Kerala Blog Express 5, Terima Kasih Atas Dukungan Kalian

Saya menanamkan sikap bahwa untuk meraih hasil ada proses untuk mendapatkannya. Proses yang membuat saya belajar banyak hal, layaknya pengalaman baru yang tidak kita dapatkan di manapun. Namun, sebagian orang beranggapan sebaliknya, dimana hasil adalah segalanya. Bisa saja semua cara dilakukan agar hasilnya tercapai.

Satu bulan yang lalu saya melakukan beberapa hal untuk bisa menjadi bagian Kerala Blog Express. Kegiatan yang membuat saya termovitasi setelah bertemu dengan Yayan dua tahun lalu, sekaligus untuk menambah portofolio saya di travel blogger. Hal-hal yang saya lakukan belum pernah saya lakukan selama ini. Melepaskan rasa gengsi dan malu, demi satu tujuan. Apa saja yang saya kerjakan?

1. Direct Message

Memanfaatkan jejaringan online yang selama ini dibangun tak ada salahnya. Justru itu sangat bermanfaat. Mulai dari koneksi dari facebook, Instagram, dan twitter. Satu per satu saya kirimkan direct message dengan meminta bantuan luangkan waktu mereka sekitar 1 menit untuk voting. Dari semua list pertemanan yang sudah saya kirimkan, saya cukup berhati-hati agar tidak terjadi double mengirimkan DM. Tapi, saya masih manusia juga ada kapasitas otak yang lupa sehingga beberapa teman mendapatkan DM saya dua kali.

2. Kegiatan Offline

Menjaring voting secara online boleh dikatakan efektifnya sekian persen, sebab pada saat saya kirimkan direct message ternyata ada yang baru buka DM saya setelah voting selesai. Sebab tidak semua orang notice dengan pesan yang dikirimkan, belum lagi kalau tergeser oleh DM orang lainnya. Sehingga cara offline saya lakukan misalnya saya menghadiri suatu acara kemudian saya “menodong” ponsel teman-teman saya satu per satu untuk voting. Hasilnya dalam satu acara itu saya bisa mendapatkan lebih kurang 50 voting.

kerala blog express

Selain saya datang ke suatu acara, saya juga nongkrong di mall. Sering saya berjumpa dengan orang-orang yang saya jumpai, mengobrol sebentar lalu kembali saya “menodong” mereka untuk menyerahkan ponselnya 😆

3. Datang ke Pasar

kerala blog express

Belum puas dengan hasil voting yang saya dapat, saya mulai berpikir di mana lagi saya bisa menambah jumlah voting secara berkala? Ternyata saya mendapat bisikan ghoib kalau setiap pagi saya sering datang ke pasar tradisional untuk berbelanja. Jumpa dengan para penjual dan teman-teman saya. Maka saya pun sengaja menunggu di lapak jualan teman saya kemudian mulai menjaring voting. Gotcha!

Support Teman-Teman

Tanpa sepengetahuan saya, ada teman-teman yang ikut membantu mengumpulkan voting. Mulai dari ikut membagikan kembali informasi mengenai cara voting di akun media sosial mereka. Ada juga yang langsung meminta teman-temannya untuk langsung voting. Gila! Kurang baik apa mereka pada saya?

Satu lagi yang bikin saya kaget lagi yaitu Mbak Tika dari Kompasiana Palembang (KOMPAL) yang meminta anak-anak mahasiswanya yang kebetulan sedang kuliah untuk memberikan voting. Bayangkan saat itu mahasiswanya sedang mau semesteran, berapa puluh kepala yang membantu saya :mrgreen: Gokil!

Cara yang saya kerjakan barangkali belum maksimal seperti usaha yang dilakukan bang Indra di Kerala Blog Express 4. Namun, tiap kita pasti punya jalannya masing-masing yang akan membawa kita ke tujuan akhir. Benar bukan?

Kerikil Kecil

Itulah hal-hal yang saya lakukan saat pengumpulan voting. Jika ditanya apa hambatan saat pengumpulan voting? Jelas ada. Saya percaya tidak semua orang bisa saya puaskan dalam pertemanan. Kadang saya mendapatkan balasan dari mereka yang enggan untuk memberikan voting dengan alasan malas atau apa keuntungannya bagi mereka. Kalau ditanya begitu saya jelas tidak bisa memberikan uang, namun kalau mereka berkenan untuk membantu jelas amal akan kembali pada mereka. Justru dari sini saya belajar mana teman yang baik.

Kendala kecil lainnya adalah sebagian orang ada yang belum familiar dengan cara voting menggunakan email sehingga saya harus menjelaskan pada mereka. Sulit ya? Tapi percayalah saat kita melakukannya semuanya akan dirasa worth it dilakukan. Efek lain yang saya dapatkan apabila itu kenalan dari dunia maya yang tadinya jarang bertegur sapa, akhirnya jadi bisa berkenalan.

Sabar Menanti Hasil

kerala blog express
Hasil akhir penutupan voting Kerala Blog Express 5

Proses yang dilakukan satu bulan lamanya hasilnya tidak mengecewakan. Walau sepanjang proses pengumpulan voting ada kejadian-kejadian yang akan membuat kita heran. Misalnya, tiba-tiba dalam satu waktu angka voting peserta lain bisa naik dratis. Pernah posisi saya berada di urutan pertama dunia, tiba-tiba langsung ditendang keluar menjadi tiga besar dunia lalu menjelang akhir voting nama saya ditendang keluar dari sepuluh besar dunia. Luar biasa kan hihihi…

Hal ini ternyata bukan hal baru dalam sebuah kompetisi, begitu saya tanyakan pada Yayan dan bang Indra mereka pun juga sepakat. Solusinya, tetap main jujur hindari bermain curang sebab apabila ada indikasi curang maka percuma saja kalau kalian mendapatkan perolehan angka tinggi.

Tapi kan follower Instagram saya sedikit? List teman saya di facebook juga kurang. Twitter apa lagi. Pesan saya, lebih baik sedikit tapi mereka punya niat tulus untuk membantu kalian saat proses menjaring voting. Fenomena yang terjadi saat menjelang penutupan voting, saya mendapatkan pesan masuk yang menawarkan jasa menjual jasa voting. Menurut kalian apa saya tertarik? Jelas saja tidak! Buat apa kalau menang dengan cara seperti itu?

Penutupan voting disesuaikan dengan waktu India, saya harus bangga berada diurutan 13 dengan perolehan suara voting yaitu 1064. Angka yang membuat saya sampai sekarang berpikir how come? Angka 1064 bukan angka yang sedikit untuk dikumpulkan, saya sendiri tidak bisa lagi mengingat berapa kali diingatkan oleh facebook dan Instagram karena telah melebihi kuota untuk mengirimkan pesan. Tapi pengumpulan voting seperti peluang dalam pelajaran matematika. Maksudnya untuk mendapatkan 10 suara bisa jadi saya meminta pada 20 orang, sisanya ada yang keberatan. Masalah? Tentu saja tidak.

Akhirnya setelah penantian selama lebih kurang satu bulan sejak #NgemisVote untuk Kerala, saya ingin mengabarkan kabar baik bagi kalian yang kemarin sudah berkenan membantu saya untuk voting.

Terima kasih!

Sebuah email masuk memberikan kabar baik pada saya bahwa saya berhasil lolos mewakili Indonesia untuk Kerala Blog Express 5! I am really excited and I hope you too. Bisa mengikuti #KeralaBlogExpress ini seperti mimpi menjadi nyata sekaligus menambah penyemangat saya di travel blog.

Last but not least, Terima kasih untuk kalian semua yang sudah berkenan mendukung saya. Dukungan voting kalian membuat saya punya kesempatan berkunjung ke negara yang belum pernah dikunjungi sekaligus bertemu orang-orang baru pasti menambah wawasan saya.

