Visit Tidore Island – Merekam Jejak Wisata Pulau Rempah


Berawal dari Raja Ampat ke Tidore

Bunyi hembusan air laut makin kuat terdengar. Kekuatannya mampu mengoyangkan panggung kayu tempat kami berkumpul. Dari arah dalam bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di antara pasir putih di Distrik Mansuar, Raja Ampat. Ini merupakan malam pertamaku tiba di Raja Ampat. Di saat rombongan lain sudah tertidur pulas karena lelahnya perjalanan menuju Raja Ampat. Malah justru saya sebaliknya sedang asyik mengobrol berdua dengan Bang Icad sembari menyantap “Ikan Terbang” yang dibakar oleh Usi, juru masak di rumah singgah kami.

“Ini kali pertama saya bang datang ke Raja Ampat,” ucapku membuka obrolan sembari mengeratakin daging ikan.

“Baguslah. Raja Ampat memang indah. Tapi Indonesia Timur memang punya keindahan sendiri,” balasnya sambil menghisap rokok di tangannya. “Sayang abang kamu cuma sebentar saja disini. Kalau dari sini dekat kita ke Maluku sana,” lanjutnya kembali.

“Memang dekat sama Maluku, bang? Bagian mananya?” tanya saya antusias.

“Ke Tidore dekat sekali bang.” Dekat? Saya berpikir dua kali makna kata “dekat” dari penduduk lokal. Jarak sering kali membuat kita salah menafsirkan ukuran dan lamanya perjalanan ke suatu tempat. Ternyata tersedia transportasi dari Sorong menuju Tidore melewati Ternate, Maluku Utara. Kita dapat menumpang di Kapal Kieraha I yang melayani rute Ternate – Sorong melewati Kabare dan Saonek – Raja Ampat. Namun, kapal ini jadwalnya masih terbatas harinya.

“Di sana juga punya perairan yang indah seperti Raja Ampat, bang.” Tanpa terasa obrolan kami pun semakin panjang dan saya mulai merasakan tubuh ini sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkannya. Pamit diri untuk beristirahat dengan pertanyaan-pertanyaan menggantung di dalam kepala. Perjalanan kembara ke timur memang tidak mudah sebab membutuhkan stamina yang baik.

Jariku sibuk mencari informasi mengenai Tidore, pulau yang dikenal sejak dulu memiliki rempah-rempah terbaik sehingga mendatangkan negara-negara lain seperti Portugis untuk menduduki Maluku saat itu. Memang benar adanya kalau Tuhan menciptakan Indonesia ketika sedang tersenyum. Ribuan pulau diciptakan menghiasi lautan Indonesia dengan panorama dan keindahan alam yang menakjubkan. Salah satunya adalah pulau di bagian timur negeri ini yang diberi nama Tidore.

Tidore Dalam Sejarah

Pelabuhan Bastiong

Pelabuhan Bastiong, Ternate pintu gerbang menuju Pelabuhan Rum, Tidore. Foto dari annienugraha.com

Selesai meng­­-update foto-foto perjalanan lewat Instagram, tak berapa lama muncul lah notifikasi dari Ai, teman kreatif yang kukenal lewat Instagram. Dia berada di Ternate, dekat dengan Tidore. Lewat posting fotonya saya dapat mengenal Tidore walau masih secuil tapi saya terpesona dengan keindahan alam pulau Tidore.

“Abang lagi di Raja Ampat kah? Mampirlah ke Ternate bang, Ai ajak jalan-jalan sekalian ke Tidore.” Inilah salah satu manfaat yang kurasakan apabila memiliki lingkaran pertemanan dari berbagai daerah. Layaknya memiliki saudara di tempat-tempat tersebut. Ai, temanku termasuk salah satu ngofa dalam bahasa Maluku artinya putra daerah yang ingin mengenalkan daerah mereka. Bahwa banyak potensi keindahan alam yang belum tersentuh untuk dinikmati seutuhnya.

Dalam perjalanan sejarah yang saya pelajari saat pelajaran Geografi, Pulau Tidore merupakan salah satu kota yang memiliki peninggalan kerajaan Islam sejak abad ke-7 dan keragaman budaya yang dimiliki masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Letak Tidore ada di sebelah selatan Ternate. Dulunya Pulau Tidore merupakan pemekaran dari Kabupaten Halmahera Tengah. Tidore memiliki struktur kerajaan yang sudah dikenal sejak berabad-abad silam.

