Si Pencuri Mimpi


Semalam saya ikuti acara di gereja yang dibawakan oleh Dr. Andik Wijaya, MRepMed, founder Yada Institute. Hal yang dikatakan olehnya adalah hal yang membatasin kehidupan seseorang adalah bukan karena drugs atau seks bebas. Akan tetapi, hal terbesar itu adalah karena tidak punya mimpi!

Saya pernah buat postingan tentang topik serupa, bahwa selama mimpi itu masih GRATIS! Coba pikir, di dunia ini apa ada yang gratis? Kalaupun jawabannya ADA, itu tentunya dibutuhkan pengorbanan. Misalnya, kita ditraktir oleh teman, nah si teman itu kan juga butuh pengorbanan buat dapatin duit? Mana sisi gratisnya?

Namun, dalam hal untuk bermimpi nggak jarang kita akan dihadapin sama Si Pencuri Mimpi. Pencuri Mimpi inilah yang akhirnya buat kita down atau putus asa buat kejar mimpi kita. Ironisnya, pencuri mimpi ini disadari atau nggak berada di sekitar kita.

Keluarga

Dari kecil sampai dewasa, keluargalah yang mungkin orang terdekat. Saat anak menceritakan mimpinya, seringkali sebagai keluarga bukanlah mendukung, melainkan langsung membentangkan jurang pemisah kalau si anak itu nggak bakalan mampu.

Teman

Adakah teman yang setia? Saat kita menyuarakan kalau kita pengen for a better living, nggak jarang juga teman langsung memandang seolah-olah kita hanya bermimpi.

Lingkungan

Waktu kita melihat kemampuan orang yang lebih dari diri kita, itulah yang menjadi pencuri mimpi. Namun, harusnya disadari bahwa Tuhan ciptain kita sesuai kapasitas kita, bahwa diri kita sendiri juga punya kemampuan yang mungkin lebih.

Iklan

11 pemikiran pada “Si Pencuri Mimpi

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s