Rencana keberangkatan saya ke Kerala, India dimulai dari tanggal 17 Maret hingga 2 April 2018 nanti. Selama dua minggu saya akan mengikuti rangkaian acara #TripOfLifetime. Doakan semoga perjalanan dan persiapan saya lancar dan dapat membawa nama Indonesia dengan baik seperti alumni-alumni Kerala Blog Express lainnya yaitu Mas Gio dan Mbak Dina (KEB 1), Mbak Donna (KEB 2), Yayan (KEB 3), dan Bang Indra (KEB 4).

Iklan

Secangkir Semangat Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak

Cuaca malam nan dingin di pegunungan mulai perlahan menusuk kulit. Dalam sebuah vila di dekat kaki Gunung Dempo, Pagar Alam kami berkumpul di sebuah ruang tamu. Malam itu, entah kenapa gravitasi kaki saya memilih untuk ikut bergabung dalam obrolan para pemilik kedai kopi dan barista yang tergabung dalam komunitas pencinta kopi. Seharusnya saya sudah berselimut hangat karena cuaca pegunungan yang makin dingin di malam hari.

Saya mengambil bungkus sachet kopi Kapal Kapi dalam ransel untuk menemani topik obrolan kami pada malam itu. Aroma wangi bisa langsung tercium saat membuka bungkus. Semerbak wanginya makin kuat saat menyeduhnya dengan air panas. Kopi memang teman perjalanan yang setia saat saya traveling.

Belajar tentang kopi bersama komunitas pencinta kopi
Dataran tinggi Semendo, Sumatera Selatan

Malam itu, saya larut dalam obrolan tentang metode penyeduhan kopi secara manual atau lebih dikenal sebagai manual brew. Metode penyeduhan ini menarik sebab tidak semua orang bisa membuat kopi yang rasanya sama walau menggunakan bubuk kopi yang sama.

Ada rasa hangat menjalar ke tubuh saat teguhan terakhir kopi yang saya minum sembari mendengarkan teman-teman saya sedang berbagi ilmu dan pengalaman. Kami memang sedang dalam ekspedisi ke kebun kopi yang ada di Semendo, Sumatera Selatan esok pagi. Perjalanan ini akan menjadi pengalaman baru saya melihat langsung kebun kopi dan proses pemilihan biji kopi pilihan.

Petani kopi sedang bertugas memetik buah kopi pilihan

Pengetahuan saya memang minim tentang kopi. Bahkan melihat tanaman kopi langsung pun saya baru pertama kali. Sebagian orang menganggap kopi sebagai ekstasi dalam hidup mereka. Agar menjadi penyemangat menjalani aktivitas sehari-hari. Kamu juga begitu?

Mobil kami berhenti di sebuah perkampungan dengan rumah-rumah panggung berderet di sepanjang jalan. Rumah panggung menjadi kekhasan di daerah Semendo ini, sebab struktur tanah yang tinggi serta daerah sekitar masih berupa perkebunan sehingga pada bagian bawah biasanya digunakan sebagai gudang penyimpanan.

Membedakan Kopi Arabika dan Robusta

Kaki saya ikut melangkah masuk mengikuti jalan setapak beralas tanah basah. Kanan kiri jalan kita bisa melihat tanaman kopi dengan masa usia masih baru. Perkebunan kopi yang saya datangi adalah milik warga setempat. Mayoritas warga lokal Semendo memang sumber perekonomiannya lewat kebun kopi.

“Asep, pohon ini sama yang itu kok ukurannya beda?” tanya saya menyenggol lengannya.

“Yang itu Arabika dan yang ini Robusta, koh” jelasnya sambil memetik masing-masing helai daun. Saya masih sulit membedakan dua jenis kopi yang katanya digemari oleh orang Indonesia.

Asep adalah putra daerah setempat. Kecintaannya pada kopi membuatnya membuka kedai kopi di Palembang. Melalui Asep, saya mendapat penjelasan mengenai biji kopi Arabika dan Robusta. Dua jenis kopi ini sekilas mirip tapi tidak dan memiliki karakter unik.

Biji Kopi Arabika
Biji Kopi Robusta

Biji kopi robusta cenderung lebih bulat dengan ukuran lebih kecil. Sedangkan biji kopi arabika berbentuk lonjong dengan ukuran lebih besar. Bentuk daun yang dihasilkan juga berbeda, pohon arabika bentuknya lebih lebar dan besar dibandingkan dengan Robusta. Namun, menanam kopi juga disesuaikan dengan kontur tanah. Untuk robusta sendiri di tanam mulai dari 400 mdpl (meter di atas permukaan laut) sampai 900 mdpl sedangkan untuk arabika dari mulai 1200 mdpl sampai 2000 mdpl, maka tak heran penanaman kopi jenis robusta lebih gampang di temui di banding arabika, karena robusta dapat di tanam di daerah yg mempunyai ketinggian rendah mulai dari 400 mdpl.

Sedangkan bicara tentang rasa kopi, dibanding biji kopi robusta yang biasanya memiliki rasa yang lebih kuat dan “kasar”, biji kopi arabika mempunyai karakter rasa yang lebih kaya. Biji kopi robusta cenderung memiliki aroma kacang-kacangan. Kalian lebih suka minum kopi Arabika atau Robusta?

Tentunya spesies kopi tidak terbatas pada Robusta dan Arabika saja. Hanya saja kepopuleran dua spesies ini makin dikenal oleh kalangan peminum kopi dan mulai banyak petani kopi yang menanamnya sebab mendukung ekonomi mereka. Ternyata masih ada proses panjang lagi agar kita bisa mendapatkan secangkir kopi enak mulai dari menggunakan biji kopi pilihan hingga pencampuran, panggang hingga penggilingan kopi.

Proses perjalanan kopi sebelum sampai ke cangkirmu

Dalam perjalanan ke kebun kopi, saya mendengar penjelasan tentang bagaimana proses perjalanan kopi sebelum bisa kita nikmati. Tahapan demi tahapan berawal dari panen buah kopi yang kemudian disortir kembali oleh para petani. Adapun proses yang harus dilalui, antara lain:

#1 Menggunakan Biji Kopi Pilihan

Buah kopi yang belum matang tidak boleh dipetik dahulu

Tentu kalian memiliki pertanyaan yang sama seperti saya tentang bagaimana cara petani memilih biji kopi pilihan. Walau pohon kopi sudah berbuah, bukan berarti bisa asal petik. Apalagi jika kita ingin mendapatkan biji kopi pilihan. Buah kopi atau dikenal sebagai kopi cherry. Biasanya dipanen ketika sudah terlihat matang dan berwarna kemerahan. Biji di dalam buah kopi harus dipisahkan dari daging buah, dikeringkan lalu dipilah untuk proses selanjutnya.

Ciri yang bisa dipetik adalah petik merah yang memang sudah matang selain juga memiliki nilai ekonomis tinggi ke depannya. Proses seleksi yang ketat ini dijamin dapat menghasilkan kopi dengan aroma yang harum dan rasa jelas lebih enak.

#2 Mix and Roasting

Biji kopi hijau yang siap disangrai

Ini adalah tahap selanjutnya setelah mendapatkan biji kopi pilihan yang siap diolah. Maka dilakukan pencampuran dan pemanggangan biji kopi pilihan. Setelah biji kopi dikeringkan, biji kopi akan mengeluarkan warna kehijauan. Dari sinilah kita mengenal nama Green Beans atau biji kopi hijau. Pada tahap ini, biji kopi tidak mempunyai aroma atau rasa yang khas. Aroma dan rasa akan muncul setelah melewati proses pemanggangan atau roasting. Proses ini akan menentukan karakter, aroma dan cita rasa kopi.

Proses persiapan memanggang biji kopi diukur menggunakan waktu

Biji kopi akan dimasukkan ke mesin khusus roasting, lalu disangrai pada suhu sekitar 200 derajat celcius selama kurang lebih 15 menit. Tahap mix and roasting juga bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam biji kopi. Idealnya, semakin rendah kadar air dalam biji kopi, semakin kuat aroma dan cita rasa kopi yang dihasilkan.

Proses roasting merupakan momen yang cukup menegangkan sebab kita harus menjaga suhu dan waktu saat dipanggang. Setelah selesai roasting biji kopi tersebut akan menjadi roasted bean.

#3 Grinding and Quality Control

Biji kopi yang telah selesai dipanggang (roasted bean)

Saya mengira proses untuk mendapatkan kopi yang jelas lebih enak dan beraroma hanya sampai pada tahap mix and roasting. Ternyata dugaan saya salah, biji kopi atau roasted bean akan didinginkan di dalam mesin khusus bersuhu sekitar 50 derajat celcius. Setelah suhu pada biji kopi mulai menurun, baru biji kopi dimasukkan ke mesin penggiling dan diproses hingga halus. Proses ini dinamakan dengan grinding.

Tahap selanjutnya ke grinding

Asep lalu melanjutkan bercerita kalau proses menggiling biji kopi juga akan menghasilkan cita rasa kopi yang berbeda. Mesin grinder akan menghaluskan gilingan yang kasar benar-benar halus. Sedangkan, biji kopi yang sudah halus akan langsung diambil dan diproses hingga tahap pengemasan.

Kopi seperti memiliki kisah perjalanan panjang sebelum bisa kita nikmati. Setelah melewati beberapa tahapan hingga menjadi minuman enak di cangkir kita. Dari proses pemilihan biji kopi, mix and roasting, grinding hingga proses pengecekan kualitas akhir. Sama seperti kopi Kapal Api yang menyajikan kopi terbaik sejak dulu. Menjadi teman yang menemani saya di kala sedang traveling maupun menulis di depan laptop.

Penggemar kopi mana yang tidak tahu merek Kopi Kapal Api. Produk kopi bubuk ini sudah lama beredar di kalangan masyarakat Indonesia. Diproduksi oleh PT Santos Jaya Abadi di Sidoarjo, Jawa Timur, kini sebagai pionir kopi kemasan bermerek pertama, Kapal Api menguasai  pangsa pasar 60% pasar kopi secara nasional dengan berbagai pilihan; Kapal Api, Good Day, Excelso, Kopi Ya, Kopi ABC, Fresco, Kopi Kapten dan Kopi Santos.

Kopi Kapal Api telah dikenal ke seluruh Indonesia

Nama Kapal Api tentu sudah tak asing lagi. Kopi yang diproduksi sejak 1927 ini melekat di ingatan serta lidah orang Indonesia. Aroma kopi yang seketika membuat pikiran lebih rileks bisa langsung kita cium sewaktu pertama kali membuka bungkus kopinya. Ada luapan ingin segera menyeduh kopi dalam gelas.

Waktu dulu kecil melihat ayah dan ibu menyeduh kopi Kapal Api, dibenak saya kopi itu Kapal Api. Aroma wanginya saat diseduh bisa membangunkan saya yang sulit bangun pagi untuk ke sekolah. Kopi Kapal Api sudah turun menurun generasi sehingga menjadi suatu keseharian di suatu keluarga #KapalApiPunyaCerita

Orang-orang yang dekat sama saya pernah bertanya sama saya mengapa saya suka kopi hitam? Hitam tapi nikmat itulah kopi hitam. Ada yang menambahkan gula dengan perbandingan antara gula dan bubuk kopi yang seimbang menjadikan selera rasa menjadi sempurna dalam dunia kopi hitam. Namun kadang kala citarasa asli kopi bakal “rusak” saat kita sudah menuangkan sesendok gula saja ke cangkir. Padahal urusan menambahkan gula atau tidak adalah hanya masalah selera.

Aroma kopi nan menggoda di saat pagi
Kopi Kapal Api bungkus mini untuk traveling

Banyak yang terbuai oleh kenikmatan dan menjadikan diri sebagai penikmat kopi hitam. Kopi hitam seolah dapat menyesuaikan dalam beragam suasana sedih dan senang. Seperti yang selalu ada di ransel saya yaitu Kopi Kapal Api Special saat traveling. Saya menyukai kopi bubuk ini karena cita rasa aroma memang tidak diragukan sejak saya masih kecil.

Kenikmatan tiap cecapan Kapal Api Special akhirnya membuat saya bisa berkreasi dengan kopi bubuk. Imajinasi menjadi liar menembus cakrawala melepaskan diri dari kejenuhan dan bahkan dapat melahirkan ide-ide yang tadinya tersisip dan tak tersentuh dalam diri kita saat saya sedang menyeduh kopi.

Sejak mengetahui dan belajar tentang metode penyajian manual atau manual brew, saya pun bisa mendapatkan cita rasa kopi jauh lebih nikmat. Akibatnya saya mulai kerajinan untuk mendapatkan secangkir kopi enak. Dengan menggunakan kopi Kapal Api Special bubuk saya akhirnya belajar tentang proses menyeduh kopi ternyata bukanlah sekadar seduh.

Tubruk

Kopi Tubruk

Tubruk menjadi cara penyajian paling sederhana dan favorit saya. Kopi tubruk adalah kopi yang sederhana sebab tak perlu memakan waktu dalam penyajiannya. Kita hanya memasukkan dua sendok kopi dan menuangkan 250ml air panas, maka secangkir kopi harum dan nikmat sudah kita dapatkan. Bagi yang ingin menambahkan gula, saran saya tambahkan gula sebelum diseduh agar karamel gula dan minyak kopi bereaksi ketika proses seduh. Rasa pahit yang ada ditiap bubuk kopi membangkitkan semangat ditiap menjalani aktivitas.

Vietnam Drip

Orang-orang menyebutnya sebagai kopi Vietnam, sebab metode penyajiannya berasal dari Vietnam yang memiliki kondisi iklim yang hampir sama dengan Indonesia. Dengan menggunakan dripper, alat penyaring terbuat dari bahan metal serta menambahkan susu kental manis (sweetness condensed milk). Sehingga kebiasaan dalam penyajian kopi seperti ini menjadi budaya yang turun menurun sampai menyebar ke seluruh dunia.

Kopi Vietnam

Kopi Vietnam cocoknya dinikmati di kala kita memiliki waktu yang banyak dan hanya untuk bersantai ria sebab Vietnam Drip bukanlah kopi yang bisa langsung dinikmati layaknya kopi tubruk. Sesuai namanya, drip yaitu tetes, maka kopi Vietnam Drip baru bisa kita nikmati bila tetesan-tetesan kopinya telah cukup untuk kita minum. Setelah itu barulah diaduk bercampur rata dengan susu kental manis. Saya jadi tahu alasan kenapa mencampurkan susu kental manis pada kopi hitam pahit. Ternyata untuk menyamarkan rasa pekat dari kopi tapi tidak menghilangkan citarasa asli kopi itu sendiri.

Untuk membuat kopi vietnam drip dibutuhkan biji kopi dengan taste yang kuat. Kemudian, saya pun melakukan eksperimen dengan kopi Kapal Api yang juga memiliki taste yang kuat. Sekarang, saya tak perlu ke kedai kopi apabila hanya ingin menikmati Vietnam Drip. Tinggal eksperimen di dapur rumah dengan kopi Kapal Api Special bisa mendapatkan secangkir kopi hitam yang nikmat.

