Kaum Minoritas ditengah Kaum Mayoritas


2

Ada beberapa yang nanya sama aku, kenapa aku enggak merintis untuk membuka usaha? Karena mayoritas anggapan orang untuk orang chinese adalah pengusaha. Entah itu berjualan nasi bungkus di warung atau restoran, berjualan baju, atau alat-alat berat kontraktor. Sama juga anggapan kalau orang pribumi itu profesinya adalah PNS. Aku bukannya risih sama anggapan itu, yaa kalau emang aku ada tampang buat jadi pengusaha.. ya why not? Puji Tuhan kaan… at least aku bisa membuka lapangan usaha dan mempekerjakan beberapa orang sehingga mereka nggak menganggur. Amin.

Sedangkan, kenapa orang mau jadi PNS? karena persepsi kerjaan PNS itu nyantai dan paling penting punya tunjangan untuk anak dan istri. Cuma, setelah aku baca berita di koran tentang kesukaan oknum PNS membolos pada jam kerja atau hari libur rasanya nilai PNS turun jadi 6 deh. Dan rasanya kesempatan orang tionghoa untuk jadi PNS kan kecil? sama kayak kemarin pas pemilihan DPR, apa ada tampang orang tionghoa? Bisa dibilang: jangan merebut lahan orang lain.

Aku ingin menulis tentang apa yang aku rasakan dari anggapan tersebut. Semoga ini bukan suatu pandangan radikal tentang kaum mayoritas dan minoritas. Menjadi masyarakat di kaum mayoritas tentunya sering mendapat diskriminasi tentang ras. Itu dulu kerasa banget, tahun rezim Soeharto yang melarang masyarakat minoritas untuk merayakan hari raya Imlek sehingga masyarakat tionghoa harus bersembunyi untuk merayakannya.

Ditilik dari nenek moyang, memang orang tionghoa umumnya menjadi pedagang, jadi emang nggak ada yang salah dengan anggapan tersebut. Jadi apa yang bikin salah dong?? Pola pikir yang mengarah ke pikiran negatif, pola pikir kalau orang tionghoa itu kaya raya sehingga menjadi sasaran empuk bagi orang mayoritas untuk disantap. Masih inget kan waktu kerusuhan tahun 1998? Bagaimana toko-toko orang tionghoa jadi sasaran utama untuk dijarah dan perempuan-perempuan tionghoa yang putih mulus jadi sasaran perkosaan massal.

Sekarang, pola pikir yang seperti orang tionghoa adalah orang kaya ini masih terbentuk. Contoh kecil yang aku alamin di lingkungan perumahan yang mayoritas orang tionghoa dan ada beberapa orang pribuminya. Waktu hari raya Idul Fitri kemarin udah ada amplop putih yang nangkring dengan tujuan THR untuk para penjaga keamanan di lingkungan rumah. Jadi, kita diminta sumbangan ‘suka rela’ untuk menyantunin THR buat mereka. Coba kamu bayangin, wong kamu yang lebaran, kenapa harus orang tionghoa yang membiayai THR? Sebaliknya nanti, pada saat orang tionghoa merayakan hari raya Imlek, mereka juga meminta ‘angpao’. Helloooooo…….

Tapi udahlah, ini masalah kecil. Yaa… masalah kecil yang makin lama bakalan bertumpuk kalau didiamkan begitu saja. Dan ini hanya ulah oknum yang ingin mencari kesempatan. Balik lagi ke topik, apa membentuk orang tionghoa menjadi pengusaha?

Aku mengutip dari tulisan Bapak Jusuf Kalla:

Seorang pengusaha dibentuk oleh lingkungannya. Yang mana, lingkungannya mengarahkan dia untuk menjadi pengusaha. Bisa karena ia lahir ditengah keluarga pengusaha, bisa juga ia banyak bergaul dengan pengusaha atau keadaan yang memaksa untuk jadi pengusaha. Nah untuk itulah mengapa orang Tionghoa memilih jalur menjadi pengusaha. Yang pertama mereka dianggap sebagai pendatang, sehingga agak susah untuk menjadi pegawai. Apabila pada zaman dulu, setiap warga keturunan harus mempunya surat keterngan dan sangat susah menjadi PNS. Sehingga akhirnya untuk makan ia harus berusaha kecil-kecilan kemudian lama lama menjadi besar. Kemudian punya anak, dari kecilnya anak-anak orang Tionghoa sudah terbiasa dengan kehidupan Toko, lahir di Toko, Hidup di Toko maka besarnya ia akan menjadi Ketoko-tokoan atau dalam kata lain terbiasa dengan kehidupan toko, dan dagang.

Jadi tidak benar kalau orang Tionghoa dilahirkan untuk menjadi pengusaha. Ia hanya dibentuk oleh lingkungannya untuk menjadi pengusaha. Sama halnya dengan orang Bugis yang banyak merantau, ini ada korelasinya dengan tingginya mahar, untuk itu para pemuda banyak keluar kampung untuk mencari rezeki, setelah punya banyak uang dia pulang kampung dan melamar gadis pujaannya. Jadi ia dibentuk oleh budaya Mahar yang tinggi sehingga bekerja keras untuk bisa memenuhi hal tersebut.

Jangan dilihat dari enaknya kalau punya toko. Punya toko/usaha kalau enggak dikelola dengan baik bakal gagal belum lagi setiap pagi harus duduk dan menjaga tokonya sendiri. Kebayang nggak jenuhnya? Duduk sebagai kasir untuk tokonya sendiri?

p.s : Terima kasih atas doanya kalau saya digariskan untuk menjadi pengusaha. Amin.

5 pemikiran pada “Kaum Minoritas ditengah Kaum Mayoritas

  1. __kebayangkok huang…pasti sangat bosan,,tapikan__
    __tapikan improvisasi plus aksi huang..biar gak bosan__

    __briaktifitas dulu iaa..SEMANGAAT CIIIAT__

    __kamu sehat selaloee ia..brisayang kamulooh^^__

    Huang : Makasih bri πŸ™‚

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s