Perempuan tanpa “V” dan Laki tanpa “P”


Andai laki dan perempuan itu tidak ada?

Sering aku berpikir demikian tentang demikian. Bukan untuk menghilangkan jenis kalau laki-laki dan perempuan. Tapi aku ingin menghilangkan batasan-batasan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Batasan-batasan tentang kodrat laki dan perempuan.

Kodrat laki itu jantan dan perempuan itu kemayu. Kodrat pekerjaan laki itu kasar dan perempuan itu halus. Maka nggak akan ada pandangan kamu laki kenapa kerja pekerjaan perempuan? bahkan sebaliknya perempuan yang mengambil lahan pekerjaan laki.

Sekarang, jika laki kerja di salon dibilang mau jadi bencong ya? Tapi coba kalau perempuan yang kerja jadi satpam, pol pp, atau montir. Tentunya pekerjaan mereka disanjung-sanjung oleh karena kehebatan mereka dan besoknya stasiun televisi bakalan meliput kisah hidup mereka. Padahal laki yang bekerja di lahannya perempuan juga nggak kalah hebatnya toh.

Sighs.

Kadang aku justru yang sering merasa laki itu lebih terdiskriminasi sama pola pikir yang pada akhirnya membentuk paradigma-paradigma yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Contoh sepele lainnya, perempuan kalau pipis berdua atau gandengan tangan sudah dianggap biasa. Nah coba kalau laki?

Tapi karena aku sudah terlahir dengan jenis kelamin laki, apa mau dikata selain menerima kondisi yang telah ada. 😀

p.s : To hell with you lah…

Iklan

26 pemikiran pada “Perempuan tanpa “V” dan Laki tanpa “P”

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s