Dikalaku Tua Nanti

mom never dies korean 2007 - Dikalaku Tua Nanti“Nona Lee … Perlu tiga tahun surat-suratmu mencapai hatiku. Aku buta ketika aku bisa melihat. Aku tuli ketika aku bisa mendengar. Satu malam, dalam mimpiku seekor burung angsa memimpinku ke lembah musim dingin dimana ranting emas tumbuh. Di sana aku melihat engkau, Nona Lee, bersinaran dalam emas. Menunggu musim semi untuk datang. Kau hidup selamanya dalam hatiku, melihatku di bumi. Nona Lee ..! Young Hee, aku tidak tahu harus memanggilmu apa … aku akan memanggilmu ibu, i love you.”

Kutipan di atas merupakan inti cerita dari drama korea berjudul Mom Never Dies. Cerita tentang figur seorang ibu tentu bisa menitikkan air mata setiap orang yang menonton, termasuk aku. Naik turun emosi terpancing untuk bilang iya.. aku juga pernah berbuat hal demikian sama mamaku tears - Dikalaku Tua Nanti .

Kisah tentang kasih sayang seorang ibu, Miss Lee. Ia punya tiga orang anak; anaknya yang perempuan sudah meninggalkan rumah untuk yang pertama. Anak yang kedua, cowok juga meninggalkan rumah lantaran menikah. Anak yang terakhir, mendapat pesan dari kedua kakaknya untuk menjaga ibu mereka.

Si bungsu ini namanya Choi-In Ho (sekaligus penulis skenario drama ini), seorang penulis dan sudah banyak mendapat penghargaan. Suatu ketika, Choi-In Ho ini ketemu sama seorang cewek yang ia sukai. Sayangnya si perempuan nggak menyukai Miss Lee dan meminta Choi-In Ho untuk meninggalkan ibunya. Si anak jadi serba salah, tapi akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan meninggalkan ibunya sendiri.

BACA JUGA :  Ini Passionku, Apa Passionmu?

Di usia Miss Lee yang makin tua, ia justru berada sendirian di sebuah rumah khas Korea. Musim berganti musim, dari salju yang menutupi rumahnya sampai bunga-bunga berguguran. Miss Lee masih senantiasa menanti anaknya yang bungsu itu. Di dalam kesepiannya, kasih sayangnya yang nggak pudar terus mendorongnya untuk mengirim surat, tapi puluhan surat yang Miss Lee kirimkan selalu kembali ke alamat rumah Miss Lee karena ia tidak tahu dimana keberadaan anaknya, hanya mengandalkan nama besar dari anaknya sebagai penulis.

Banyak kilas balik dalam film berdurasi 2 jam ini. Dari masa kecil Choi-In Ho, sampai ia dewasa. Ada juga masuk ke masa kini, saat Choi-In Ho tua dan kembali ke rumah yang telah lama ia tinggalkan. Rumah itu sudah lama ditinggalkan dan hanya ada perabotan penuh dengan debu yang menjadi saksi bisu atas kenangan-kenangan bersama ibunya. Akhirnya dia menemukan tumpukan surat-surat yang tidak tersampaikan selama puluhan tahun. Choi-In Ho membaca dan ada sesal di sana serta ada harapan besar kalau ibunya akan kembali padanya.

BACA JUGA :  Ndok, kamu prioritasin yang mana?

* * *

Tiba-tiba aku teringat sama mamaku yang besarin aku sama kakakku berdua. Huff… aku lebih terenyuk lagi waktu dialog antara kakak keduanya sama Choi-In Ho. Waktu si kakak bilang untuk menjaga ibu mereka karena dia akan menikah. Tapi Choi-In Ho bilang kenapa harus keluar dari rumah? kenapa nggak tinggal satu atap saja? Si kakak jawab kalau suatu saat Choi-In Ho akan menemukan jawabannya kenapa harus pisah dengan orangtua. If you were in my shoes…

Aku bercermin kalau aku pernah di posisi kayak gini, waktu aku bilang aku pengen merantau. Aku tahu itu menyakitkan dan sampai sekarang akupun belum siap untuk pisah dari mamaku, walaupun di bibirnya dia bilang mama nggak apa-apa, bisa menjaga dirinya sendiri. Aku diingatkan kalau tugas mama bukan hanya sekedar bangun pagi, menyiapkan bekal untukku, memberi uang yang nantinya aku pakai untuk ongkos dan makan siang, karena upah dari kerjaanku itu belum mampu menutupi biaya hidupku 🙁

BACA JUGA :  I Surrender to Your Control

Duh.. aku jadi kangen peluk mamaku… gelitikin dia.. bercanda.. melihat dia tersenyum dan melepas penatnya dengan pijatin mama.

Film ini juga mengajarkan kalau mencari pasangan hidup, hal yang pertama yang dilihat apakah dia juga menerima orangtua kita? Sering aku temui kalau ada pasangan yang nggak mau terima orangtua kita, menghasut pasangannya agar segera pindah dari kediaman orangtua dengan alasan ingin membangun kehidupan rumah tangga sendiri tanpa campur tangan dari orangtua.

IMHo, fleksibel aja kalau soal ini. Biasanya kalau adat, istri ikut suami dan tinggal sama orangtua suami. Tapi kalau misalnya kepengen pisah dari orangtua yaaa boleh saja. Namun yang lebih penting itu adalah bagaimana supaya istri tetap hormat sama orangtua suami.

p.s : Semoga kalian juga bisa menekspresikan perasaan kalian sama mama/ibu/bunda/umi

Advertisements
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

4 thoughts on “Dikalaku Tua Nanti

  1. Namun yang lebih penting itu adalah bagaimana supaya istri tetap hormat sama orangtua suami.
    ini pekerjaan mulia seorang suami, tetapi harus dimulai dulu : suami jg hormat kepada orangtua istri. bagaimana pun, orang tua dia (akhirnya) akan menjadi orang tua kita juga.

  2. Memang, anak wajib merawat ortunya waktu lanjut usia. Di pihak lain, ortu wajib mengerti bahwa anak udah besar dan ingin punya keluarga sendiri. Jalan tengahnya, anak wajib memastikan ortunya sehat dengan selalu berkomunikasi dengan baik. Nggak mesti tinggal serumah, tapi bisa dengan rutin menelepon atau rutin berkunjung.

    Dan mertua dan menantu harus akur. Karena mertua harus memperlakukan menantu seperti anak sendiri, begitu juga menantu harus memperlakukan mertua seperti orang tua sendiri.

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.