Sok Tahu dan Tahu Tapi Tidak Mengerti


Sok tahu bisa disebabkan oleh keinginan untuk dianggap tahu atau paling tahu, penting dan berpengaruh. Sering kali orang seperti itu bertingkah laku menyebalkan dan agak memaksakan pendapat mereka kepada orang lain.
Sedangkan kelompok orang yang hanya sekedar tahu tetapi tidak mengerti adalah kelompok yang mungkin hanya ingin tahu tanpa ingin mengerti atau tahu tetapi tidak dapat mengerti. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh kurang luasnya wawasan pemikiran yang disebabkan oleh ruang lingkup pergaulan yang terbatas, akses pengetahuan yang terbatas juga, dan sebagainya.
Kelompok orang yang tahu tetapi tidak mengerti, bisa menjadi kelompok orang yang sok tahu, atau bahkan yang lebih berbahaya lagi adalah membangun asumsi/pengertian dari pengetahuan yang terbatas tersebut, dan mungkin saja pengertian itu salah atau malah menyesatkan.
Baik kelompok sok tahu maupun kelompok tahu saja tetapi tidak mengerti, sama berbahayanya. Karena itu, carilah, bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengertian, karena dalam pengetahuan terdapat kepintaran, tetapi dalam pengertian terdapat kebijaksanaan.

Kemarin sidang laporan akhir siswa bimbingan aku. Aku terkejut aja waktu dia keluar dari ruangan sidang dan mimik mau nangis, setelah aku tanyain dia ngomong kalo judul laporan dan projek akhir yang dia buat itu beda. Sontak aku terkejut dong, mana saat itu aku juga lagi jadi penguji. Judul laporan siswaku tentang desain katalog, sedangkan yang dia buat dikatakan hasilnya sebagai brosur. Oke, mungkin sebagai pembimbing aku kurang mengawasi masalah judul, karena kemarin yang aku lihat gimana si siswa ini selesain projeknya. Bukankah biasanya orang menulis sesuatu judul baru belakangan? Atau kalau dalam membuat laporan akhir: mencari masalah yang akan diselesaikan/dibahas kemudian judul belakangan?

Dua penguji sidang siswaku ngomong kalo siswaku nggak lulus, dikarenakan judul sama projeknya beda. Dan itu menurut mereka fatal. Dan itu juga bagi mereka kalau meluluskan siswaku akan dipertanyakan kredibilitas mereka sebagai penguji! Okelah.. i could understand, lagipula aku nggak bisa bilang sama si penguji: Lu lulusin aja siswa gue. Soalnya hakimnya kan si penguji, aku sih terima aja keputusan dari penguji. Hingga akhirnya mereka bilang kasih kesempatan buat revisi laporan dan projek siswaku.

Hanya ada dua opsi:

  1. Siswaku TIDAK LULUS dan TURUN ANGKATAN. Otomatis dia harus membayar sekitar 500 ribu untuk mengulang lagi.
  2. Siswaku REVISI dan diberi waktu 1 minggu untuk rombak semuanya. Yang jadi pertanyaan apa siswa ini sanggup buat merombak desain yang dikatakan brosur jadi katalog?

Cuma dari dua opsi yang ditawarkan, tentu pilih yang nomor 2, karena masih ada harapan 1 minggu lagi dan aku bilang bakalan bantu dia sepenuhnya.

Aku balik lagi ke ruangan sidang dan melanjutkan tugasku jadi penguji. Cuma aku masih kepikiran sama siswaku, aku coba googling untuk cari referensi apa sih yang membedakan katalog sama brosur? Sebenernya yang jadi inti masalah adalah bentuk dan informasi di dalamnya. Siswaku membuat dalam bentuk kertas A4 yang dilipat 3, dengan informasi yang detil. Sementara persepsi dari kedua penguji itu kalau katalog itu bentuknya buku.

Puji Tuhan, akhirnya aku dapat referensi dari hasil googling dan bertanya sama orang yang berkompeten yang memang lulusan desain komunikasi visual. Hasil googling ku mengatakan kalau katalog itu bentuknya selain buku juga ada bentuknya lembaran kertas A4 yang dilipat 3. Dan jawaban dari orang yang berkompeten itu kalau memang boleh katalog berupa lembaran kertas A4 yang dilipat 3 atau 4. Hanya yang membedakan di sini antara brosur dan katalog adalah dari sisi informasi. Informasi untuk brosur singkat saja, katalog lebih spesifik/detil.

Lho!! berarti siswaku nggak salah dong kalau dia buat begitu! bzzAku merasa harus berjuang buat siswaku karena memang dia benar, di samping untuk mengembalikan kredibilitas aku sebagai pembimbing. Segera aku telepon siswaku mengatakan kabar baik ini, kalau projek yang dia buat nggak harus dirombak total. Palingan hanya menambahkan 1 lipatan lagi dari 3 lipatan yang dia buat.

Fiuh… baru bisa bernafas lega?

Ternyata belum!!pif

Aku ingat seandainya siswa ini lulus, tentu dia akan lulus dengan nilai pas-pas-an. Kenapa? Dari awal dua penguji itu udah punya persepsi kalau katalog itu bentuknya buku, sementara siswaku buat dalam bentuk lembaran A4 yang dilipat 3. Sangat disayangkan bukan? Dua penguji itu menilai secara tidak keseluruhan hanya dikarenakan mereka orang dalam kelompok sok tahu dan tahu tapi tidak mengerti. babi_geram2

Aku pikir udahlah… kemarin aku terlalu banyak berpikir, sampai aku capek sendiri pas balik rumah. Aku ambil hikmahnya saja dari kejadian ini, kalau bersyukur siswaku masih ada kesempatan untuk revisi dan berharap lulus.Β  Selain itu aku belajar untuk berani bicara karena memang posisiku benar, disamping aku jadi tahu karakter orang sok tahu dan tahu tapi tidak mengerti.

p.s : Eh aku dapat sms dari siswaku yang satunya lagi. Dia kabarin aku kalau sidang laporannya lulus. Aaahh.. leganya dapat berita begitu bukan? Juga thank’s buat sahabatku, Jim atas SIM (SMS Inspirasi Motivasi) kemarin pagi.

Iklan

15 pemikiran pada “Sok Tahu dan Tahu Tapi Tidak Mengerti

  1. Lho…
    pak dosen ternyata ya?
    baru tau πŸ˜‰

    anw.. persepsi orang bisa beda akan suatu hal simply because they get used to with one thing.
    Ya seperti itu, bahwa katalog itu buku…

    anw.. yg penting lulus πŸ™‚
    amiiin
    ikut seneng..

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s