V60

Cara penyeduhan kopi metode manual

Salah satu metode penyajian yang saya pelajari adalah V60. Teknik penyeduhan kopi ini boleh dikatakan tidak sulit namun juga tidak gampang. Cara pembuatannya melalui proses penyaringan (filter). Dengan alat seduh kopi bentuk kerucut pada bagian bawahnya. Air dituangkan ke dalam kopi bubuk yang diletakkan diatas kertas saring. Namun perlu kesabaran saat menuangkan air panas dari teko secara perlahan. Cara menuangkan airnya pun tidak sembarangan, dimulai dari bagian tengah kemudian berlanjut dengan gerakan melingkar.

V60

Bagaimana dengan cita rasa dan aroma kopinya? Cita rasa kopi yang diseduh dengan metode ini sangat menarik karena hasilnya terasa sangat lembut tapi kaya akan rasa kopi yang khas. Apalagi bagi kalian yang penikmat kopi tanpa ampas, metode penyeduan ini secara langsung akan menyaring kopi.

Cold Brew Coffee Ice Cube

Kopi hitam tak hanya bisa disajikan dalam kondisi hangat tapi saya pun suka sajikan dalam bentuk dingin seperti dijadikan ice cube. Minuman cold brew selalu cocok disajikan kapan saja, apalagi kalau cuaca matahari sedang terik dan gerah.

Ice Coffee Cold

Saya suka membuat coffee ice cube sebab cara pembuatannya gampang. Kalian tentu juga bisa melakukannya sendiri di rumah. Caranya saya melarutkan kopi Kapal Api Special kemudian dibekukan dalam lemari pendingin. Apabila saya ingin menikmati secangkir es kopi sejuk saya tinggal mengambil coffee ice cube tersebut lalu menambahkan kembali kopi hitam agar rasanya lebih pekat. Kadang saya juga menambahkan scoop es krim agar menjadi affogato. Nikmat!

Cara penyajian coffee ice cube ini kita bukan hanya dapat menikmati rasa kopi yang konsisten sebab pada saat ice cube mencair tidak merubah rasa awal pertama kopi disajikan. Sehingga variasi seperti ini memang membuat kita lebih menikmati kopi saat cuaca sedang terik.

Saya bersama orang-orang yang bersemangat menyambut pagi. Bahkan saat saya traveling, saya akan langsung jatuh cinta pada kota tersebut hanya karena paginya lebih cepat. Secangkir kopi Kapal Api di pagi hari bagaikan petanda bagi saya untuk memulai aktivitas. Sesesap kopi hitam yang saya hirup dari bibir cangkir lolos masuk dalam tenggorakan termasuk bulir-bulir kopinya.

Kopi hitam kadang membuat kita lupa tentang perbedaan status sosial kita itulah mungkin satu keajaiban kopi hitam. Tertawa lepas lebih mendominasi suasana, konsentrasi pada beragam masalah baik pribadi maupun kelompok dalam menelaah solusi. Namun seserius apapun kita saat itu akan menjadi akhir cerita dalam beragam cerita yang tersimak.

Sudah ngopi hari ini?

Secangkir kopi Kapal Api seperti membuat saya sedang minum kopi berkualitas di kedai kopi. Saya tinggal eksperimen di dapur rumah dengan kopi Kapal Api Special bisa mendapatkan secangkir kopi hitam yang nikmat. Itulah sebabnya mengapa saya menyukai minum kopi Kapal Api jelas lebih enak. Saat sedang mengerjakan membuat konten kreatif, bermain media sosial atau saat sedang berkumpul dengan teman-teman seide.

Begitulah, sebagai penikmat kopi tentu juga ingin memiliki kualitas saat sedang minum kopi. Apalagi tak lengkap kalau tidak mengetahui cerita sejak kopi ditanam hingga sampai ke cangkir kita siap minum.

Secangkir semangat bersama kopi Kapal Api

Hidup memang terlalu singkat untuk tidak menikmati apa yang telah ada. Tiap sendok kopi Kapal Api sudah saya buktikan kalau aroma dan kualitasnya sebagai kopi bubuk pas di lidah orang Indonesia yang tak hanya mengedepankan kualitas biji kopi, tapi juga setiap prosesnya. Apalagi saya bisa berkreasi dengan kopi Kapal Api Special lewat penyeduhan metode manual brew. Beberapa metode penyeduhan ini bisa kalian coba saat sedang menikmati secangkir kopi Kapal Api supaya menambah cita rasa yang unik saat diminum.

Sama halnya secangkir kopi hitam tanpa gula, kita tak pernah tahu rasa pahit tanpa pernah meminumnya. Begitu pula waktu, kita tidak pernah tahu kapan kesempatan akan datang.

Lantas, kapan kita seruput kopi bersama dan berbagi kisah?

tim komunikasi presiden

Sudut Istana : Harapanku Sebagai Blogger (Bagian 2)

“Mau kopi atau teh,” tawar pak Ariasa dengan senyum menawannya.

“Kopi hitam tanpa gula, pak,” seruku padanya.

Di tengah ruang kami duduk saling berhadapan. Seorang pria dengan kemeja lengan panjangnya duduk dengan laptop yang sudah siap digunakan untuk mencatat apa saja yang akan kami paparkan.

Berjumpa Tim Komunikasi Presiden

Secangkir kopi dari sudut istana

Saat ini kita bisa tahu mulai dari isu, berita hingga cerita tentang pencapaian pemerintah nampak begitu nyata di media sosial. Pastinya ini adalah hasil pekerjaan siang dan malam. Namun terkadang semua berita tersebut seolah tenggelam oleh isu-isu yang sengaja dibuat dan dibentuk oleh saracen dan yang sekelompok dengannya.

Terbentuklah suatu Tim Komunikasi Presiden yang ditunjuk khusus oleh Jokowi. Presiden pada dasarnya memiliki garis kebijakan bahwa informasi kegiatan pemerintah harus terkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat. Lewat tim inilah menjadi misi akan adanya komunikasi yang lebih efektif. Maka, Presiden paham dengan apa yang menjadi perhatian publik yang akan menjadi fokus.

Pola komunikasi nantinya dimulai dengan Tim Komunikasi Presiden yang akan berdiskusi dengan Jokowi mengenai isu yang menjadi perhatian masyarakat. Presiden kemudian akan memutuskan bagaimana komunikasi media yang akan dilakukan berdasarkan hasil dari diskusi tersebut. Termasuk apa yang akan kami diskusikan bersama mereka. Diharapkan nantinya akan menjadi “suara” bagi Jokowi.

Sebegitu kah? Entahlah, kan saya tidak tahu dapur belakangnya.

Jokowi untuk Pariwisata Indonesia

Suasana Focussed Group Discussion bersama Tim Komunikasi Presiden

Saya tak ingin menambah ketegangan saat nanti berbicara di depan mereka, maka saya segera berdiri di depan saat Mbak Lasmi bertanya siapa yang ingin memulai. Slide presentasi saya singkat, hanya berisi gambar perjalanan ke Raja Ampat dan Tidore. Dua tempat ini memiliki kesan bagi saya terhadap pariwisata serta harapan saya untuk Jokowi.

Raja Ampat, orang menyebutnya sebagai surga terakhir di Indonesia. Alam bahari bawah laut yang memang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tapi memang kita harus datang ke sana sendiri. Selain biaya yang mahal, tapi akan sebanding dengan pengalaman yang didapatkan selama di Raja Ampat.

Saya ndredeg, gaes.. saya Deddy Huang, blogger aja.

Salah satu faktor yang membuat perjalanan ke Raja Ampat membutuhkan biaya lebih adalah transportasi menuju tempat-tempat yang eksotis seperti Wayag. Total perjalanan menggunakan kapal cepat sekitar 8 jam perjalanan. Waktu itu saya sempat bertanya pada sang kapten kapal. Butuh berapa liter bensin untuk kita pulang pergi dari Mansuar ke Wayag. Dia menjawab sekitar 9 jam perjalanan dengan harga BBM saat itu Rp 13.000/liter. Kalau dihitung sekitar Rp 6.500.000 harga yang harus dibayar untuk bisa melihat puncak Wayag.