Peta Tidore dalam Google Map

Kalau kita melihat dari peta Indonesia, Pulau Tidore nyaris tidak terlihat karena hanya berupa sebuah titik. Namun, sejarah punya catatan kalau sebelum kemerdekaan Republik Indonesia bahwa Pulau Tidore telah ada dalam bentuk sebuah kerajaan yang telah diakui oleh dunia. Kemudian, dengan rasa kebersamaan akhirnya melebur dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Barangkali nama Tidore belum familiar di telinga kita, padahal Tidore memiliki kisah dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari politik, budaya, ekonomi, dan sosial. Pastinya ada cerita Tidore pernah mengukir sejarah Indonesia saat kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang semuanya berdatangan dengan berbagai motif dan kepentingan masing-masing.  Termasuk saat Portugis yang mencoba mengadu domba politik antara Tidore dan Ternate demi maksud tujuan menguasai daerah. Pada saat itu hubungan kedua pulau menjadi meruncing.  Syukurlah masa tersebut sudah berlalu sehingga yang bisa kita nikmati sekarang adalah keberagaman antar masyarakat.

Sebagai salah satu kota yang memiliki peninggalan Kerajaan Islam sejak abad ke-7 serta lokasinya yang strategis. Akhirnya membuat nama Tidore menjadi incaran karena memiliki kekayaan hasil bumi rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis serta bumbu masak lainnya. Hal ini mengkondisikan situasi Tidore menjadi kota yang memiliki unsur ekonomi yang bernilai jual tinggi dan memiliki daya tarik tersendiri.

Pulau Tidore seolah dikepung oleh pulau-pulau kecil yang indah yaitu pulau Maitara, Mare, Failonga dan Woda dengan pelabuhan Rum sebagai pintu masuk menggunakan transportasi laut menggunakan kapal cepat sekitar 5 sampai 10 menit dari kota Ternate. Nampak jelas peluang pariwisata yang ada di Tidore sangat terbuka luas sehingga tidak terlepas dari karakteristik budaya yang dimiliki oleh ngofa Tidore.

Meski pun Kota Tidore telah bersentuhan dengan kehidupan modern, masyarakat Tidore dikenal sebagai warga sosial dan berbudaya yang masih memegang teguh tata nilai. Prinsip inilah yang kemudian disebut dengan adat se atorang. Sebagian besar suku Tidore memiliki mata pencaharian bercocok tanam, berladang, dan pedagang. Sehingga sistem kekerabatan sudah tertanam yaitu mengikuti garis keturunan ayah. Ini yang saya ketahui lewat obrolan dengan Ai.

Perjalanan 6 Hari 5 Malam di Tidore

Mari menikmati Pulau Tidore

Kepulauan Tidore bukan hanya melimpah akan rempah-rempat semata. Wisata alam serta aktraksi budaya yang ditawarkan oleh kota ini sangat menarik untuk digali lebih dalam. Mari diam sejenak untuk mengikuti cerita Pesona Tidore yang sebentar lagi akan kuceritakan? Saya ingin mengajak kita untuk berkeliling melihat keindahan Tidore yang namanya sebentar lagi akan dikenal oleh khalayak ramai. Yuk Visit Tidore Island!

1. Menjajal Negeri di Atas Awan di Puncak Gunung Kie Matubu

Membayangkan diriku punya foto seperti gambar ini di Puncak Gunung Kie Matubu 😀 Foto dari ilhamarch.blogspot.co.id

Coba bayangkan kita bisa merasakan belaian lembut semilir angin saat berada di puncak dengan ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut? Kie Matubu atau yang sering disebut sebagai Gunung Tidore merupakan gunung tertinggi di Maluku Utara. Dengan ketinggian tersebut kita dapat menikmati pemandangan yang luar biasa sehingga merasa diri ini tidak rugi selama pendakian yang panjang.

