Rekreasi Di Kota Palembang


Berawal dari informasi teman kerja kalau sekarang Palembang bisa berwisata ke Pulau Kemarau atau Pulau Kemaro (dalam bahasa Palembang) hanya dengan IDR 6.000 untuk tiket PP mengunakan jasa Trans Musi. Rasa penasaran untuk melakukan pembuktian ke Pulau Kemarau dengan jalan darat untuk rekreasi bersama Kamis kemarin (13/05).

Awalnya kita masih bertanya apa bisa hanya dengan naik Trans Musi saja ke Pulau Kemarau? Masalahnya letak Pulau Kemarau itu di tengah perairan Sungai Musi. Selama ini kalau ke Pulau Kemarau selalu menggunakan jalan air yaitu bisa menggunakan speed boat atau sejenis ketek/tongkang. Saya sendiri memang pernah ke Pulau Kemarau sebelumnya pakai jalan darat, tapi itu karena ada acara Cap Go Meh. Cuma jalan itu baru dibuka kalau ada acara Cap Go Meh saja setiap tahunnya.

Petualangan Dimulai

Kami sepakat untuk janjian berkumpul jam 10 pagi di kantor. Entah ini sudah budaya atau apa, biasanya kalau janjian kita itu selalu mengaret satu jam kemudian, dan kami baru berkumpul tepat jam 11. Tujuan pertama, kita menuju halte Trans Musi yang letaknya di depan kantor. Sekitar 20 menit untuk menunggu bus Trans Musi berhenti di halte RS. Muh. Hoesin A. kami pun mulai masuk ke dalam bus. Ini juga termasuk untuk pertama kalinya kita mencoba naik Trans Musi.

Hampir sama dengan busway, Trans Musi juga yang punya AC dan musik. Seharga IDR 3.000 kita bisa keliling kota Palembang tanpa perlu mengganti halte dan bus. Sistem pembayaran tiketnya pun dilakukan di dalam bus. Kalau dibanding dengan bus kota, tentunya ada plus dan minus. Enaknya naik Trans Musi kita tidak perlu was-was sama tindak kriminal seperti pencopetan dan tidak perlu kepanasan karena berdesakan sama yang lain. Namun, sayangnya pengelolaan Trans Musi sendiri belum terstandarisasi, misalnya dari sisi bangunan halte. Ada sebagian bangunan halte yang memiliki kaca, pintu, dan tempat duduk, tapi ada juga di halte lain yang sama sekali tidak memiliki kaca dan tempat duduk.

Petualangan berhenti di halte transit tepat di bawah Jembatan Ampera. Nah, disini kami bingung kenapa perlu transit dan menyambung naik kapal Trans? Ternyata info teman kantor itu salah, bus Trans Musi sendiri tidak bisa untuk mencapai Pulau Kemarau. Jadi, cuma sampai di halte transit kami menikmati Trans Musi.

Berdiskusi sebentar, kami putuskan untuk membeli makan siang di warung kaki lima yang ada di dekat Jembatan Ampera. Soalnya di Pulau Kemarau tidak ada warung yang menjual makanan. Sewaktu kami berjalan, beberapa orang menawarkan jasa speed boat untuk ke Pulau, tapi kami selalu menolak karena mau mencoba kapal Trans.

Kapalnya Delay

Hampir 30 menit kami menunggu datangnya kapal Trans, namun tak kunjung datang. Sementara kapal yang beroperasi hanya ada 1 unit. Bolak balik bertanya sama bagian informasi, ternyata kapal Trans sendiri tidak singgah di pulau melainkan hanya melewatinya saja. Setelah mendapat informasi, kami mulai susun strategi baru dan mencoba negosiasi dengan orang yang menawarkan jasa speed boat ke pulau.

Selama menunggu kapal Trans itu, saya sempat mengabadikan foto-foto Jembatan Ampera dan kumpulan anak-anak sungai yang sedang asik berenang di siang hari yang terik. Pikirku anak-anak ini berani betul berenang di siang yang terik tanpa sehelai kain yang melekat di badan, apa tidak takut kalau ada iwak (ikan, red) yang mencokot badan mereka?

Speed boat GO!!!

Oke deal. Dengan tarif IDR 150.000 kami menggunakan jasa speed boat untuk ke pulau dengan perjanjian harga itu sudah termasuk pulang pergi mengantar kami. Ada 9 orang plus 1 sopir speed boat itu sendiri.