Maka, sangat disarankan kalau ingin ke Raja Ampat pergi bersama rombongan agar biaya kapal bisa saling bantu.

Saya lantas ingat apa yang pernah disampaikan saat Tim Komunikasi Presiden memaparkan tentang kesetaraan. Salah satu kesetaraan yang diharapkan adalah harga bagi BBM yang terjangkau/setara dengan kota lainnya. Sehingga kita tidak merasakan kenapa harga di kota A lebih mahal daripada kota B.

Dari Raja Ampat, saya berpindah ke Tidore, pulau kecil bahkan sangat kecil sehingga di peta pun tidak kelihatan di mana itu Tidore. Pulau yang mayoritas umat muslim ini sempat saya rasakan keramahan warga lokal setempat. Hidup yang tenang, tidak ada macet, makanan berlimpah dan enak, serta budaya yang masih ada turun menurun.

Waktu saya bertandang ke Kesultanan Tidore, saya melihat suatu peta wilayah kesultanan tempo dulu. Luas wilayah kekuasaan Tidore akan membuat kita tercengang sebab hampir semua wilayah Indonesia Timur adalah wilayah kekuasaan Tidore sampai ke Papua. Bayangkan kalau Tidore tidak memberikan seluruh wilayah kekuasaannya ke Soekarno. Detik ini, tidak akan ada NKRI atau lagu Sabang Merauke.

Saya akhirnya tergerak membuat satu tulisan mengenai agromarine, solusi infrastruktur prioritas Jokowi. Di dalam tulisan tersebut saya menjelaskan beserta data kenapa Tidore perlu dilirik untuk infrastrukturnya selain jasa-jasanya pada masa lampau.

Perlindungan untuk Blogger Indonesia

Saya tidak memiliki pandangan khusus mengenai Jokowi. Sebagi warga sipil, bagi saya selama pemerintah dapat menciptakan iklim politik yang kondusif dan tidak memecah belahkan ke-bhinneka tunggal ika, itu sudah lebih cukup. Walau saya punya hak untuk melepas kewarganegaraan saya, namun tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ya kali kalau negara itu mau nerima saya 😆

Sosok Jokowi boleh dikatakan “presiden zaman now”, dari rezim terdahulu baru ini saya melihat keterbukaan informasi yang memudahkan kita mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana “dapur” pemerintah. Salah satu hal yang membuat saya respek adalah anak-anaknya tidak tersulut dalam dunia politik. Mereka lebih pilih entrepreneur. Kemudian, kalau kalian menonton video saat si istri memberi kode rambut Jokowi yang kurang rapi, tentu itu adalah hal yang epic bagaimana seorang istri tetap memperhatikan penampilan suaminya. Ahh it was so touchy moment.

Mataku kelilipan, cyiin..

Politik tetaplah politik. Siapa yang menang tentu yang kuat di dalamnya. Namun saya tak bisa banyak mengungkapkan sosok Jokowi yang saya tahu selain dua hal yang telah saya sebutkan di atas. Sehingga saya hanya ingin menyampaikan aspirasi saya sebagai blogger sekaligus menjadi aspirasi teman-teman blogger lainnya yaitu kami sebagai blogger butuh payung untuk berlindung sebagai citizen journalism.

Blogger tidak seperti media pers yang bisa berlindung dengan UU Pers. Namun di lapangan kerja blogger boleh dikatakan hampir setara seperti media. Kami juga melakukan peliputan berita, mengambil foto dan video, menulis kembali hingga mencari pembaca kami pun sendiri.

Saya hanya bercermin dari kasus Prita dan Acho. Semoga kalian masih ingat dua kasus ini yang terkena pasal karet dari UU ITE. Saat kita mencoba mengemukakan pendapat kita lewat media blog, bisa jadi itu adalah pilihan saat kita sudah mencoba menyampaikan lewat media lain. Blogger sangat lemah terhadap perlindungan dalam mengemukakan pendapat.

Sejauh ini saya melihat, bagi para blogger yang prihatin dan ikut mendukung pemerintah agar lebih baik, mereka akan lebih banyak menulis opini terkait politik, kebijakan pemerintah, ekonomi, sosial dan sebagainya. Sedangkan para blogger yang isi blog nya lebih ke arah jurnal sehari-hari sepertinya tidak terlalu ambil pusing terhadap permasalahan ini.

Bagi saya seorang travel blogger dan content creator tentunya sangat berdampak pada karya yang saya buat. Bagaimana saat saya berkunjung ke tempat wisata dan melihat pariwisata yang buruk dari segi fasilitas dan pelayanan kemudian menuliskannya di blog? Padahal niat saya menulis adalah untuk ikut membangun pariwisata dari sisi transportasi maupun fasilitas dan blog menjadi media saya ketika saya tidak tahu akan lari ke mana untuk menyampaikannya.

Sudut Pandang Lain

Materi saya berbeda dengan tiga teman saya yang lainnya, misalnya Ainun yang lebih berfokus pada gaya kepemimpinan Jokowi yang lebih gaul dan lebih mendengar aspirasi rakyat. Bagaimana cara Ainun bertutur dengan hati-hati saat menyampaikan pandangan dia mengenai Jokowi. Baru kali ini saya melihat dia gugup hingga tanpa sadar saya telat untuk merekam video saat dia sedang berdiri di depan.

Sedangkan, Putri dengan tutur yang lembut dan terjaga lebih bercerita tentang apa yang ia rasakan mulai dari pembangunan jalan tol Palindra hingga dia pun memberikan kenang-kenangan berupa sketsa wajah Jokowi. Putri dan keluarganya tinggal di daerah Prabumulih yang notabene hanya berjarak 2 jam dari kota Palembang. Namun, kalau sudah berbagi jalan dengan truk batubara bisa saja dari 2 jam perjalanan menjadi 9 jam perjalanan.

Terakhir, Molly yang seorang berkebutuhan khusus dengan gigihnya dibantu oleh sang ayah, dia percaya diri dan membuat seisi ruangan haru melihatnya saat itu. Molly bercerita apa perlakuan seperti apa yang ia rasakan sebagai seorang berkebutuhan khusus. Kesulitan dalam mencari lapangan pekerjaan hingga bantuan akses fasilitas umum untuk penyandang cacat di kursi roda agar lebih diperhatikan.

Ainun, ibu rumah tangga, HR Corporate di salah satu BUMN
Putri, seorang guru
Molly, yang berkebutuhan khusus dan seorang akuntan

Tiga opini dari teman-teman saya ini kalau saya rangkum menjadi aspirasi-aspirasi yang menjadi corong suara bagi pesan teman-teman lainnya yang mungkin saja belum mendapatkan kesempatan seperti kami bisa langsung berjumpa dengan Tim Komunikasi Presiden. Saya pun juga bertanya kepada beberapa teman mengenai kebijakan dan sudut pandang Jokowi.

Kami hanya ingin suasana pemerintahan yang kondusif, masih teringat bagaimana pro dan kontra masing-masing netizen dalam membela mana yang paling benar sehingga Indonesia menjadi sangat mudah untuk diserang dari sisi agama dan paham radikal. Bagaimana kelompok saracen tertawa di belakang layar ketika apa yang mereka sebar menjadi alat untuk menjadi objek permusuhan.

Sebagai blogger yang budiman, tentu saya pun harus menyaring tiap berita yang akan saya sebarkan agar tidak menjadi suatu hoax atau demi mencari popularitas. Saya hanya ingin Jokowi terus melanjutkan nawacita yang telah ia rancang sesuai janjinya. Apa itu nawacita? Kalian bisa membacanya di sini.