“Negeri di Atas Awan” begitulah sebutannya. Dari atas puncak Gunung Kie Matubu kita disuguhkan hamparan pemandangan pulau yang sangat mempesona seperti Pulau Ternate, Matiara, Hiri, Halmahera, Mare, Moti, Makian dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu, dari puncak gunung ini juga kamu bisa melihat kota Tidore. Untuk menuju puncak Gunung Kie Matubu dimulai dari perjalanan dari Pelabuhan Rum menuju Kota Soa Sio sekitar 45 kemudian dilanjutkan menuju Desa Gurabunga sekitar 20 menit. Setelah sampai di Desa Gurabunga, kita meminta izin kepada “Sohowi” atau Kepala Adat di desa tersebut. Jika kalian ingin melakukan pendakian dibutuhkan waktu lebih kurang 4 jam.

2. Belajar Kearifan Lokal dari Desa Gurabunga

Gurabunga

Salah satu rumah adat di Desa Gurabunga, Tidore. Foto dari Om Gogo

Naik ke Puncak Gunung Kie Matuba memang membutuhkan stamina yang kuat namun kita diganjar meihat pemandangan “Negeri di Atas Awan”. Apabila kita tidak ingin mendaki puncak gunung ternyata ada cara lain yaitu dapat belajar kearifan lokal dari Desa Gurabunga. Di tempat ini kita dapat menjumpai rumah adat masing-masing warga yang keasliannya masih terjaga hingga saat ini. Keberadaan rumah adat ini menunjukkan keharmonisan masyarakatnya.

Gurabunga adalah sebuah kelurahan yang berada di lereng Gunung Kie Matubu. Di Gurabunga inilah dikenal sebagai tempat tinggal para sohowi atau penghubung antara pihak Kesultanan Tidore dengan roh para leluhur. Berbagai latar belakang agama dan budaya yang di usung mereka tidak menjadikan kendala untuk saling menghargai dan tetap hidup dalam keharmonisan. Dan yang paling istimewa di desa ini adalah Rumah Adat para Sohi. Menarik sekali untuk didatangi dan mencari tahu sejarah rumah tersebut.

3. Menjelajahi Jejak Portugis di Benteng Torre dan Tohula

Saya senang sekali perjalanan sejarah karena dari sana lah awal mula kita berkenalan dan mengetahui sejarah kota tersebut. Tidore memiliki rekam jejak pernah dikuasai oleh Portugis karena kekayaan rempah-rempahnya. Sudah pasti masih ada rekam jejak bangsa Portugis yang tersimpan utuh di Tidore. Nah, salah satu saksi bisu yang masih ada sampai sekarang adalah Benteng Torre dan Tohula. Lokasi benteng ini berdekatan dan berada di dekat kota Soa Sio atau sekitar 30 menit dari Pelabuhan Rum.

Benteng Tahula merupakan peninggalan Bangsa Portugis yang terbuat dari batu gunung yang direkatkan dengan campuran kapur dan pasir. Sedangkan Benteng Torre terletak di atas bukit dengan ketinggian kurang lebih 60 meter di atas permukaan laut. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana dulunya kedua benteng ini menahan tiap serangan yang datang. Namun, kedua benteng ini memiliki beberapa spot lokasi foto yang instagramable!

Dari atas benteng kita dapat melihat pemandangan keindahan laut yang memisahkan Pulau Tidore dan Halmahera serta kota Soa Sio? Siapa tahu nanti kita bisa menikmati sunrise di pagi hari yang katanya memiliki pemandangan cantik.

4. Istirahat Sejenak di Air Terjun Sigela

Air Terjun Sigela

Merasakan sensasi Air Terjun Sigela. Foto dari @vhanhlim (instagram)

Air terjun memang selalu dapat menenangkan pikiran kita disaat galau atau merasakan hembusan kencang air yang turun dari atas mengenai pundak kita. Tidore juga memiliki pesona air terjun yang indah dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan sejuk. Air terjun ini mengalir ke beberapa sungai yang ada di sekitar Desa Sigela dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km dari jalan raya. Saya sendiri sudah tidak sabar untuk basah-basahan di Air Terjun Sigela serta merasakan sensasi dinginnya air khas pegunungan yang jernih serta kicauan burung yang melengkapi perasaan bahagia itu sederhana.

5. Wisata Alam Luku Celeng

Luku Celeng, Tidore

Wisata Alam Luku Celeng. Foto dari Herjati (Flickr)

Masih ada wisata alam lainnya yang dimiliki oleh Tidore yaitu Pesona Mata Air Luku Celeng yang merupakan sumber mata air yang berada di dataran tinggi Kelurahan Kalaodi tepatnya di Dusun Golili Kecamatan Tidore Timur. Cileng memiliki arti “dingin”. Walaupun jarak yang ditempuh untuk mencapai lokasi ini terbilang menantang karena kita diharuskan berjalan kaki 1,5 kilometer dari Dusun Golili. Namun, akhirnya kita akan dipuaskan dengan kesegaran air dari Air Terjun Luku Cileng dengan debit air ini tergantung musim.

6. Berjumpa Lumba-Lumba di Pulau Mare

Pulau Mare

Melihat aktraksi lumba-lumba di Pulau Mare. Foto dari Om Gogo

Tidore memiliki pulau-pulau yang memiliki panorama alam yang sangat indah. Sangat cocok untuk kita yang menyukai kegiatan snorkling melihat keindahan biota bawah laut di Tidore. Coba kalian bayangkan sewaktu snorkling ternyata ada lumba-lumba sedang berenang seolah menyambut kedatangan kita? Nah, Pulau Mare terkenal sebagai tempat peristirahatan lumba-lumba yang lebih dikenal dengan sebutan Kahia Masolo. Pulau yang terletak di wilayah Kecamatan Tidore Selatan ini merupakan destinasi terbaik bagi kita yang ingin bersantai  sore sembari menikmati lumba-lumba. Tertarik?

7. Snorkling Melihat Biota Indah di Pulau Failonga

Pulau Failonga adalah pulau kecil di Kepulauan Tidore dan tidak berpenghuni. Namun pulau ini memiliki keindahan alam yang dapat membuat decak kagum tiap kita yang sudah menginjakkan kaki ke pasir putih halus dan laut yang jernih. Saya iri sekali untuk bisa berenang di Pulau Failonga.

8. Menikmati Aktivitas Memancing di Pulau Woda

Letaknya di wilayah Kecamatan Oba, Tidore membuat Pulau Woda lebih dikenal sebagai pulau yang tak berpenghuni. Namun pada masanya Pulau Woda dulunya memiliki masyarakat dengan mata pencaharian utama penduduknya sebagai nelayan. Hingga akhirnya mereka semua dipindahkan oleh Pemerintah  ke Pulau Halmahera sehingga menjadi pulau yang tak berpenghuni.

Walaupun demikian, kita masih dapat melihat sisa-sisa bangunan peninggalan dari masyarakat Woda. Selain itu juga dapat menaiki bukit Pulau Woda untuk melihat pemandangan yang indah di sekitar Pulau Woda. Bagi kalian yang menyukai aktivitas memancing juga dapat mengikuti kegiatan memancing yang bakal menjadi aktivitas seru! 

9. Mandi Air Panas di Tepi Pantai Akesahu

Pantai Akesahu

Bermanja ria di kolam air panas di Pantai Akesahu. Foto dari anekatop10.com

Baru kali in saya mendengar ada pemandian air panas di tepi pantai. Umumnya sumber air panas ada di kolam atau gunung. Pantai Akesahu tidak jauh dari pelabuhan Rum atau sekitar 15 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Selain aktivitas bermain pasir, menikmati sunset di pinggir pantai ternyata daya tarik lokasi ini adalah sumber air panas yang dalam bahasa setempat disebut Akesahu. Katanya, kalau kita sedang berkunjung ke tempat ini bersama pasangan kita kemudian mengikatkan kain merah pada akar pohon yang tumbuh di sekitar sumber mata air dipercayai akan langgeng hubungannya. Lalu, saya harus ajak siapa buat mengikatkan kain merah? 😀

10. Melihat Kadato Kie dan Sisa Peninggalan Sejarah Tidore di Sonyinge Malinge

Kie Kedaton

Melihat gedung Kie Kedaton. Foto dari annienugraha.com

Kedaton Kie ini dibangun pada masa Sultan Muahmmad Taher yaitu Sultan Tidore yang ke-28 pada tahun 1812. Pembangunannya memakan waktu sampai 50 tahun. Akibat politik adu domba Belanda, keratin ini dirusak total pada akhir masa pemerintahan Sultan Syahjuan tahun 1912. Pada tahun 1997 dilakukan restorasi oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Maluku.

Museum Sonyinge Malige sementara ini berada di lantai dasar Kadato Kie, di dalamnya terdapat beberapa koleksi peninggalan Kesultanan Tidore diantaranya Tandu Sultan yang pada masa kejayaan Sultan Tidore biasa dipakai oleh sultan pada acara-acara tertentu. Selain itu juga terdapat peninggalan Al-quran tulis tangan yang ditulis pada tahun 1657 oleh Qalem Mansur. Museum Sonyinge Malige merupakan satu-satunya museum yang memamerkan peninggalan-peninggalan sejarah Kesultanan Tidore. Berbagai koleksi dapat kita nikmati lewat museum ini. Apalagi bagi saya yang menyukai sejarah tentunya menjadi kesenangan tersendiri tenggelam mengikuti kisah Tidore tempo dulu.

11. Menyaksikan Pesona Pulau Maitara Di Balik Uang Rp 1000

Melihat sendiri lukisan di balik uang pecahan Rp 1000. Foto dari diniapost.com

Pulau Maitara sudah dikenal oleh hampir seluruh Nusantara, karena terlukis indah di lembaran uang kertas Rp 1000. Bila kita melihat lembaran uang kertas Rp 1000 maka kita bisa menemukan lukisan pemandangan Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Ini merupakan suatu gambaran, begitu pentingnya keberadaan Pulau Tidore diantara ribuan pulau yang ada dalam wilayah Nusantara. Tentu saja, ini bukan semata keindahan alamnya yang luar biasa, akan tetapi Pulau Maitara juga memiliki budaya dan catatan sejarah yang menarik untuk diketahui. Pulau Maitara terkenal dengan keanekaragaman ikan serta terumbu karang masih terpelihara dengan baik.

12. Bermain ke Pasar Tradisional Goto

Salloi

Salloi, anyaman tas khas Tidore. Foto dari annienugraha.com

Cara saya berkenalan dengan penduduk lokal adalah datang ke pasar tradisional. Di pasar kita dapat menjumpai banyak orang dengan berbagai karakter masing-masing. Sering kali juga kita dapat menemukan barang dagangan mereka yang unik dan khas dari tempat tersebut. Potret pasar tradisional Goto di Tidore membuat saya ingin berkunjung melihat keberagaman yang ada selama ini di Tidore.

Lokasi Pasar Goto tidak jauh dari Pantai Tugulufa dan dibuka hanya pada hari-hari tertentu yaitu Selasa dan Jumat. Kita dapat melihat jualan para pedagang mulai dari batang sagu, biji kenari, rokok linting yang jarang bisa kita jumpai. Termasuk salah satu barang dagangan yang unik yaitu Salloi yang merupakan kreasi tas punggung berbahan dasar bambu. Bentuknya sekilas seperti topi petani kerucut dengan mengerucut ke bawah, namun Salloi menjadi karya pengrajin khas Tidore. Tas ini seringkali digunakan untuk membawa hasil panen pertanian seperti cengkeh, kopi dan sebagainya.Menurut informasi harga kriya tas anyaman ini dibandrol Rp 100.000.- Mau?

 

Warisan Kuliner Nusantara Khas Tidore

Indonesia bukan saja memiliki keragaman budaya melainkan kuliner enak yang memiliki sejarah di tiap makanan tersebut. Belajar gastronomi makanan membuat wawasan saya bertambah bahwa makanan bukan saja cantik untuk difoto melainkan dapat menjadi aset masa depan. Termasuk belum afdol rasanya kalau kita berkunjung ke Tidore tapi tidak menyempatkan diri untuk mencicipi makanan khas dari Tidore.

Gohu

Gohu. Foto dari jdfoodiary.blogspot.co.id

Sebagai provinsi yang terbentuk oleh kepulauan, pastinya membuat makanan khas dari Tidore tidak jauh dari hasil laut. Tidore memiliki ragam makanan khas yang terbuat dari ikan cakalang, namanya gohu cakalang. Gohu berarti rujak dalam bahasa Tidore. Jadi ada gohu yang terbuat dari sayur atau buah dan ada juga dari ikan. Gohu cakalang atau gohu ikan terbuat dari ikan cakalang mentah atau setengah matang lalu diberi sambal dabu-dabu. Gohu ini dapat dimakan dengan menggunakan sagu atau biasa yang disebut dengan papeda.

Papeda

Makanan ini bermanfaat baik buat kesehatan paru-paru. Foto dari jdfoodiary.blogspot.co.id

Makanan khas lainnya yang berasal dari Tidore yaitu Papeda. Sayang sekali kalau melewatkan mencoba kuliner khas dari daerah Indonesia Timur ini. Papeda termasuk dalam makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Bahan bakunya hanya dari sagu yang diadon dengan air panas kemudian diaduk hingga mengental. Teman makan Papeda yang enak dengan ikan kuah kuning yang dijadikan seperti sup ikan. Apalagi Papeda memiliki manfaat yang baik yaitu berfungsi untuk membersihkan paru-paru kita.

Kue Lapis Tidore

Kue Lapis Tidore

Kue Lapis Tidore. Foto dari okezone.com

Selain lauk-lauk dari ikan, Tidore juga mempunyai aneka kue yang enak seperti kue lapis Tidore. Kue lapis Tidore ini seperti kue bolu yang berlapis-lapis dan tiap lapisannya dioleskan gula merah dan selai kacang. Terasa nikmat sewaktu menyentuh di mulut perpaudan gula merah dan selai kacang. Humm… nikmatnya!

Pisang Coe

Pisang Coe

Pisang Coe. Foto dari blog.negerisendiri.com

Pisang Coe termasuk jajanan tradisional khas Tidore yang dapat dengan mudah didapat di pasar dan selalu ada di setiap kegiatan masyarakat Tidore. Berbahan baku sederhana seperti tepung terigu, santan dan pisang saja bisa disulap menjadi panganan ringan yang bisa membuat siapa saja tidak akan berhenti makan. Saya membayangkan Pisang Coe ini disajikan selagi hangat karena aroma kelapa, pisang dan santan akan terasa dan begitu nikmat.  Apalagi disajikan dengan minuman seperti teh atau kopi yang tidak terlalu manis.

Festival Tidore 909

Festival Tidore

Festival Tidore melihat Pelayaran Ritual Adat Lufu Kie. Foto dari inovasee.com

Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata Bahasa Tidore, yaitu To ado re artinya “Aku Telah Sampai”. Dulunya Tidore diperebutkan oleh Spanyol, Portugis dan Belanda karena kekayaan cengkeh dan palanya. Diusianya yang akan menginjak 909 tahun lahir sebagai pusat perdagangan rempat dan tumbuh sebagai pusat pemerintahan, dan menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam terbesar di Indonesia membuat Tidore memiliki wisata sejarah yang kaya wisata alam, budaya, hingga sejarah yang layak dikunjungi.

Tidore memang seperti “Mutiara yang Tersembunyi” sehingga pesonanya perlu didekati dan dirayu. Setiap tahun Kota Tidore mengadakan Festival Tidore yang merupakan pesta rakyat dan biasanya juga sekalian merayakan hari jadi Kota Tidore. Hal yang paling menarik dan bersejarah adalah menyaksikan Pelayaran Ritual Adat Lufu Kie. Ritual ini diadakan untuk mengenang kembali Lufu Kie yaitu gelar armada perang bagi yang berhasil mengusir VOC dari Tidore. Saat itu Kerajaan Tidore dibawah kepemimpinan Sultan Nuku berhasil mengusir keluar dari kepulauan Maluku. Sekaligus ungkapan rasa terima kasih Sri Sultan se I Bobato atas terciptanya keamanan, kedamaian, ketentraman hidup rakyat Tidore dengan dimeriahkan lewat kirab agung dan budaya Kesultanan Tidore.

Tarian Soya-Soya

Tarian Soya – Soya. Foto dari indonesiakaya.com

Bambu Gila

Aktraksi Bambu Gila. Foto dari Barry Kusuma

Salah satunya aktraksi budaya Tarian Soya-Soya serta Baramasuwen atau Bambu Gila merupakan peninggalan budaya yang sudah ada turun temurun. Tarian Soya-Soya mengisahkan tentang perang yang dilakoni oleh kaum pria, diiringi alat musik tifa dan gong. Memiliki makna untuk melepas dan menyambut pasukan yang pergi dan kembali dari medan perang. Tari Soya-Soya yang berarti pantang menyerah dan juga dapat dimaknakan sebagai penjemputan. Soya-soya adalah tarian asli karya masyarakat Maluku yang merupakan ungkapan kebanggaan mereka terhadap perjuangan para pendahulu mereka dalam mengusir penjajah. Saya membayangkan tarian ini dibawakan dengan suasana heroik dan bersemangat.

