review nikon z50

10 Alasan “Pindah Agama” dari Kamera Sony A7ii ke Nikon Z50

Memutuskan “pindah agama” dari Sony ke Nikon adalah pilihan yang tidak mudah. Beralih brand artinya kalian juga perlu memikirkan biaya sampai aksesoris yang sudah dimiliki. Teman-teman di komunitas foto pun kaget ketika saya pindah agama ke brand lain.

Mengapa saya beralih brand? Apakah brand yang sebelumnya saya pakai ada masalah?

Tulisan ini bukan tulisan sponsor, murni untuk berbagi pengalaman.

***

Sebelumnya saya pengguna Sony A7II yang sudah saya gunakan selama 2 tahun. Banyak kenangan yang terekam dalam kamera tersebut. Bodi kamera Sony A7ii ini gagah, pas lagi pakai orang awam suka langsung takjub sama desain bodinya yang wow. Apalagi kalau ditambah pakai lensa yang gede.

Sensor kamera Sony A7ii sudah Full Frame artinya hasil gambar bisa lebih tajam dan bisa digunakan untuk cetak ukuran besar. Hanya saja kekurangan dari kamera Full Frame adalah lensanya yang di atas 10 juta, sekitar 20-30 juta jika ingin hasil maksimal.

Untuk kualitas kamera Sony saya tidak meragukan. Akurasi kontras warnanya baik. Tinggal dipadukan dengan lensa pilihan.

Lensa full frame SONY yang saya gunakan SONY FE 50mm dan SONY 24-70MM. Namun, lensa 50mm saya jual buat menutup biaya harian selama pandemi. Lensa ini udah pernah saya ulas dan bisa kalian baca review Sony FE 50mm.

Mengapa Pindah dari Sony ke Nikon?

review nikon z50
Saya difoto oleh teman saat sedang melihat Nikon Z50 pertama kali

Singkat cerita, saya datang ke toko kamera milik teman selepas memotret pernikahan teman saya. Lalu, ditawarkan mencoba seri terbaru Nikon Z50 kelas kamera mirrorless. Kamera Nikon Z50 ini termasuk seri APS-C dari Nikon. Entah apa yang merasuki pikiran saya saat memegang kamera tersebut pertama kali.

Alasan utama saya ketika memutuskan beralih dari Sony ke Nikon tidak muluk-muluk.

Pertama, budget untuk upgrade lensa atau kamera. Kondisi pandemi sekarang income saya masih belum stabil. Apalagi sebagai freelancer dan juga fotografer makanan yang masih baru saya masih berusaha untuk menjual karya.

Saya dihadapkan pilihan untuk upgrade ke seri satu level di atas kamera Sony A7ii seperti Sony A7iii atau beli lensa fixed kembali seperti Sony 90mm macro atau minimal Sony 55mm.

Dan, kondisi yang serba tidak menentu ini akhirnya saya pikir memang membeli lensa adalah jawaban. Sebab, lensa 24-70mm hasilnya kurang maksimal untuk kebutuhan fotografi makanan. Karakter lensanya juga mempengaruhi hasil.

Tapi saya juga berjumpa dengan problem yaitu, bagaimana saya bisa punya lensa baru sedangkan saya belum punya pemasukan?

review nikon z50
Pertama kali unboxing Nikon Z50

Kedua, teknologi kamera Sony A7ii ini merupakan teknologi 6 tahun lalu. Kamera sekarang sudah banyak fitur baru. Bukan berarti kamera ini tidak bisa dipakai, cuma kalau ingin mengikuti perkembangan teknologi memang boleh dikatakan ketinggalan jauh.

Dari dua alasan ini, saya pun beralih dari kamera Sony A7ii menjadi Nikon Z50 dengan menambahkan lensa AFS Nikon 35mm.

Nikon Z50, Kamera APS-C Mirrorless Kualitas Baik

review nikon z50
Nikon Z50 Indonesia

Selama pemakaian 3 bulan lebih menggunakan Nikon Z50 sebagai kamera utama. Saya merasa keputusan saya berpindah kamera saat pandemi ini dirasa sudah tepat sesuai kondisi dan budget saya.

Apa saja kesan-kesan saya selama menggunakan kamera mirrorless terbaru dari Nikon ini?

Tahun 2020, terlihat Nikon tidak mau ketinggalan dalam merilis kamera mirrorless yang bukan hanya untuk merekam video dengan kualitas bagus, tapi juga foto.

review nikon z50
Pertama kali handle projek foto menu klien pakai Nikon Z50

Kebutuhan kamera semakin hari semakin dibutuhkan, harganya pun bervariasi sesuai budget yang disediakan.

