hanya disuruh tiduran di kasur rumah sakit yang bau obat itu. “Lebih baik mama tidur di kasur kita aja daripada di kasur rumah sakit,” ujarku.

Menunggu pagi…

Kakak saya mengajak mama ke dokter ketiga kembali. Setelah selesai konsultasi, lagi-lagi dokter itu memberikan resep obat. Saya minta kakak saya untuk mengirimkan foto resep tersebut. Begitu dapat saya coba tanya ke teman saya, dan segera saja teman saya cegah saya agar mama tidak minum resep obat tersebut. Teman saya bilang, kalau apa yang dialami sama mama saya semalam itu tidak akan membuat sampai sejauh itu. Kamu mau tahu obat apa yang dikasih sama dokter ketiga itu? Obat penenang bagi orang gila yang berontak-rontak! Sampai segitu parahkan mama saya?!

Singkat cerita, kami bertemu dengan dokter keempat. Dokter ini direkomendasi sama pemilik toko bakery langganan kami. Setelah mama konsultasi ke dokter tersebut, mama saya bilang puas dengan dokter ini. Dokter ini jauh lebih sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan mama saya. Dia menjelaskan obat-obat yang dia kasih ke mama saya berserta pengaruhnya untuk apa, memberi tahu makanan apa yang baik untuk pemulihan kondisi mama saya. Dan semua advise yang dokter keempat berikan ini tidak saya temui dari dokter pertama sampai ketiga.

Wajar kalau ada orang yang berpendapat lebih baik berobat ke luar negeri. Melihat kondisi dokter yang ada saat ini membuat hati nurani sudah tertutup. Dokter pun tampak seperti kejar setoran. Sama seperti waktu itu kami mencari dokter yang cocok untuk menyembuhkan mioma mama saya.

Menemukan dokter yang cocok itu tergantung dari masing-masing individu. Dokter yang baik menurut saya dia seperti sahabat yang mencubit kalau pasiennya masih bandel, memberi motivasi saat pasiennya lagi down, memberi pengobatan yang baik. Bukan seperti dokter-dokter yang pernah kami datangin yang datang, diusap-usap lewat stetoskop, buat resep, bayar biaya konsultasi dan selesai.

Itu saja yang ingin saya bagikan ke teman-teman. Semoga memberi inspirasi dan wawasan baru tentang apa yang saya alami.

Iklan

4 pemikiran pada “Pelayanan Dokter Haruslah Lebih Bernurani

  1. Pak Huang, terima kasih untuk tulisannya. Dunia kesehatan di Indonesia, tampaknya perlahan-lahan beranjak dari tindakan kemanusiaan menuju bisnis.

    Saya bukan orang yang menentang bisnis kesehatan, namun seperti yang Pak Huang sampaikan, nurani dan kepentingan bisnis kadang bertolak belakang, menimbulkan sisi-sisi yang berlawanan. Saya rasa cukup bagus, bahwa kita bersedia menunjukkan, bahwa apa yang dibutuhkan pasien dari dokternya bukan sekadar resep dan obat semata.

  2. Turut mendoakan semoga lekas sembuh, gak salah kalau pengobatan alternatif tetap marak. Ketemu dokter yang dianggap pintar supaya bisa dapat full treatment, kalau cuma towel-towel enakan ke ‘orang pinter’ sekalian. Sama-sama resiko ditanggung penumpang.

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s