Kami turun ke tepian sungai lalu mulai naik satu per satu ke dalam speed boat. Saat mesin sudah di nyalakan, rombongan anak-anak sungai itu membantu mendorong kapal kami tepat di sungai. Mereka yang masih telanjang, menutupin kelaminnya dengan satu tangan, dan tangan yang lain membantu mendorong kapal. Ini satu pengalaman yang menarik, saya dapat berinteraksi langsung dengan mereka.

Naik speed boat siang itu seperti saya sedang naik di atas kuda. Speed boat yang melaju bukan berjalan tenang melainkan tubuh kita akan dibawa bergoncang-goncang. Saran saya kalau naik speed boat, carilah posisi belakang. Kalau duduk di depan, kamu harus siap jadi perisai buat teman di belakang. Guyuran air sungai pertama kali dimulai dari depan dan juga tekanan angin yang paling kencang juga dari depan. Sementara yang duduk di tengah akan lebih berasa goncangan kapal. Tapi kalau kamu duduk di belakang, kamu bakalan melewatkan sensasi seru yang saya sebutkan tadi. Jadi, silahkan pilih sendiri.

Explore and Explore

Sampai di pulau, saatnya kita eksplorasi apa yang ada di dalam pulau yang katanya keramat. Kami sendiri berusaha menjaga sikap selama di pulau. Contoh tidak membuang sampah makanan sembarangan :D, tidak kencing sembarangan di belakang pohon, tapi langsung ke sungai :D, dan juga tidak bernarsis ria tapi sayangnya kami semua tampak kalap kamera.

Di dalam pulau terdapat sebuah rumah sembahyang, sayangnya kami tidak bisa masuk karena di kunci. Kemudian ada sebuah pagoda seperti di cerita Kera Sakti dan sekali lagi kami tidak bisa masuk ke dalam karena dikunci oleh pengelola. Terakhir, ada sebuah pohon yang diberi nama pohon cinta. Mitos berkata kalau menulis nama di pohon tersebut kamu akan langgeng sama pasangan, atau bisa juga meminta jodoh. Pernah saya menulis kalau ada teman yang melakukan double date di pulau dan “menantang” menulis nama pasangan masing-masing, terakhir tepat satu minggu kemudian mereka putus. Entah benar atau bukan, tapi kami lebih melihat jangan merusak alam dengan mencoret-coret di batang pohon.

Masjid Agung Palembang

Hampir dua jam di pulau, badan saya sendiri sudah gosong oleh terik matahari. Kami beranjak pulang ke tempat semula. Dan petualangan saya belum berakhir di pulau saja. Setelah sampai kita langsung berpisah, tinggal 3 orang teman saya yang ingin melakukan sholat di Masjid Agung Palembang. Berhubung saya belum pernah menginjakkan kaki di masjid tersebut, saya ikut bergabung. Sambil menunggu mereka sholat, saya berkeliling di bangunan masjid yang bangunannya tampak mewah.

Masjid ini sendiri punya dua bangunan. Bangunan yang pertama memiliki arsitektur oriental atau etnik cina. Sesuai dengan sejarah kota Palembang dan Pulau Kemarau kalau pemerintahan kota Palembang pernah dipimpin oleh orang keturunan tionghoa. Kemudian, bangunan yang kedua baru dibangun dengan arsitektur khas orang pribumi.

Time To Shopping

Tujuan terakhir kami berempat ke pasar 16 ilir. Pasar 16 ilir adalah pasar tradisionil dan menjadi ikon pasar untuk kota Palembang. Boleh kah saya menyebutkan sebagai Tanah Abangnya Palembang? Banyak pedagang dari beragam etnis ada di Pasa 16 ilir, mulai dari etnis pribumi, tionghoa, sampai ke arab. Namun, sayangnya pasar 16 ilir ini masih kurang terawat dan mendapat perhatian dari pemerintahan kota. Misalnya dari suasana yang semerawut, tempat jualan yang di tengah jalan sehingga membuat kita berdesakan. Udara di dalamnya pun bukan udara yang sehat untuk dihirup.

Saatnya Berpisah

Matahari sudah terbenam, cuaca mendung ternyata mengakibatkan hujan lebat. Saya sendiri kehujanan sewaktu keluar dari pasar. Petualangan hari ini modalnya hemat, hanya sekitar IDR 20.000 saya bisa rekreasi bersama dan menikmati sisi lain kota Palembang.

Salam hangat,

Huang

Iklan

22 thoughts on “Rekreasi Di Kota Palembang

    1. yang deket2 jakarta tuh…
      ada bandung, sukabumi, puncak, anyer, carita, garut, lampung…
      emmm.. apa lagi ya…

  1. seru juga berlibur di kota palembang tp sama sama di sumatra aku juga pengen tau nie tempat tempat di lampung yg menarik apa ya ???

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s