Nikon yang merupakan produsen kamera asal Jepang ini menyematkan Nikon Z50 dengan spesifikasi mulai dari resolusi 20.9MP DX-Format CMOS Sensor, EXPEED 6 Image Processor, UHD 4K and Full HD Video Recording, dan bentuk compact dan ringan.

1. Resolusi 20.9MP

Nikon Z50 merupakan mirrorless APS-C seri Z pertama. Dan, sensor pada Z50 ini juga pernah disematkan pada seri D500.

Resolusi 20.9 MP ini sudah cukup banget buat kalian untuk cetak ukuran banner atau buku menu. Bagi saya sudah cukup juga untuk kebutuhan saya.

Apalagi Nikon Z50 sudah menggunakan Z mount yang memungkinkan sensor format DX mendapatkan lebih banyak cahaya. Hanya saja bodi Nikon Z50 belum memiliki stabilizer. Cara saya mengatasinya dengan menggunakan tripod atau lensa jenis VR.

Format DX adalah notasi Nikon untuk kamera dengan sensor berukuran APS-C, ukuran yang sedikit lebih kecil dibanding full frame dan memiliki faktor focal length 1,5x.

2. EXPEED 6 Image Processor

Memanfaatkan mesin pemroses gambar EXPEED 6 yang baru, Nikon Z50 ini bisa mencapai rentang sensitivitas standar ISO 100-51200, mengurangi noise secara efektif bahkan pada ujung yang lebih tinggi dengan tetap mempertahankan resolusi.

EXPEED 6 menghasilkan foto dan video yang lebih tajam, sekaligus mengurangi noise secara efektif.

ISO yang tinggi ini bisa membantu kita saat memotret dalam kondisi minim cahaya. Beberapa kali mencoba menggunakan ISO tinggi hasilnya cukup baik, memang ada noise namun masih bisa diterima.

Dan, saya suka sekali sama kecepatan autofokus kamera Nikon Z50 ini untuk mendeteksi objek-objek bergerak. Untuk di firmware terbaru, kita bisa mendapatkan fitur autofokus untuk hewan. Keren bukan!

3. UHD 4K and Full HD Video Recording

Untuk kamera harga 13 juta seperti Nikon Z50, menurut saya fitur rekam video sudah 4K ini cukup menggoda. Dulu ketika saya membeli Sony A7ii seharga 18 juta, belum bisa perekaman hingga 4K.

Secara performa, Nikon Z50 mampu merekam video 4K di 24p, 30p dan maksimal 120fps dalam resolusi full HD. Selain itu mampu memotret 11 frame per detik saat di mode continuous.

Memang untuk kebutuhan saya, perekaman 4K masih jarang saya gunakan. Karena saya lebih banyak menggunakan untuk fotografi dibanding videografi. Tapi, kalau punya kamera dengan fitur 4K dan harga murah, kenapa tidak?

4. Bentuk Compact dan Ringan

review nikon z50
Bentuk body compact dan nyaman digenggam

Poin ke empat ini merupakan selera saja. Bisa disukai bisa juga tidak disukai.

Waktu pertama kali pegang hand grip Nikon Z50 ini saya langsung jatuh hati karena terasa nyaman dibagian hand grip, pas di telapak tangan dan pengoperasian satu tangan.

Saat pegang, kita cepat adaptasi dengan tombol-tombol sehingga memberikan pengoperasian yang mudah dan nyaman.

Bukan berarti kamera APS-C Nikon Z50 dimensinya lebih kecil. Mungkin mereka memikirkan bagi pengguna Nikon seri lawas dari menggunakan DSLR, sehingga Nikon telah memprioritaskan bentuk handgrip yang lebih baik, dengan mengorbankan ukuran body kameranya.

Bentuk yang compact ini memudahkan saya untuk membawa kamera Nikon Z50 ke manapun bahkan untuk diselipkan dalam ransel. Selain itu, kalau saya ingin melakukan street photography pun nyaman, bentuk kamera tidak terlalu bikin orang lihat jadi terintimidasi.

5. Adapter FTZ Mount

Ini poin yang jadi pertimbangan saya selanjutnya. Kehadiran Nikon Z mount dengan adapter FTZ ini memang semacam kolaborasi sesuai tagline yang dibawa, “The Collaborator”.

Keunggulan utama Z50 adalah penggunaan Z-mount, dudukan lensa bisa menggunakan semua lensa F-mount (DSLR) yang ada melalui adaptor opsional.

Namun, ada dua lensa yang khusus dibuat untuk format DX, yang diatur untuk banyak lensa lain ke depannya.

review nikon z50
Adapter FTZ Mount seharga 3 juta

Lensa-lensa itu adalah lensa 16-50mm f / 3.5-5.6, yang merupakan lensa kit standar, dan telefoto 50-250mm. Namun untuk kebutuhan saya, kedua lensa ini akan jarang saya gunakan.

