BerandaIdeaTentang Rejeki Tak Pernah Tertukar

Tentang Rejeki Tak Pernah Tertukar

Author

Date

Category

Pagi itu, saya harus berlomba bersama waktu mengejar penerbangan ke Jakarta. Perlombaan mencapai garis akhir. Dari jam 4 subuh saya sudah bangun untuk menyiapkan agar segera tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Saya menyukai penerbangan pagi sebab, nanti tiba di tujuan saya masih ada waktu untuk berkelana.

Jadwal saya ke Jakarta menghadiri undangan launching ASUS dimajukan lebih cepat oleh sebab saya harus menghadiri penerimaan hadiah kompetisi menulis di kantor Badan Informasi Geospasial, Cibinong, Bogor. Tahukah kalian sebelumnya tentang Geospasial? Sama, saya juga tidak tahu :mrgreen: Akhirnya membuat saya mencari tahu sejenak tentang kalimat yang masih belum familiar bagi saya. Ternyata tulisan saya mengenai geospasial menjadi tiket untuk nanti ke Sabang.

Baru kali ini saya mendapat apresiasi penghargaan lomba yang bergengsi. Bagi saya bergengsi sebab mereka provide semua akomodasi saya dari Palembang hingga ke Cibinong.

Sopir taksol yang saya tumpangi melaju dengan kecepatan rata-rata 100km/jam menuju bandara. Sepanjang perjalanan saya hanya diam melihat jalan. Saya hanya khawatir terlambat, itu saja. Ada rasa canggung mulai saya sadari, namun untuk memulai obrolan dengan situasi berdebar terkesan garing. Akhirnya saya mulai juga untuk mengajaknya mengobrol walau sekedar obrolan ringan.

“Kalo dari bandara keluar masih pacak pesen taksol dak kak?” tanyaku membuat obrolan.

“Wah dak berani aku mas. Lagipulo biarlah, itu udah jadi rejeki mereka,” balasnya.

“Kok cak itu kak?”

“Cubo bayangin, mereka cuma di bandara bae kadang jarang metu keluar. Beda dengan kami yang masih biso keliling kota dapet orderan. Biarlah mas itu jadi rejeki buat mereka di bandara.”

Kepala saya mengangguk-angguk. Kata hati mulai mengajak berdiskusi tentang ucapan dia.

“Syukurlah tidak telat, cuma 15 menit saja kita sampai.” Senyumnya dan saya mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan saya ke bandara.

Duduk di samping jendela pesawat adalah kesukaanku.

Perjalanan lintas udara ini membawaku tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kota metropolitan yang sedari dulu menjadi impian saya untuk merantau. “Hai, aku kembali,” batinku berseru. Saya memesan taksol berlogo burung biru dari bandara menuju Bogor. Seperti biasa, saya termasuk agak canggung kalau cuma diam, maka saya pun mengajak ngobrol.

“Dari pagi pak nariknya?” tanya saya.

“Ah gak juga mas, hari ini agak siang juga keluarnya,” balasnya sambil saya melirik kemacetan yang menjadi pemandangan sehari-hari di kota Jakarta.

“Lho kok siang, nanti gak ketutup setorannya pak.”

Si bapak sambil tetap menyetir dan melewati tol menuju Bogor, dia melanjutkan ceritanya kembali.

“Percuma mas, kalau memang bukan rejeki kita mau sampai kapan pun juga gak akan dapat. Buktinya, saya dulu keluar pagi yang dapat cuma rute-rute dekat, paling 10 ribuan. Tapi bukan berarti kita tidak usaha. Sekarang saya lebih pasrah saja.”

Obrolan si bapak tersebut seperti terus terngiang-ngiang bagaikan lebah menyengat. Entah kenapa dalam satu hari tersebut saya mendapat ilham yang sama tentang rejeki yang mungkin tertunda atau bukan milik kita.

Saya tidak begitu mengindahkan obrolan kedua orang tersebut, sebab sudah harus disibukkan dengan beberapa acara serta trip pribadi saya ke Jogja.

Satu minggu setelah kepulangan saya ke Palembang, tiba-tiba saat di meja makan bersama mama, dia buka obrolan kamu itu kejar apa sih? Jika itu rejeki mu maka akan datang, jika tidak ya sudah jalanin saja.

Saking senangnya dapat plakat 😀

Saya mulai berkontemplasi diri.

Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba saya seolah mendapat pesan tentang rejeki? Mungkin kita terlalu giat untuk mengejar rejeki hingga lupa akan rasa bersyukur. Ya. Mensyukuri setiap berkat-berkat yang sudah pernah didapat.

Melupakan kebahagiaan-kebahagiaan yang sebenarnya ada di dekat kita, namun tertutup oleh ambisi untuk lebih lagi. Seseorang pernah bilang, bukan berarti kita tak boleh memiliki ambisi. Namun ingat, ambisimu suatu hari akan membunuhmu sendiri.

Saya berterima kasih pada dua driver taksol yang mengajarkan saya tentang rejeki tak pernah tertukar, selama kita berusaha dan berpasrah.

Be grateful for what God gave you. Always stay humble.

