Menginjak Kaki Belajar Sejarah di Kampung Al Munawar 13 Ulu Palembang


Menyambut perhelatan besar Asian Games 2018 nanti, tentunya mulai dari sekarang pemerintah kota Palembang mulai berbenah diri untuk menyambut tamu dan wisatawan luar yang akan datang melihat keindahan kota Palembang. Lewat inisiator Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, Irene Camelyn Sinaga mengajak para Netizen Palembang untuk ikut menyukseskan dan mengenalkan Palembang. Sebagai putra daerah, saya sendiri pun merasa terpanggil untuk ikut mengenalkan Palembang.

Tepatnya Minggu kemarin (24/01), saya pun bersama rombongan ala-ala yang terdiri dari Mira, Chua, Cucut, dan Jony berangkat menuju ke Kampung Al Munawar 13 Ulu. Walau gravitasi cuaca pagi memang membuat enak untuk tarik selimut sehabis hujan, namun mengingat misi maka kegiatan pun terlaksana. Sebagai informasi, Palembang terbagi menjadi dua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang dihubungkan lewat Jembatan Ampera. Artinya jika kita akan menuju Kampung Al Munawar, kita akan melalui Jembatan Ampera menuju ke arah Plaju, masuk melalui jalan Telaga Siwidak dan berjalan lurus. Sepanjang jalan tersebut kita akan bertemu TPU Naga Siwidak. Bertemu dengan persimpangan, pilih ke arah kiri dan kampung Al Munawar terletak setelah melewati dua jembatan.

Sekilas, di TPU Naga Siwidak juga terkenal sebagai Pasar Pocong. Uniknya pasar ini berjualan di lokasi kuburan sehingga aktifitas belanja dilakukan di sepanjang kuburan.

Begitu sampai di lokasi kampung, pemandangan rumah-rumah kayu dengan jendela dan pintu tinggi menyambut kami. Tampak dari luar anak-anak sekolah yang semangat membantu warga membersihkan kampung mereka. Pembersihan kampung ini berfokus untuk membersihkan eceng gondok yang mengenang di sekitar kawasan rumah. Di lokasi juga tampak Ibu Irene dan Bapak Nurhadi, selaku Arkeolog sepuh di Palembang yang sedang berbincang mengenai sejarah kampung Al Munawar yang lebih dikenal sebagai kampung arab.

Hasil kerja bersama warga kampung Al-Munawar 13 ulu

Hasil kerja bersama warga kampung Al-Munawar 13 ulu

Budaya Masyarakat Kampung Arab

Menurut info, terdapat sekitar 30 kepala keluarga yang ada di kawasan kampung Al-Munawar. Saya sempat bertanya ke Mas Novri, sebagai Antropolog mulai dari sejarah lama tumbuhnya kampung yang berada di tepi Sungai Musi. Mayoritas memang penduduk disini adalah keturunan arab yang khas kalau lelakinya akan tinggi, hidung mancung, bulu mata tebal, dan berbulu dada. Sedangkan wanitanya cantik dan mancung.

Meski mereka melakukan adaptasi terhadap lingkungan saat bermukim di Palembang, masyarakat kampung Al Munawar ini memiliki kebudayaan mereka tentang pernikahan. Menurut kebudayaan mereka, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki Pribumi (masyarakat dari daerah sekitar). Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan Pribumi. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki Pribumi akan dianggap aib oleh masyarakat Kampung Arab Al Munawar. Oleh sebab itu jika perempuan keturunan Arab menikah dengan laki-laki Pribumi, maka garis keluarga akan terputus hanya pada perempuan tersebut, karena laki-laki Pribumi tidak memiliki darah keturunan.

Menikmati Arsitektur Timur Tengah dan Eropa

Tidak perlu kaget begitu masuk ke perkarangan kampung Al Munawar, keseluruhan rumah berkonstruksi panggung dengan menggunakan bahan kayu unglen dan sebagian lagi menggunakan batu secara keseluruhan. Rumah yang ada di kampung ini telah mendapat sentuhan Timur Tengah dan Eropa, terlihat dari bentuk tangga yang ulir baik tangga di luar rumah maupun di dalam.

Bangunan yang masih tampak asli dan hampir lebih dari 200 tahun.

Bangunan yang masih tampak asli dan hampir lebih dari 200 tahun.