Sebuah kejutan yang menyenangkan, saya memang bukan pengguna Nikon sebelumnya. Nikon ini merupakan brand ke 4 setelah saya gonta ganti kamera. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba Samsung, Olympus, dan Sony untuk kelas mirrorless.

Adaptor F-mount ke Z-mount ini memiliki koneksi elektronik penuh antara kamera dan lensa. Adaptor ini juga dilengkapi dengan aktuator mekanis untuk mengoperasikan apertur pada lensa yang dipasang. Artinya, lensa ini akan bekerja dengan lebih dari sekadar lensa tipe E terbaru yang memiliki aktuator apertur sendiri.

Artinya, kalau kalian sebagai kolektor lensa Nikon untuk DSLR masih bisa menggunakan lensa dengan bantuan adaptor FTZ mount ini di Nikon Z Series.

Tentu ujungnya akan berakhir ke harga. Harga lensa lebih murah dibandingkan lensa Z mount yang dikeluarkan Nikon. Saya masih bisa mencari lensa second dengan harga miring.

Artinya seri Nikon Z50 menawarkan semua ini dalam sistem yang disederhanakan dengan tingkat keandalan yang sama dengan Nikon D-SLR, dan performa optik superior dari lensa NIKKOR Z.

6. Cocok buat Vlogger

review nikon z50
Layar bisa di flip ke bawah

Kamera Nikon Z50 ini menggunakan sistem autofokus hybrid yang sama seperti Z6, dengan 209 titik AF pada sensor yang mencakup sekitar 90% dari frame dan dijanjikan untuk memberikan ketajaman dari ujung ke ujung.

Sensitivitas hingga -4EV dijanjikan untuk pemotretan cahaya rendah, dan ada juga Eye-Detection AF, yang seharusnya berguna ketika memotret orang.

Layarnya juga bisa dibikin flip ke bawah. Memang posisi ini akan sulit saat kalian menggunakan tripod karena akan menutupi. Solusinya pakailah SmallRig atau sejenis L-plate khusus Nikon Z50 yang harganya sekitar 500 ribu.

Selanjutnya, kamu tinggal mengganti dengan lensa Nikon AF-S 10-24mm saja sudah bisa digunakan untuk keperluan vlog!

7. Masih menggunakan kartu SD

review nikon z50
Menggunakan micro SD sehingga gampang untuk transfer data

Salah satu faktor hemat dengan membeli kamera Nikon Z50 ini adalah masih bisa menggunakan kartu SD dalam slot kartu tunggal. Saya bisa saja mampu membeli Nikon Z6, namun mungkin saya tidak mampu membeli kartu memori format XQD yang seharga 3 juta rupiah.

Eh iya saya lupa, nanti Nikon juga mengeluarkan Nikon Z6ii yang ternyata Nikon sudah mendengarkan masukan dari pengguna untuk mengganti slot memori dengan SD card. Menarik! Sehingga, pilihan ini sudah cukup bijak saya rasa.

8. Baterai

Menggunakan baterai jenis EN-EL25 baru untuk Nikon Z50, saya merasakan baterai kamera sangat awet untuk digunakan.

Masa pakai baterai setelah saya coba bisa bertahan di atas 300- shot. Apalagi ada fitur auto sleep saat tidak digunakan sehingga bisa menjaga baterai lebih lama.

Dalam praktiknya, ternyata saya bisa satu hari penuh untuk pemotretan rata-rata. Cuma, kalau kalian senang merekam banyak video sudah pasti baterai tidak bertahan lama. Kalian perlu membeli baterai cadangan yang harganya sekitar 1 juta rupiah.

Hal lain, kamera Nikon Z50 ini pun bisa diisi menggunakan powerbank apabila dalam kondisi terdesak. Sangat praktis bukan?

9. Konektivitas

Orang-orang saat ini ingin mendapatkan hasil foto untuk mereka upload ke media sosial. Makanya, fitur kamera yang memiliki wireless akan memudahkan kita untuk transfer gambar. Dan, Nikon memiliki aplikasi Nikon SnapBridge. Aplikasi ini memungkinkan kamu mengontrol kamera dan membagikan hasilnya dari jarak jauh.

review nikon z50
Aplikasi Snapbridge Nikon untuk transfer gambar

Nah, ada yang beda dari aplikasi milik Nikon ini yaitu pada saat transfer foto kita tidak perlu menunggu sampai selesai. Aplikasi ini bisa berjalan di belakang layar sehingga tidak akan memutus koneksi ketika kalian tidak sengaja menekan tombol kamera. Keren!