Deddy Huanghttp://deddyhuang.com
Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

45 KOMENTAR

  1. Tul skaliii rejeki gak prnah ketuker. Aku prnh jg baca stiker di tukang roti sepeda, tulisannya: “rejeki emang nggak kemana, tapi kalo nggak kemana-mana gimana mau dapet rejeki.” luar biasa ya bahan renungan itu emang sbnrnya ada di sekitar kita

  2. […] Penerbangan saya dimulai dari Palembang menuju Jakarta kemudian transit ke Medan dan Aceh. Lama-kelamaan saya jadi menikmati tiap penerbangan transit di bandara. Saya terbang bersama Rifky, mahasiswa jurusan geospasial di Yogyakarta. Ini adalah perjumpaan kedua kali setelah kami diundang ke kantor Badan Informasi Geospasial (BIG) di Cibinong, Bogor untuk penyerahan hadiah. […]

  3. ini aku setuju banget, koh.. aku suka banget bagian “Mungkin kita terlalu giat untuk mengejar rejeki hingga lupa akan rasa bersyukur. “, aku sebulan ini keluar dari pekerjaan yang bikin aku depresi sampai bikin aku lupa rasanya bersyukur. sekarang walaupun kerjaan ga sebergengsi sebelumnya, tapi setidaknya bikin aku mensyukuri arti hidup. cheers! 😀

  4. Selamat koh menang lomba, sangking senengnya sampai terbalik hahaha

    Bahas soal rejeki, semua emg sudah diatur tinggal kita mau cari atau enggaknya, yg ptg usahanya dan tetap bersyukur

    Ah aku kdg suka canggung juga kalo naik taksi dan gak ngobrol dg supirnya, kdg meski cuma basa basi seengaknya ada hikmah yg bisa diambil.

  5. Bebas bernafas, memiliki badan sehat dan keluarga yang hangat juga merupakan rejeki yang terkadang kita lupa menghitungnya, hanya karena mereka tak berwujud nominal 🙂

  6. Rezeki itu sudah dijamin untuk semua makhluk, tugas kita adalah menjemput dengan usaha dan doa terbaik. Jangan lupa berbagi kebahagiaan dengan orang lain, seperti makan-makan misalnya. hehe. Becanda Koh=)

  7. Tulisan ini jadi pengingatku belakangan ini. Ada beberapa hal yang gak berjalan sesuai rencana. Tapi aku berusah meyakinkan diri kalau nanti ada waktunya aku dikasih rejeki yang berkali2 lipat. Amieeen ?

  8. Yang ikhlas aja, asal udah berusaha, rejeki gak ke mana. Itu pesan buatku hehe. Dulu sempet ngedumel karena aku selalu jadi anak bawang, kerja keras tapi duite gak ada. Sekarang mah bodo amat, kerja kerja aja, kalo udah rejeki mah bakal ngikutin, kalo gak rejeki mah mau dikejar ke ujung dunia juga gak bakalan dapet. Ngomong apa sih aku ??

  9. Beberapa pengusaha yang pernah aku temui dengan cara berbeda cerita kalau rejeki itu ada di tangan Tuhan. Tugas kita cuma memantaskan diri untuk mendapatkannya. Nah, orang miskin dan kaya yang aku lihat beda di cara mereka mikir rejeki. Dan hal tadi berpengaruh ke cara mereka mencari rejeki.

  10. Bener mas… Malanya skr aku ga mau ngoyo.. Pokoknya asal penghadilan sebulan bisa cukup utk keluarga dan dibagi buat yg lbh membutuhkan, plus sedikit tabungan, sudahlah :D. Terlalu dikejar malah ntr ga bisa nikmatin hidup 🙂

  11. Ambisi bakal membunuhmu, makanya kadang ngerasa ga terlalu suka kompetisi karena khawatir takut ambisi dan takut gagal ?. Tapi kalo ga nyoba ga bakal tau. Makanya abis nyoba berusaha selo aja. Kalo rejeki ya bakal dateng, kalo engga mungkin disuruh lebih nyoba usaha lagi ?. Mimpi boleh, usaha harus, bersyukur wajib ?

  12. Aku selalu pegang prinsip ini, Koh. Bahwa rezeki tak pernah tertukar. Supaya aku ngga ngoyo. Supaya ngga iri akut dengan apa yang orang lain punya. Malah sekarang aku memilih untuk banyakin bersyukur aja. Dan melihat semua pencapaian orang di luar sana karena memang ‘masa’ nya mereka?.

  13. Keknyo ini ado yang kepotong deh ceritonyo, tiba-tiba meloncat gitu. Tapi aku udah dapet intinyo dan sepakat nian. Gimana ya, kadang terkesan apa adanya & kurang giat, tapi bener banget deh mau sekeras apa pun usaha kita kalau emang udah takarannya segitu ya bakal seegitu. Dulu aku terobsesi nian melok banyak lomba, tentu dengan harapan menang dong. Dari situ, yang menarik buatku, posting-posting yang ditulis dengan senang hati & aku merasa cocok dengan temanya itu yang selalu menang. Sisanya, yang gak menang, bukan berarti gak aku tulis dengan sungguh-sungguh. Tapi biasanya aku gak terlalu suka dengan topik lomba, dan orientasi utama ya cuma pengen dapet hadiah.

    Dari sini aku mikir, yang terpenting adalah lakukan sepenuh hati apa-apa yang kita sukai. Karena kalo kita sudah suka, ngerjainnya bakal enak & sepenuh hati walaupun seringkali kita gak dapet apa-apa secara materi. Insya Allah, dari situlah bakal kebuka jalan buat di masa depan.

  14. wah keren sekali dapat apresiasi dari BIG! Salut mas, kemarin-kemarin saya lagi sibuk kerjaan dengan BIG tentang MoU dengan pemerintah daerah wahahahaha..

    rejeki emang tidak pernah tertukar mas, cuma perlu sabar dan tetap istikomah mencari rejeki.. hihihi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Deddy Huang

As a digital creator, this blog discusses topics related to traveling, culinary, product reviews and digital marketing. The articles on this blog provide many tips and recommendations based on personal experience.

This blog also opens up opportunities for collaboration. Contact me at [email protected]

Artikel Populer

Komentar Terbaru