siomay sombong

Mengenalkan Citarasa Siomay Sombong Lewat Media Sosial

Dampak dari PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) bagi kota yang masuk dalam wilayah yang ditunjuk memang simpang siur. Tentu ada pihak yang dirugikan sama diuntungkan.

Bagi pedagang kecil yang memiliki pasar orang-orang malam hari tentu akan mengalami kesulitan untuk berjualan ketika jam tutup dipercepat. Sebaliknya untuk pedang besar yang mungkin tidak terlalu terdampak dengan adanya PPKM ini bisa jadi tidak terlalu berdampak.

Lesunya perekonomian ini mulai saya rasakan ketika melihat pedagang-pedagang kecil seperti penjual roti gerobak keliling yang masih terisi penuh jualannya, atau pedagang es krim duren yang sempat saya bantu viralkan.

Hingga bakulan siomay milik teman saya yang biasanya rame pesanan dalam jumlah banyak. Kini, dia lebih banyak waktu kosong di rumah saja.

Dapur masaknya pun tidak terlalu disibukkan ketika harus membuat pesanan siomay untuk walikota maupun gubernur.

Saya melihat kegundahan teman yang biasanya dia selalu ceria saat mengerjakan banyak orderan. Menghadapi kondisi tersebut, tentu saja sejumlah pelaku usaha akan berpikir keras agar usaha mereka tetap bisa survive. Tentunya ada alasan bagi saya ketika memutuskan untuk ikut mendukung UMKM kecil, karena setidaknya dengan audiens dan kemampuan saya juga bisa berkontribusi sekalipun kecil.

Tiba-tiba terlintas untuk menawarkan diri membantunya menjual siomay buatannya. Walau saya bilang mungkin kemampuan saya belum bisa mendapatkan banyak pesanan untuk permulaan. Namun, setidaknya saya sudah mencoba.

Saya mencoba menerapkan shifting bisnis. Bakulan siomay milik teman saya ini masih berjualan dengan cara tradisional. Apalagi dia sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun. Dengan pengetahuan saya mengenai digital marketing, saya mencoba untuk membuatkan branding baru agar produk siomay bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Fokus utamanya adalah survive, belajar adaptif agar tidak bangkrut.

Saya memulai mencari nama yang cocok untuk menjual siomay ini. Ditemukanlah nama Siomay Sombong sebagai brand yang lebih eyecatching. Nama Sombong sendiri memang tidak sembarang disematkan karena kata sombong ini untuk saat ini hanya dijual saat open PO, sehingga pengerjaan bisa lebih terukur untuk kualitas.

Pembeli yang ingin membeli bisa langsung secepatnya memesan agar saat siomay dibuat bisa langsung dikirim.

Saya mengikuti anjuran saran dari perusahaan-perusahaan besar yang telah berhasil untuk mereview strategi dan operasional bisnis. Sehingga shifting yang dilakukan dapat berhasil.

Berikut 3 langkah yang telah saya coba kerjakan :

1. Review Market

Review market ini menjadi incaran pertama saya untuk tahu karakter orang-orang yang berpotensial akan menjadi pembeli dan penikmat. Menikmati siomay olahan ikan tenggiri dan gabus tanpa MSG tidak mudah. Apalagi masyarakat terbiasa menikmati makanan menggunakan MSG, tentunya akan membuat pengalaman rasa tawar ketika baru pertama kali mencoba siomay sombong ini. Makanya untuk menikmati siomay ini saya pun memberikan beberapa petunjuk.

Pembeli mereka tetap bisa menikmati siomay sombong ini dengan paduan rasa balance dari kuah kacang tanpa ada aroma gosong.

Untuk menemukan audiens yang seperti itu tentu tidak mudah. Selain itu juga menyusun rencana untuk menghadapi kompetisi, dan dinamika pembelian misalnya ada pembeli yang jenuh atau tidak menemukan pasar baru.

Pencapaian baru yang berhasil saya kerjakan adalah kini penjualan siomay sudah bisa menjangkau ke area Jabodetabek dengan cara pengiriman makanan vakum frozen. Pengiriman pun cepat H+1 sudah bisa tiba ke rumah pembeli dalam kondisi tetap dingin dengan menggunakan jasa ekspedisi.

Saya membaca kalau ada teman-teman di area luar kota Palembang, khususnya di daerah Jakarta juga ingin mencoba siomay tanpa MSG dengan bahan olahan ikan yang segar langsung dari Palembang. Tapi tetap saja untuk pengiriman ke Jabodetabek dilakukan dengan sistem PO agar kondisi makanan tetap terjaga.

2. Proposition and Brands

Slogan Siomay Sombong sendiri “Biar Mahal Tetap Sombong” yang sebenarnya adalah saya dan teman ingin orang-orang bisa menikmati makanan bergizi dan sehat. Bahwa, harga makanan itu sebanding dengan kualitas makanan.

Sedangkan saya berharap orang sekarang bisa lebih menghargai craftmanship dari produk yang dijual. Bahwa, tidak mudah untuk membuat masakan yang memiliki rasa.

Dari penilaian-penilaian yang saya peroleh setidaknya sudah dapat mengenali keunggulan dari produk yang dimiliki. Saya pun berkolaborasi dengan teman saya untuk menghadapi permintaan konsumen yang terkadang dadakan.

Sistem open PO seperti yang kami lakukan seolah orang sudah paham. Sehingga ketika ada yang ingin pesan, mereka sudah bisa dari jauh-jauh hari. Biasanya kami hanya membuka sistem PO seminggu sekali karena memang untuk artisan akan sulit jika dibuka setiap hari karena keterbatasan sumber daya tenaga kami.

3. Sales and Customer Relationship

Di akhir selesai berjualan, saya akan mengukur respon penjualan dan feedback dari pembeli. Mulai dari menghitung biaya-biaya yang telah dikeluarkan, biaya promosi hingga berapa margin yang didapat dari perjualan.

Saya pun rajin untuk bertanya feedback ke pembeli yang telah mencoba siomay sombong. Apa saja hal yang terkait terutama soal rasa akan menjadi perhatian saya. Karena saya tidak ingin customer journey dari tiap pembeli jadi jelek.

Syukurlah, sejauh ini saya sudah ada pembeli dari orang-orang baru yang memang menjadi pembeli tetap.

***

Dalam situasi serba tidak pasti, saya merasa tahun ini kita mulai bisa menerima atau beradaptasi dengan shifting. Terutama sejak internet semakin pesat digunakan oleh masyarakat. Projek yang saya lakukan untuk mengembangkan brand Siomay Sombong sendiri menjadi pijar kalau kita dapat bangkit.

Semoga saja ke depannya, usaha ini bisa lebih berkembang dan membuka lapangan usaha baru. Bagi teman-teman yang ingin memesan Siomay Sombong dapat langsung segera menghubungi lewat direct message di Instagram @siomaysombong.

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1719

Satu tanggapan pada “Mengenalkan Citarasa Siomay Sombong Lewat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: