[Ngerumpi] Bekerja untuk apa?

Ada banyak obrolan yang terjadi sambil menikmati waktu makan siang bersama rekan-rekan kerja di kantor. Betul bukan? Kapan lagi punya waktu untuk kumpul bersama dan saling ngerumpi.

Seorang teman; sebut saja Pak De, mulai buka bahan rumpian. Kamu yang cewek, apa kamu bakalan tetap kerja kalau sudah punya anak?

Sambil tetap menikmati makan siang saya, pertanyaan dari teman mulai dapat respon. Kompak mereka jawab kalau masih akan tetap bekerja.

Alasannya:
1. Buat apa ijazah sarjana itu kalau nanti akhirnya kembali ke dapur?
2. Kalau suami macam-macam sewaktu menikah, istri tinggal tendang keluar si suami karena istri sendiri sudah bekerja.

Lalu Pak De kembali bertanya. Sebagai seorang suami dan seorang papa kalau dia rela melepaskan pekerjaannya semata-mata demi anaknya. Asal apa yang telah dia dapatkan saat ini adalah the best. Sayangnya, sekarang dia belum menemukan yang the best sesuai kriteria teman. Dari senin sampai minggu. Dari pukul 8 pagi sampai 9 malam dia juga tetap harus bekerja.

Sama seperti saya, saya juga merasakan hal ini. Capeknya bekerja 12 jam bahkan lebih setiap waktu. Hasil yang diperoleh juga belum mampu untuk kredit rumah atau mobil.

Pak De menambahkan kalau sering kali dia pulang ke rumah dan melihat anaknya sudah tidur dengan pulas. Istrinya menjawab kalau si anak tadi menunggu papanya pulang, tapi lantaran pulangnya larut, si anak sudah tidur. Besok pagi waktu papanya berangkat kerja, dia sudah gak bisa melihat wajah papanya.

Miris tapi ini ada.
Saya suka tanya sama diri saya, buat apa kerja sampai begitu? Workaholic. Kasarnya kalau nanti kamu sudah gak ada, kantor cuma kirimin karangan bunga ucapan turut duka cita sama kematian kamu.

Sampai Pak De sendiri gak tahu perkembangan anaknya sendiri, dia sering menangis sewaktu melihat foto-foto perkembangan anaknya. Tiap kali dia melihat foto anaknya, selalu ada hasrat dia ingin ada di dalam foto bersama anaknya.

Saya jadi teringat ada sebuah cerita tentang seorang anak yang ingin membeli waktu ayahnya agar si ayah dapat bersama dengan dia. Cerita ini sudah banyak beredar di internet dengan berbagai versi penceritaan, tapi maknanya tetap sama.

Tanpa kita sadarin, keluarga kita  membutuhkan kasih sayang, komunikasi, perhatian dan kebersamaan.

p.s : Ngerumpi nyookk..

Advertisements
BACA JUGA :  Ternyata nyerobot itu asik...
Deddy Huang

A copy of my mind about traveling, culinary and review.

3 thoughts on “[Ngerumpi] Bekerja untuk apa?

  1. Wah, tendang keluar, berarti dari sebelum pernikahan pun bibit kehancurannya sudah mulai disiapkan untuk ditanam tuh 😀

    Huang : Yaaa buat jaga-jaga lah mas 🙂

Silahkan tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.