Putri menyerahkan karikatur hasil karya adiknya untuk Jokowi ke Pak Andoko Darta
Saya menyerahkan bingkisan pempek ke Pak Ariasa Supit

Sekali lagi saya mengapresiasi Jokowi dalam hal pencitraan yang positif dari sudut pandang media sosial, sebab saya bukanlah ahli dalam politik melainkan ahli dalam media sosial. Itu hanya segelintir yang membuat saya berkata bahwa Indonesia butuh pemimpin bukanlah pimpinan.

Kita, termasuk kalian tentu menginginkan suatu kondisi pemerintahan yang transparan dan barangkali kita pun jenuh dengan drama “bakpao dan tiang listrik” atau sejenisnya.

Asa untuk Tim Komunikasi Presiden

Kita mencoba memahami kondisi kondisi global dan nasional yang memaksa Jokowi untuk memutuskan dalam dilema. Sebab kita tidak dapat membahagiakan semua pihak, seperti pesan titipan dari seorang teman untuk meminta Jokowi pastikan janjinya untuk terus mengejar pengemplang pajak di luar negeri. Apapun caranya juga buat reformas agraria sebenarnya (bukan cuma hutan dan lahan ) tapi juga soal laut harus diteruskan. Tidak menjadi seremonial yang disebar di media sosial.

Kita juga paham bahwa kerja keras teman-teman Tim Komunikasi Presiden di belakang layar melalui berbagai kantor termasuk Kantor Staf Presiden (KSP) juga biro komunikasi sudah bekerja keras untuk itu, terima kasih atas kerja keras itu. Tapi Rakyat Indonesia masih menaruh harapan besar agar segala janji ditunaikan.

Akhirnya, kami hanya mohon mengenai kebebasan bereskpresi, menyampaikan pendapat yang dijamin konstitusi dipertimbangkan, jangan jadikan UU ITE sebagai senjata, bebaskan kawan-kawan yang terjerat oleh pasal karet UU ITE, sebuah negara demokrasi itu harus dibangun oleh kritik.

Isu atau cerita tentang pencapaian pemerintah nampak begitu nyata dan melalui proses panjang. Hasil pekerjaan siang dan malam. Namun kemudian semua itu tenggelam oleh isu-isu yang sengaja dibuat dan dibentuk oleh saracen dan yang sekelompok dengannya.

Melihat Sudut Sekretariat Negara yang Instagramable

Salah satu lukisan di sudut sekretariat negara

Dua jam duduk di dalam ruangan kerja ex presiden RI ke-2 tentunya membuat kami panas dingin. Ketegangan yang timbul karena takut salah berucap atau sikap. Namun syukurlah teman-teman dari Tim Komunikasi Presiden menyambut kami dengan baik. Tentu akan menjadi  momen personal bagi kami saat menjadi undangan oleh Tim Komunikasi Presiden. Sementara itu, kacamata saya lebih memilih mengamati sudut-sudut sekretariat negara yang cukup instagramable untuk berfoto.

Sekali lagi, kami pun bertanya mana saja restricted area yang memungkinkan kami untuk tidak mengambil foto. Ternyata ruangan yang kami lewati masih dalam status “aman”. Sekitar dinding ruangan memang lebih banyak dipenuhi oleh lukisan-lukisan yang menjadi pilihan Cak Kardi. Bagi saya, beliau memiliki selera yang bagus dalam hal seni.

Sudut dinding berisi nama-nama menteri yang pernah menjabat.
Sudut lukisan Jokowi yang menarik perhatian saya.
Sudut istana dari samping. Dan ketiga foto di atas kalau kalian perhatikan, ternyata Ainun itu ekspresif yaa…
Kapan lagi foto dengan latar lambang negara Indonesia

Alhasil kami pun diajak berkeliling sekitar gedung termasuk mengunjungi toko souvenir oleh-oleh agar bisa dibawa pulang ke rumah. Souvenir yang dijual di dalam lingkungan Sekretariat Negara ini memang dikhususkan bagi tamu-tamu yang sedang datang untuk membeli cinderamata mulai dari magnet, pulpen, kaos, dan lainnya. Kami membeli beberapa buah tangan sebelum kembali ke hotel.

Pada akhirnya, pertemuan singkat saya ini menjadi langkah awal saya agar bisa masuk dalam jajaran menteri nantinya *bhuahahaha…* dukung saya ya. Tapi saya berharap kalian bisa mendukung saya agar bisa terbang ke Kerala. Satu suara vote kalian sangat berarti.

Ngeblog? sepanjang kita bisa bersikap dewasa dan bertanggung jawab dalam menulis, saya yakin kita bisa terhindar dari resiko-resiko yang sudah saya sebutkan di atas. Jadi, mari ngeblog dengan dewasa dan bertanggung jawab.

Apa harapan mu bagi Jokowi, gaes?

Sudut Istana : Pertemuan yang Mendebarkan (Bagian 1)

Andai menulis itu semudah meng-update status di media sosial, atau menulis itu semudah kita nyinyir ke orang lain. Tentu saya akan lebih banyak melakukan dua kegiatan tersebut. Hikayat menulis layaknya kita bercerita dan berbagi informasi yang positif bagi pembaca. Sebab, pada akhirnya tulisan kita akan menemukan pembacanya sendiri.

Semua ini bermula saat KOMINFO menyapa kami, blogger Palembang sekaligus warganet untuk sarasehan bersama dalam acara flash blogging. Dalam topik sosialisasi hadir juga dari Tim Komunikasi Presiden yang memberikan saya sudut pandang baru tentang sudut istana. Jarang sekali kita di Palembang mendapatkan undangan acara yang bermanfaat sekaligus menjadi ajang silaturahmi.

Diundang Jalan-Jalan ke Sudut Istana

Dulu pernah terbesit saat melintas di depan Istana Negara, kapan bisa masuk ke dalam lingkungan ruang kerjanya presiden? Tiap saya ke Jakarta dan melewati Monas, kharisma gedung putih ini begitu menggoda.

Mungkin ini namanya semesta mendukung, saya dihubungi oleh Tim Komunikasi Presiden yang menggundang saya untuk “ngopi bareng” di Sekretariat Negara. Heh?! Namun, saya tidak berangkat sendiri ke Jakarta, melainkan bersama pemenang lomba Flash Blogging yang diadakan sewaktu acara, yaitu Ainun, Molly dan Putri yang menggantikan Alma sebab kakaknya sedang menantikan hari lahir. Kami berempat serempak mendapat undangan untuk melakukan Focus Discussion Group bersama Tim Komunikasi Presiden.

Kami bertiga berangkat ke Jakarta

Awalnya saya ragu untuk bisa ikut berangkat ke Jakarta, oleh sebab kesehatan mama sedang dalam kondisi kurang prima. Waktu dua minggu lalu saya ke Aceh, di dalam pesawat saat transit kakak saya memberi kabar kalau kondisi mama. Kebayangkan kan suasana hati saya selama traveling di Aceh. Untungnya saya berangkat tidak begitu lama, jadi masih bisa ditinggal sebentar.

Kami berempat berdiskusi dalam sebuah whatsapp group tentang apa yang harus dipersiapkan saat diminta untuk membuat presentasi singkat mengenai “Jokowi di Mata Blogger”.

“Mau bikin presentasi apa nanti?” tanyaku.

“Bingung koh,” masing-masing saling menjawab. Ya, apalagi saya yang notabene-nya memang bukan penggemar topik politik. Akhirnya, kami pun mendapatkan tiket pesawat dan janjian untuk berangkat bersama ke Jakarta.

Putri membawa bingkisan lukisan karikatur dari adiknya, sedangkan saya menitip pempek ke Ainun sebab dia berangkat saat hari acara. Sedangkan kami hari sebelum acara, sehingga kondisi pempek yang dibawa juga lebih segar. Kami bertiga pun berangkat ke Jakarta dengan ditemani ayah Molly dan menginap di Hotel Amaris Juanda.