Sedangkan Baramasuwen atau Bambu Gila merupakan atraksi budaya yang menggunakan sebatang bambu dengan panjang sekurang-kurangnya empat ruas, sabut kelapa, kemenyan dan bara api. Tiap orang memegang bambu dan seorang pawang akan membacakan ritual sehingga seketika bambu yang dipegang akan terasa memiliki beban yang berat. Hanya anak keturunan Gurabunga yang dapat melakukannya. Percaya atau tidak, tapi ini ada di Tidore. Penasaran kan?

Damainya Tidore

Ayo ke Tidore 🙂

Tidore memiliki suasana yang jauh lebih tenang. Dengan ruas penataan jalan yang teratur dan unggul dengan kebersihannya. Tak heran kalau Tidore berhasil memenangkan penghargaan 8 kali penghargaan Adipura [1].

Untuk mencapai Tidore, Pelabuhan Bastiong di Ternate lah yang menjadi gerbang utamanya. Sebab Tidore tidak memiliki bandara lalu perlu waktu sekitar 10 menit perjalanan menyeberang laut menuju Pelabuhan Rum, Tidore. Tersedia dua transportasi yaitu kapal cepat yang beroperasi sepanjang waktu, atau kapal feri yang hanya berangkat 1 kali sehari untuk menuju Pelabuhan Rum.

Saya masih ingat sewaktu belajar Geografi di sekolah dasar tentang Tidore. Pulau-pulau yang ada di gugusan Maluku menjadi tujuan para pedagang Cina, Arab, India dan Jawa. Sebab tempat tersebut terkenal dengan rempah-rempat yang luar biasa kaya, salah satunya cengkeh. Rempah-rempah yang didapat dari Tidore nantinya dibawa ke daerah pedagang kemudian dijual dengan harga tinggi.

Sebagai destinasi wisata dalam negeri, pesona sejarah Tidore tidak pernah lekang oleh zaman, dan menjadi bagian dari sejarah Bangsa Indonesia. Tidore memiliki banyak benteng peninggalan sejarah, perairan indah yang belum terjamah yang menanti untuk diselami, hingga para pengrajin gerabah yang menanti karyanya diapresiasi.

Bercerita tentang indahnya Tidore melalui tulisan ini membuat diriku semakin berkeinginan suatu saat nanti dapat menginjakkan kaki di Tidore dan bercerita kembali. Semoga. Ngofa Tidore, To Ado Re!

***

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis blog “Visit Tidore Island”. Informasi lomba Tidore Untuk Indonesia bisa diklik. Semoga kita bisa berkunjung ke Tidore bersama dan saya bisa berjumpa dengan Ai 😀

Referensi :
Buku “Explore the Enchanting Tidore”

[1] abadikini.com/read/20160722/alhamdulillah-kota-tidore-berhasil-meraih-tropi-adipura-2016

Iklan

91 pemikiran pada “Visit Tidore Island – Merekam Jejak Wisata Pulau Rempah

  1. Ping balik: Gurabunga, Mengenal Tradisi Masyarakat Pegunungan Tidore | Koh Huang

  2. Ping balik: Tidore Tempo Dulu, Sekarang dan Masa Depan | Koh' Huang

  3. wah jadi kangen ternate kalau liat duit seribu.tapi sayang belum sempat mengunjungi tidore waktu lalu.
    ohiya abang kemarin ga naik pelni yang lewat bacan kan lumayan agak cepet.kalau ga salah dorolonda dkk sering melintas sorong bukan?

  4. Jarak sering kali membuat kita salah menafsirkan ukuran dan lamanya perjalanan ke suatu tempat. Betul banget. Dari tulisan kamu ini, aku bisa tahu klo ada transportasi dari Sorong ke ternate. Jadi klo kita mau jelajah Indonesia timur bisa hoping islan sekalian.

    Dedi, tulisannya cakep banget sih, pantesss selalu menang lomba. Ntar kalau di Tidore jangan luupa panggil namaku 1000 kali di setiap pulau yang ada di Ternate. Jgn khawatir aku kasih permen pelega tenggorokan, hehehe

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s