Tampak Seperti Biasa-Biasa Saja


Setelah kejadian keributan antara tukang “jaga parkir” dengan orang rekan kerja saya selesai, saya jadi berpikir apa ini cuma ada di Indonesia? Seperti beberapa waktu lalu seorang jurnalis asal Belanda yang menggunggah video aksi punggutan liar yang dilakukan oleh oknum polisi. Mungkin, kita sebagai warga Indonesia melihat kejadian seperti punggutan liar yang dilakukan oknum seolah pemandangan yang lazim dalam sehari-hari. Benar atau tidak, silahkan dijawab dalam hati.

Balik lagi ke kejadian kemarin pagi, waktu saya lagi ngobrol dengan rekan kerja saya di luar. Tiba-tiba ada tukang parkir yang datang dengan nada bicara yang nyolot. Tukang parkir ini tidak senang karena kemarinnya rekan kerja saya ini parkir mobil dari pagi sampai sore hari, sekitar 8 jam. Entah apa maksud arah pembicaraan tukang parkir itu, sampai akhirnya keluar kalimat dari rekan saya : “jadi mau nambah duit berapa? kemarin sudah dikasih 5 ribu karena saya sadar diri.” Dan berkali-kali si tukang parkir itu jawab : “Ya lain kali sadar diri saja.. aku ini jaganya gak sampai malam.”

Saya mencoba mengira-ngira apa yang menjadi kemauan si tukang parkir. Sebenarnya jasa tukang parkir ini juga bukanlah parkir yang legal karena mereka juga tidak menunjukkan bukti karcis parkir, selain itu di karcis parkir tersebut tidak diberi keterangan berapa jam harus lamanya kendaraan diparkir. Saya hanya merangkum kalau tukang parkir atau apa pun lah itu selalu menyetor uang tiap harinya, bahkan di kantor saya pun juga membayar uang jasa keamanan yang bahasa lainnya uang preman. Begitu saya tahu berapa nominal uang itu, wah lumayan.

Sama halnya, tukang “jaga parkir” mobil angkot. Setiap harinya setiap angkot yang masuk ke trayek pasti akan menyetor uang setidaknya 10 ribu setiap harinya ke mereka yang disebut “tukang jaga”.

Entahlah, begitu banyak harapan untuk Indonesia maju. Seperti harapan sistem lalu lintas yang lancar dan tertib. Tidak semua orang ingin saling mendahului, lebih perbanyak menggunakan akses angkutan umum dibanding kendaraan pribadi. Sehingga setiap harinya tidak mendengar atau membaca berita orang mati sia-sia terlindas, seperti beberapa teman saya yang mati menggenaskan karena terlindas bus.

Balik lagi ke paragraf atas. Barangkali hal seperti ini memang pemandangan yang biasa di tengah kesibukkan orang sama kegiatan masing-masing.

Iklan

4 pemikiran pada “Tampak Seperti Biasa-Biasa Saja

  1. bagi saya yang pernah tinggal di Korea selama 3 tahun…sering kali bersedih melihat perilaku orang2 indonesia yang kurang punya sopan -santun—sebuah negara yang katanya dilandasi adat ketimuran yang sarat dengan sopan santun, budaya antri dan budaya menempatkan pada posisinya masing2 masih kurang sekali — bahkan untuk seorang tukang parkirpun….masih bisa berlagak menguasai hak orang lain

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s