Ini Rasanya Masuk Kantor Sekretariat Negara

Pemandangan Masjid Istiqlal dari kamar hotel Amaris Juanda

Jumat pagi, dari kamar hotel Amaris Juanda saya melihat pemandangan kubah Masjid Istiqlal yang megah. Lintasan kereta api seolah tak pernah berhenti menghantarkan para kaum urban berangkat kerja. Jujur, saya kurang mendapat tidur yang nyenyak, terlepas dari ruangan kamar yang kurang segar dan pengap. Kualitas tidur saya cuma 3 jam saja sisanya saya tegang oleh karena nanti akan bertandang ke Sekretariat Negara.

Sebelum bertandang ke Sekretariat Negara, saya mengajak lainnya untuk menikmati kuliner es krim tempo dulu di Ragusa. Cita rasa dan suasana tempatnya masih nyaman untuk menikmati semangkok es krim. Beruntung saat itu sedang sholat jumat sehingga suasana tempatnya masih sepi, kalau hari biasa kita bisa saja mengantri panjang. Es krim memang menjadi mood boaster saya sekaligus penghilang rasa gugup.

Dari Ragusa, kami pun beranjak ke Sudut Istana menggunakan taksi online. Tampak sinar mata Molly yang sudah tidak sabar berkunjung ke Istana, dari kursi rodanya dia selalu bertanya apa kita bisa pergi? Padahal saya masih menikmati es krim 4 rasa yang nikmat ini, namun saya memaklumi maksudnya dan bilang kalau tenang kita akan tepat waktu. Boleh jadi, Molly adalah tamu disable pertama yang diundang oleh Tim Komunikasi Presiden.

“Bang, sudah pernah masuk ke istana negara?” tanyaku ke samping.

Sambil menyetir, dia pun membalas pertanyaan saya, “Baru pertama kali. Saya juga deg-degan takut nanti salah masuk.”

Berfoto di depan gedung Sekretariat Negara Jakarta

“Beruntunglah jadi punya kesempatan buat masuk ke dalam istana kan,” tawa kita bersama. Pintu masuk utama ke Sekretariat Negara memang terletak di jalan Veteran, namun dialihkan masuknya melalui jalan Majapahit. Kami sempat ragu, tapi mendapat petunjuk dari plang papan memudahkan kami masuk ke dalam. Mobil kami melaju masuk ke gedung utama Sekretariat Negara setelah melewati petugas penjaga.

Detak Jantung Berdegup Kencang

Suasana di sekitar Sekretariat Negara memang senyap, tak tampak suatu aktivitas. Kami hanya mengikuti tiap petunjuk arah yang akan membawa kami ke gedung utama setelah mendapat informasi dari penjaga.

“Mungkin itu gedung yang dimaksud?” kita mencoba menebak dari dalam mobil. Ainun pun turun sejenak untuk bertanya ke dalam kebetulan sedang ada petugas jaga. Selang tak lama, dia kembali dan tersenyum merekah sesuai khasnya tanda kalau kita sudah sampai.

Larangan selama di lingkungan istana negara

Kami turun dari mobil dan membantu Molly agar dia bisa berpindah ke kursi rodanya. Untunglah, akses untuk disable di Sekretariat Negara sudah memadai sehingga memudahkan Molly untuk bergerak. Seorang berkepala pelontos berpakaian kemeja batik panjang menyambut kedatangan kami kemudian mengiring ke suatu ruangan. Auranya seolah memancar layaknya tuan rumah yang baik. Saat itu, saya merasa seperti irisan timun di dalam cuko pempek. Dia mengenalkan dirinya sebagai Ariasa Supit, salah satu Tim Komunikasi Presiden.

Berpose di meja kerja mantan Presiden RI ke-2

Beberapa kali kami bertanya, “Apa kami boleh izin memotret?” sebab kami tahu kalau kawasan terlarang seperti dalam kantor ini pasti ada bagian yang tidak boleh dipublikasi. Ternyata, kami diberikan kebebasan untuk memotret sembari menunggu kedatangan pak Andoko Darta untuk memulai FGD.

“Kalian sudah dikasih tahu ini ruangan apa?” tanya Pak Andoko sewaktu masuk ke dalam ruangan.

Sebelumnya kami telah mendapatkan informasi dari Mbak Lasmi kalau ruangan tempat kami FGD ini dulunya menjadi ruang kerja Presiden Indonesia ke-2, Soeharto. Kami saling memandang satu sama lain begitu mendengar cerita tentang ruangan tempat kami menunggu. Ah yang bener?

Mendapat lampu hijau dari Mbak Lasmi yang menawarkan kami untuk berfoto di sudut ruangan, kami pun segera mengambil aksi untuk mendapatkan gaya-gaya foto andalan. Ya, setidaknya cara ini dapat mengurangi rasa grogi kami nantinya saat berjumpa dengan pak Andoko.

Apa yang sedang saya pikirkan?

Ruangan pertemuan ini tidak banyak terisi perabotan kerja, hanya ada beberapa tripod dan kamera untuk merekam. Awalnya saya menduga kamera tersebut untuk merekam kami saat FGD, ternyata kamera-kamera yang terletak di beberapa sudut merupakan peralatan untuk channel Youtube Sudut Istana oleh Cak Kardi.

Sayang sekali kami belum berjodoh berjumpa langsung dengan Cak Kardi sebab beliau kembali ke Malang untuk menjaga ibunya. Saya ikut merasakan rasa seperti Cak Kardi sebab saat itu situasi saya pun juga sama.

Kursi sofa empuk seolah tak mampu menahan rasa grogi kami sesaat lagi. Mencoba untuk meneguk air putih agar menghilangkan rasa grogi pun rasanya belum tuntas. Sebab, saya seperti membawa aspirasi-aspirasi dari teman-teman blogger lainnya.

Bersambung ke bagian dua.

kerala-blog-express

Support Me for Kerala Blog Express Session 5 from Indonesia

Dua tahun lalu…

“Kak Deddy ya?” sapa seorang pria bertubuh sedang dengan menggenakan topi.

“Ya, siapa ya?” tanya saya balik saat itu. Seketika saya jadi jumawa begitu ada orang yang mengenali saya tapi saya tidak mengenali dia.

“Haryadi, kak, aku yang ikutan jadi kontributor Hello Palembang,” serunya sambil tersenyum dengan garis mata hampir segaris itu.

Kami berjabat tangan dan otak saya kembali mengingat namanya dan saya ingat dia. Itulah awal pertama perkenalan saya dengan Yayan a.k.a omnduut di sebuah acara pertemuan forum yang diadakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Sumsel. Kemudian, kopdar kami kedua dilakukan di Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu.

Saya saat itu masih belum tahu apa-apa tentang dunia traveling dan memang sedang menghidupkan kembali blog saya. Namun, dari cerita-ceritanya Yayan membuat saya kagum atas pengalaman serta wawasan traveling-nya.

“Jadi kamu ke India, yan? Gratis? Ke Kerala?” seruku saat itu yang lebih familiar dengan nama India tapi tidak dengan Kerala. Saat itu Yayan hanya minta doanya saja sebab officially pengumuman kompetisinya belum diumumkan sehingga tidak bisa dikatakan akan berangkat. Namun, saya pribadi merasa senang mendengar ada orang yang akan berangkat, sebab itu semacam semangat positif yang menular.

Saat itu saya hanya meminta sama Yayan untuk dibuatkan tulisan ala-ala dengan latar pemandangan Kerala yang indah : Kapan ke India?

Doakan saja aamiin dan segera. Itu yang saya ucapkan dalam hati.

