#GueBrani : Mengatasi Rintangan Diri Sendiri (Day 1)


Pernahkah kalian berada di sebuah labirin dan tidak tahu ke mana arah jalan yang harus dipilih. Kiri, kanan, depan, atau belakang. Memilih untuk berdiam diri atau memutar balik arah. Mencari jalan keluar lalu tersesat. Semua pilihan ada di tangan kita saat sedang berada di posisi baru. Membayangkan diri seperti Thomas dalam Maze Runner. Bagaimana intuisi berperan untuk mencari tahu apa yang ada di dalam labirin tersebut hingga bisa keluar dengan selamat.

Sebagai orang yang baru bergabung di departemen Training Executive, saya mungkin seperti Thomas yang masih meraba-raba di dalam labirin. Tidak tahu harus melakukan apa, mengenal isi kamar-kamar yang ada di dalam “labirin raksasa”. Satu kesempatan baik yang saya tangkap ketika Mas Yoga memberitahu saya untuk mengikuti #GueBrani, program yang saya sendiri tidak tahu apa tujuan dan maksudnya. Lalu, saya harus menolak? Ya jelas tidak.

Bertemu Orang Baru Itu Menyenangkan

wahana permainan bremgra

Wahana permainan indoor Bremgra BSD City

Dari luar, bangunan Bremgra terlihat biasa-biasa saja. Barangkali orang yang lewat tidak tahu kalau di dalamnya ada sarana olahraga panjat dinding yang berada di dalam ruangan tertutup. Berlokasi di daerah BSD yang terbilang cukup jauh dari Jakarta membuat para peserta #GueBrani mulai berkumpul dari pukul 8 pagi.

Dalam ruangan pertemuan, saya bertemu orang-orang baru yang asing saya lihat. Mereka adalah bagian dari kamar-kamar yang ada di labirin raksasa. Ada satu sosok orang yang menarik perhatian saya. Orang tersebut sudah saya kenal, apalagi sama-sama berasal dari kota yang sama yaitu Palembang. Penampilannya sederhana, berkaos putih, celana cargo, rambut putih yang semakin mempertegas penampilannya bahwa saya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan sosok orang yang humble seperti Krisnamurti.

Gue Berani, Lo?

Suasana kelas sebelum memulai kegiatan

Tidak seperti materi Krisnamurti biasanya yang menggunakan media slide presentasi. Dia memberikan gambaran tentang apa yang diinginkan oleh perusahaan lewat #GueBrani kemudian mencoba menerjemahkan isi pesan tersebut lewat permainan panjat dinding. Kami mulai dibagi kelompok baru yang berisi sejumlah orang sebelum bermain panjat dinding.

Suara dari tiap orang mulai saya dengar, kecemasan mereka bisa saya rasakan namun ada juga yang sudah bersiap dari awal. Saya mulai mendengar instruksi keselamatan sebelum panjat dinding. Area bermain di Bremgra diperuntukan bagi siapa saja baik dewasa maupun anak-anak, dengan syarat berat badan tidak kurang dari 20 kg dan lebih dari 120 kg.

Permainan panjat dinding ini sekilas tampak mudah, namun tekniknya bertumpu pada kedua kaki kita untuk mendorong ke atas, bukan kedua tangan yang mencengkram kuat. Semua peserta #GueBrani memiliki strategi masing-masing agar dapat berhasil naik sampai ke atas. Stamina mereka seolah belum habis. Namun, nyatanya tantangan dibuat tak semudah yang dipikirkan. Ada tiga zona dengan skor dan ketinggian berbeda yang harus dicapai. Tiap zona yang berhasil dinaiki harus turun dahulu setelah mengambil skor. Hingga berhasil naik ke zona terakhir, semua peserta harus mengambil kemeja sebagai tanda berhasil. Mudah kan?

wahana permainan bemgra

Dinding setinggi 12 meter untuk dipanjat

wahana permainan bemgra

Mendengarkan instruksi dari petugas Bremgra

wahana permainan bemgra

Semua peserta berusaha naik ke atas untuk menyelesaikan misi

“Ayo, kamu pasti bisa!”

“Naik terus ke atas!”

Suara-suara lantang mulai menyemangati masing-masing peserta. Saya sendiri tidak tahu apakah ada suara yang menyemangati diri saya. Yang saya tahu bahwa saya harus bisa naik sampai posisi atas dan mengambil kemeja. Beberapa peserta mulai tampak lelah dan menyerah, seolah mereka tidak sanggup lagi untuk melanjutkan tantangan hingga zona terakhir. Bahkan, ada yang sanggup bertahan lebih dari 10 menit di atas karena tiba-tiba rasa takut menyerangnya untuk tidak turun ke bawah. Adegan tersebut cukup dramatis, bagi saya.

Berawal dari Kita

Seorang perempuan berambut panjang, cantik dan percaya diri. Saya tidak tahu siapa dirinya, hanya saja saya sempat melemparkan senyuman. Namun, ketika dia memperkenalkan dirinya sebagai Head of Human Resources, saya pun terdiam. Maklum anak baru.

Ketika perusahaan memiliki visi dan nilai, sudah pasti kita yang berada di dalamnya juga mengikuti kemana nahkoda membawa. Layaknya kita naik sebuah kapal. Perusahaan ini termasuk perusahaan unik dan berani beda yang membuat saya berpikir mengenai change the way people feel about insurance. Bagaimana perusahaan asuransi digital ini merubah cara pandang masyarakat tentang asuransi hidup. Tentu ini bukan tugas yang mudah untuk dijabarkan, namun saya melihat program #GueBrani unik karena berawal dari kita untuk kita, dari ME, WE dan US.

Tanpa kita sadari, diri kita memiliki potensi kekuatan tersembunyi yang harusnya kita bisa namun karena self talk membuat kita ragu akan kemampuan diri sendiri. Berapa banyak orang-orang yang ragu untuk panjat dinding dan tidak yakin kalau mereka bisa capai sampai ke atas? Saya hanya tanyakan pada diri ketika sedang menaiki tiap titian batu, what i can be to be different, be the collaborator, be the challenger, be the performer, and be the champion.

Sekian tahun lama, bisa berjumpa dengan Krisnamurti

Kalian hanya punya waktu 5 detik untuk membuat internal dialog dan unconscious communication hingga ketika ingin memutuskan untuk menyerah atau bertahan sampai atas. Resiko yang dihadapi, jika saya tidak sampai ke atas, saya tidak dapat kemeja, saya juga akan mengurangi poin kelompok dan saya tidak bisa performa dengan baik. Maka, saya mulai berkata pada diri sendiri, gue pasti bisa!

Belajar hal-hal baru dari #GueBrani yang mana program tersebut merupakan batch terakhir. Ketika pekerjaan kita terasa berat, maka ingatlah kalau proses tidak akan mencederai hasil. Bayangkan rasa bangga ketika berhasil capai ke atas dan mengenakan kemeja #GueBrani

Gue berani, lo?

Iklan

Satu pemikiran pada “#GueBrani : Mengatasi Rintangan Diri Sendiri (Day 1)

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.