Jika mengutip kata Syahrini, terpampang nyata bahwa rumah di perkampungan ini sudah berumur di atas 200 tahun dan belum tersentuh perbaikan yang mayor. Di antara beberapa rumah kayu yang saya lihat, ada satu rumah yang disebut Rumah Batu, karena hanya satu rumah ini yang lantainya menggunakan batu marmer dan tegel. Uniknya motif tegel lantainya masih awet dan terawat. Ada satu penduduk yang mengatakan, dulunya saat terjadi perang rumah batu ini menjadi rumah singgah penduduk setempat untuk berlindung di ruang bawah tanah yang terdapat di dalam rumah.

Nama Al-Munawar sendiri berasal dari Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawar, tokoh sepuh yang membawa ilmu Islam di kampung tersebut. Pada saat di sana, kita bertemu dengan seorang ibu yang diyakini sebagai generasi ke-4 yang mendiami rumah habib Al-Munawar. Di dalam perkampungan ini juga ada sebuah sekolah madrasah yaitu Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar. Lokasinya persis tepat menghadap jalan masuk kampung Al Munawar. Agak kaget begitu sadar kenapa hari minggu ada kegiatan sekolah, setelah bertanya ke teman muslim mereka bilang mengacu ke ajaran islam. Sehingga hari Jumat mereka libur sekolah.

Tadinya rumah ini adalah tempat tinggal orang namun dijadikan sebagai sekolah, begitu masuk ke dalam, saya pun mengekplore setiap ruang yang dijadikan kelas. Nampak anak-anak dengan senang menerima kedatangan kami.

Pesona anak gadis Kampung Al-Munawar

Pesona anak gadis Kampung Al-Munawar

Jika kita berjalan ke arah depan, akan nampak sebuah masjid di tepi Sungai Musi. Masjid ini dikenal sebagai Masjid Al-Munawar dan di sebelahnya terdapat sebuah rumah panggung yang menjadi lokasi syuting film Ada Surga di Rumahmu karya Ustad Alhabsyi. Menurut info warga, rumah yang dijadikan lokasi syuting tersebut adalah rumah dari neneknya Ustad Alhabsyi sendiri.

Saat kami mau berpisah dengan warga, tiba-tiba kami ditawarkan untuk melihat sebuah Al-Quran tua yang terbuat dari tinta emas. Tentunya mendapat tawaran langkah tersebut kami merasa enggan untuk menolak. Fisik dari al-quran masih terawat walau ada beberapa lembar yang bolong akibat terlalu lama disimpan. Dulunya, al-quran ini tidak boleh diperlihatkan ke sembarang orang karena hanya ada 2 orang yang diijinkan apabila ada yang mau melihat. Makanya, beruntunglah kami diberikan ijin untuk melihat saksi sejarah lama kota Palembang di kampung Al Munawar.

Akhir kata, kampung Al-Munawar ini melepas rasa penasaran saya yang dulunya ingin mendatangi langsung namun ternyata lewat Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan saya mendapatkan informasi yang lebih bahkan bisa langsung berinteraksi. Harapan ke depan, semoga makin banyak sejarah Palembang yang bisa diungkap untuk menjaga kelestarian ke depan.

Last but not least, kampung ini sudah dijadikan cagar budaya oleh pemerintahan Palembang, bahkan lewat informasi internet yang cepat menyebar, mungkin akan banyak peneliti atau wisatawan yang datang untuk melihat langsung. Barangkali sebagai warga kampung akan merasa bangga karena kampungnya dihormati, semoga saja apabila kawasan ini menjadi cagar budaya dapat dimaksimalkan pelestarian dan pemeliharaannya, dan tentu pemeliharaan itu ada konsekuensinya logis kepada warga masyarakat disini.

Berpose bersama Mbak Mita Khacaka dan tim ala-ala #bpjs

Berpose bersama adik-adik madrasah, Mbak Mita Khacaka dan tim ala-ala #bpjs

Jadi kapan mau #eksplorepalembang di kampung Al-Munawar?

Iklan

19 pemikiran pada “Menginjak Kaki Belajar Sejarah di Kampung Al Munawar 13 Ulu Palembang

  1. Ping balik: Pesona Timur Tengah di Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang | Deddy Huang - Indonesia Travel Blogger

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s