Begitulah cerita saya dua tahun lalu tahu tentang Kerala dan mengenal sosok Yayan yang pada saat itu masih memanggilku “kakak”. Naluri saya saat itu kan jadi merasa punya adik saat dia memanggil dengan panggilan tersebut. Tapi, akhirnya Yayan sudah tidak lagi memanggil saya dengan sebutan “kakak” bhuahahaha…

Kerala itu Unik

Saya dibikin penasaran untuk mencari tahu tentang Kerala, kota yang berada di selatan India. Kota Thiruvanathapuram merupakan kota terbesar sekaligus ibukota provinsi Kerala. Dengan luas sekitar 1,2 persen dari keseluruhan luas India, dan dengan jumlah penduduk sebanyak 3,2 persen dari populasi India, Kerala adalah sebuah negara bagian yang secara politik dikuasai oleh Partai Komunis India.

Serius saya ingin datang ke negara yang dikuasai oleh partai komunis? Sure, why not?

Mengapa Kerala penting dibicarakan? Saat melihat gambar yang dikirimkan oleh Yayan, saya melihat kerala sebagai tanah kelapa yang terletak antara Laut Arab di barat dan Ghats Barat ke Timur di wilayah selatan India di Asia. Cerita mengenai Kerala dikenal termasuk masyarakat India terbersih dan paling maju dengan seratus persen melek huruf. Seolah Kerala seluruh diberkati dengan keindahan alam yang melimpah.

Secara kultural, Kerala juga merupakan satu-satunya negara bagian di India, dimana kerukunan beragama terjalin secara alamiah dengan tingkat toleransi yang tinggi. Sesuatu yang bagi India keseluruhan masih membutuhkan perjuangan panjang, berdarah, dan melelahkan. Dan kalian tahu sendiri bukan kalau saya senang sekali menikmati perjalanan menelusuri sejarah, bangunan dan budaya termasuk masyarakat lokal.

Pernah Gagal Tapi Saya Bangkit Kembali

Tahun berikutnya, Yayan memberitahu saya kalau Kerala Blog Express Session 4 akan dibuka jadi saya perlu persiapkan diri untuk pendaftaran kompetisi kalau masih berminat ikutan. Tentu saja dong saya tidak ingin menyiakan kesempatan untuk mendaftar dan mendapatkan pengalaman #TripOfALifetime dua minggu di Kerala.

Saya dengan modal semangat mulai melakukan pendaftaran menjadi partisipan. Who knows God plan saya bisa lolos di session 4 saat itu. Namun, rejeki berkata lain saya pun tidak masuk sebagai partisipan sehingga saat itu saya hanya bisa memberikan suara vote saya untuk semua partisipan negara kita, ya Indonesia.

kerala-blog-express
Bang Indra dan Yayan

Ternyata di Kerala Blog Express session 4 diwakilkan oleh Bang Indra, asal Lampung. Dan saya baru pertama kali jumpa dia saat perjalanan ke Krui dan berjumpa dengan dia yang menjemput saya dan Yayan di stasiun kereta. Ya ampun… saya berjumpa langsung sama bang Indra yang notabene sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Kerala dalam beberapa waktu lagi.

Kami tiba di rumah dan sudah melihat koper besar yang akan dia gunakan untuk berangkat ke Kerala selama 2 minggu. Dalam hati terbesit, tahun depan pasti giliran saya.

Jadi Duta Bangsa untuk Kerala Blog Express Session 5

Bermodal informasi yang saya baca di internet, serta semangat cerita dari teman-teman saya yang sudah pernah mengikuti Kerala Blog Express mulai dari session 1 (Taufan Gio & Dina “Dua Ransel”), 2 (Donna Imelda), 3 (Haryadi Yansyah), dan 4 (Indra Pradya) maka saya pun memberanikan diri untuk mengikuti Kerala Blog Express session 5 di tahun 2018 ini.

Alhamdulillah, ada nama saya masuk sebagai partisipan di Kerala Blog Express Session 5 bersama beberapa nama blogger lainnya asal Indonesia. Ya, saya sedang berjuang untuk mendapatkan dukungan dari kalian, agar salah satu atau salah dua dari kami bisa terpilih dari Indonesia untuk #TripOfALifetime di Kerala selama dua minggu.

Para partisipan Kerala Blog Express Session 5 asal Indonesia

Kerala Blog Express adalah pertemuan tahunan para blogger yang diadakan Departemen Pariwisata Kerala, India. Kali ini bagian wilayah Kerala, India mengundang para pejalan di seluruh dunia, Setiap tahunnya terpilh 30 blogger terpilih untuk mengambil bagian di kegiatan road trip selama dua minggu.

Ikutin cara votingnya sebagai berikut ya:

  1. Buka https://goo.gl/e1c5Ub

  2. Pada halaman login, daftarkan diri Anda sebagai VOTER (pilih “Register with Email”). Isi nama, email, dan password untuk login ke situs voting.

  3. Nanti akan ada email masuk untuk memvalidasi data. Agar voting kalian bisa terhitung valid.

  4. Masuk kembali ke halaman voting (Menu Entries) dan tekanlah tombol “VOTE NOW” pada nama saya.

  5. Voting akan valid saat tombol VOTE NOW berubah menjadi VOTED.

Gaes, sebelum kalian berkata : Enak sekali ya jalan-jalan gratis. Saya akan meluruskan pandangan dari kalian bahwa apa yang terlihat enak saat jalan-jalan yang bersponsor tentunya tidak serta merta gratis. Sebab saya harus menukarnya dengan tulisan dan foto agar kalian bisa ikut menikmati apalagi menjadi inspirasi. Demi apa? Masing-masing kita memiliki passion yang bisa membuat kita rela melakukannya. Saya pun demikian.

If you are think more, salah satu manfaat dari mengikuti Kerala Blog Express ini kita secara tidak langsung menjadi duta bangsa untuk mengenalkan indahnya Indonesia sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia memiliki alam yang sangat indah. Sehingga akan menjadi kesempatan bagi mereka dari luar sana untuk datang ke Indonesia. Selain itu, dapat menjadi ajang pertukaran budaya bagi kita mengenalkan asal daerah kita sendiri.

Support me for Kerala Blog Express Session 5

Kompetisi ini memang bukan saja dinilai dari banyaknya perolehan suara voting, melainkan juga dinilai dari kualitas blog serta pengaruh media sosial kita. Namun, perolehan voting juga termasuk salah satu alat ukur bagi Dinas Pariwisata Kerala untuk memilih saya.

Satu email hanya untuk satu suara saja, tapi kalian bisa memberikan dukungan ke semua partisipan Indonesia. Sehingga apabila kalian memiliki email yang banyak dan terverifikasi sudah pasti boleh memberikan dukungan lebih dari satu suara.

Siapa pun nanti yang akan berangkat di Kerala Blog Express session 5 ini adalah takdirnya. Bisa saja teman-teman blogger lain dari Indonesia yang terpilih atau memang takdirnya saya untuk berangkat. But, I’m already so wet, I’ll finish it until it’s done. Seperti kata Yayan dan Bang Indra, sudah cebur di kolam, ya kepalang basah teruskanlah.

Sebelum kalian kecewa pada saya, saya hanya ingin memberi tahu kalau tentu saya tidak bisa membalas kebaikan kalian saat memberikan voting dalam bentuk materi. Selama saya mencari dukungan voting, ada juga teman-teman blogger lain juga ikut membagikan informasi voting. Saya sangat terharu.

Apa yang bisa saya berikan pada kalian adalah cerita perjalanan dari kacamata saya di Kerala serta suguhan foto-foto cantik yang bisa menjadi bahan referensi kalian.

Mohon berkenan mendukung lokal Blogger, perwakilan Blogger dari Indonesia, di pengalaman Kerala Blog Express Season ke-5 ini dengan vote dari kamu semua. Pengumpulan voting akan ditutup hingga Rabu, 10 Januari 2018.

Matur suwun sebelumnya atas bantuan kalian yang sudah memberikan voting.