10. Sesuai Budget

Memilih kamera mirrorless saat ini bukan saja melihat brand tapi juga budget yang dimiliki. Saya sependapat kalau membeli kamera adalah belilah kamera termahal yang kamu mampu. Bukan berdasarkan range harga, karena di fotografi harga tidak berbohong. Kamera harga dibawah 10 juta, tentu hasilnya akan jauh dengan kamera di atas 10 juta. Tapi gimana cara kamu mengatasinya saja?

review nikon z50
Diajak sharing tentang Nikon bareng teman

Banyak brand yang bertebaran, kebutuhan kita masing-masing akan berbeda. Selain sesuaikan dengan budget pribadi, kalian juga bisa melihat pangsa pasar konsumen. Ibarat, kamu membeli kamera seharga 30 juta lalu kapan ingin balik modal. Melihat harga jasa fotografi makanan saja ada orang yang bisa menjual seharga 5-10 ribu rupiah.

Beberapa calon klien yang saya jumpai malahan beranggapan jasa fotografi makanan itu mudah dan murah. Benarkah?

Kesan Selama Pemakaian Nikon Z50

Masa pandemi ini, memang usaha jasa foto saya belum begitu lancar karena masih awal. Cuma saya juga tidak ingin menyerah soalnya masih harus menyicil bayar kamera dan lensa. Hahaha…

Harga kamera-kamera baru yang dikeluarkan oleh kedua brand ini bikin elus dada kalau kalian mengikuti.

Dan, saat ini Nikon Z50 adalah kamera yang saya andalkan untuk berkarya. Menggunakan kamera mirrorless APS-C untuk kebutuhan fotografi makanan, membantu UMKM atau pemilik cafe sudah cukup baik. Terima kasih karena kalian sudah mempercayakan produknya untuk difoto oleh saya.

review nikon z50

Oh ya, kalau kamu memang sudah menjadi penggemar merek Nikon atau mungkin punya salah satu DSLRnya, lalu lagi pertimbangkan untuk pindah ke mirrorless, maka Nikon Z50 cukup menggoda bagi kalian yang memang mencari kamera pertama dengan harga 13 jutaan rupiah. Atau, kalau kalian ingin versi Full Frame bisa melirik Nikon Z5 atau Z6.

Terakhir, mungkin saja kamera yang saya punya saat ini bukan kamera yang sempurna, tetapi ini adalah kamera yang sangat bagus di kelasnya, serta pilihan lensa banyak tersedia.

Doakan kalau nanti saya dapat rezeki bisa upgrade kamera atau lensa lagi.

Sony dan Nikon Saling Kolaborasi

Info terbaru yang dapatkan baik brand Sony dan Nikon mereka saling bertukar teknologi. Teknologi autofokus yang disematkan oleh Sony diberikan pada Nikon seri terbaru seperti seri Z. Sehingga akurasi dan kenyamanan buat pengguna Nikon bisa merasakan autofokus yang baik dan tidak ketinggalan momen.

Sedangkan Nikon memberikan nano coating pada lensa-lensa Sony khusus GM. Lensa nano coating ini jelas harganya lebih mahal karena lensa ini bisa memberikan karakter warna yang baik, selain itu juga handal untuk segala kondisi, sudah waterproof jika terkena percikan. Kedepannya tentu mereka akan menghasilkan kamera dan lensa yang baik bukan.

Akhirnya, kalian pilih Sony atau Nikon?

***

Kelebihan Nikon Z50

  • Ukuran yang compact, mudah dibawa kemana-mana
  • Bodi terasa kokoh dan tidak murahan
  • Hand grip enak dan mantap lah pokoknya
  • Saya suka aplikasi Snapbrigde yang stabil dan lancar
  • Sistem autofokus bekerja dengan baik
  • Kualitas foto dan video tajam dan detail
  • Tersedia menu silent/electronic shutter
  • Layar sentuh

Kelemahan Nikon Z50

  • Tidak ada pembersih debu sensor otomatis
  • Tidak ada sensor image stabilization
  • Layar LCD bukan di flip ke samping tapi ke bawah
Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1729

5 tanggapan pada “10 Alasan “Pindah Agama” dari Kamera Sony A7ii ke Nikon Z50

  1. Dulu gara° lihat hasil foto karya orang di group FB pake Sony, aku malah mau murtad ke Sony.

    Setelah membaca ini, mikir lagi lah mau murtad. Keknya Nikon udah oke, tinggal upgrade saja ke yang lebih baik.

  2. Foto makanan dari Ko Deddy selalu buat ngiler, baca tulisan ini buat inget lagi kalo keinginan punya kamera dari dulu belom kesampean hehe. Semoga sukses ya Koh kerjaannya, karyanya selalu ditunggu hehe

  3. Dari dulu pengen punya kamera belum kesampaian, btw lihat koleksi foto2 makanannya cukup menggugah selera. Secanggih apapun kameranya jika yang menggunakannya bukan seorang ahlinya ahli tentu saja hasilnya akan tetap berbeda.

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: