Heningku di Pagar Alam


Ini kali pertama aku berlibur ke Pagar Alam.

LETAK GEOGRAFIS DAN TOPOGRAFI DAERAH PAGAR ALAM

Kota Pagar Alam masih termasuk dalam wilayah propinsi Sumatera Selatan, letaknya sekitar 298 Km dari kota Palembang. Perjalanan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 8 jam menggunakan jalan darat dan tidak ada jalan alternatif lain. Dimulai dari kota Palembang, melewati Jembatan Musi II dan Inderalaya. Lalu masuklah kita ke kota Prabumulih, Tanjung Enim, Muara Enim, Lahat, dan terakhir Pagar Alam.

Dengan perjalanan seperti ini, setidaknya kita sudah bisa menikmati 5 pemandangan kota yang berbeda. Menarik bukan?

Kota Pagar Alam ini punya banyak sungai, diantaranya sungai Lematang Indah, Selangis Besar, Selangis Kecil, Air Kundur, Betung, Air Perikan. Selain itu terdapat air terjun yang indahnya, misalnya Air Terjun Lematang Indah, Curug Embun dan Curug Mangkok. Untuk geografi, terletak di bawah kaki Gunung Dempo sehingga iklim di Pagar Alam terasa dingin (sejuk). Tak elak air disana terasa seperti air es. Selain itu bentuk permukaan tanahnya bervariasi dimulai dari dataran sampai bergunung. Oleh hal ini akses jalan lebih didominasi oleh bentuk jurang, tikungan tajam dan bergelombang.

Menurut kaca mataku, kota Pagar Alam ini punya potensi yang baik sebagai kota Pariwisata dan kota Bunga. Nyatanya kota Pagar Alam ini merupakan daerah penghasil sayur mayur dan buah-buahan. Hal ini didukung oleh cuaca yang sejuk sehingga mayoritas tanaman teh hijau seperti ‘simbol’ dari kota ini. Jika pemerintahan Pagar Alam dapat mengelola dengan baik, tentunya produk-produk pariwisata dari Pagar Alam ini dapat dijual ke mancanegara ataupun wisatawan lokal.

JURNAL LIBURAN

Sebelum sampai ke Pagar Alam, kami bermalam di rumah teman di kota Lahat. Lantaran keadaan tidak memungkinkan untuk kami melanjutkan perjalanan di tengah malam dengan keadaan jalan rawan terjadi kecelakaan. Kota Lahat sendiri kota yang cukup sejuk, mungkin daerahnya masih berdekatan dengan kota Pagar Alam. Lahat terkenal dengan gunung Jempol, begitu kata orang. Ada yang bilang gunung tapi ada juga yang bilang bukit. Kemudian kenapa dibilang jempol, karena bentuk gunungnya seperti kepalan tangan dengan jempol mengacung ke atas. Perjalanan dari Palembang ke Lahat memerlukan waktu sekitar 7 jam, karena kami berangkat dari pukul 4 sore dan tiba pukul 10 malam. Sisa waktu kami pakai untuk makan malam dan sholat.

Pagi harinya barulah kami melanjutkan ke Pagar Alam, kurang lebih 1,5 jam perjalanan dan dari arah kejauhan gunung Dempo berdiri dengan gagahnya di tengah kota. Sungguh pemandangan yang membuat kami berdecak kagum akan hasil karya Sang Pencipta.

Kemudian dilanjutkan dengan memesan vila yang terletak sekitar 7 Km dari bawah kaki gunung Dempo. Secara langsung kita akan langsung dapat melihat betapa besar dan tinggi gunung Dempo ditambah hamparan luas daun teh hijau. Sekitar pukul 9 pagi gunung Dempo sudah mulai tertutup oleh kabut yang tebal di sekeliling gunung, tapi jika kamu bangun sekitar pukul 5 pagi kamu akan lihat dengan telanjang mata bagaimana bentuk gunung Dempo seutuhnya.

Setelah meletakkan barang di dalam vila, kami bergegas untuk pergi ke Air Terjun Curug Embun, tadinya mau ke Air Terjun Lematang Indah tapi dibatalkan karena lokasinya jauh dari vila kami. Air Terjun Curug Embun sendiri tidak kalah indahnya dengan Lematang Indah, yang membedakan hanya bentuk air terjunnya saja. Kalau Curug Embun airnya langsung jatuh ke bawah, sedangkan Lematang Indah bentuknya seperti anak tangga sehingga air yang turun tidak langsung ke bawah.

Setelah puas bermain air dan seluruh badan basah dan kedinginan, kita balik ke vila dan menghabiskan malam di dalam vila sampai esok paginya.

Paginya melihat bagaimana ibu-ibu memetik daun teh, kemudian untuk para laki memetik teh dengan menggunakan mesin. Aku sempat mengira mereka menggunakan sapi, karena mesinnya dari arah kejauhan mirip seperti sapi. Dan tidak terlalu rumit untuk memetik daun teh, karena yang dipetik adalah daun yang masih muda dan hijau, sementara daun yang sudah tua dipakai untuk dibuat teh hitam atau teh yang berwarna agak kehitaman.

Setelah puas, kita melanjutkan untuk naik ke atas gunung Dempo menggunakan mobil. Wah ini pengalaman yang sangat seru dan membuat menahan nafas sejenak sewaktu melewati tikungan-tikungan gunung yang tajam dan bergelombang. Untuk menghilangkan rasa tegang, kami berteriak dengan kencang. Dan kitapun sampai di Puncak Rimau. Dari puncak Rimau ini kita bisa melihat kota keindahan kota Pagar Alam seutuhnya dari atas.

Kita juga sempat terjebak kabut yang membuat lebih lama berada di atas. Soalnya dengan keadaan begitu sangat tidak memungkinkan untuk turun ke bawah. Yang pasti, selama di Pagar Alam hujan selalu turun bahkan bisa sampai seharian penuh. Selesai dari naik ke atas, rencananya kita mau ke Air Terjun Lematang Indah tapi sayangnya kita dapat info akses jalan ke sana sedang ada longsor makanya lebih baik dibatalkan saja niat ke sana.

Pulang ke vila dan bersiap besok balik ke Palembang…

TIPS

  1. Berapa hari yang kamu habiskan untuk liburan? Kebetulan perjalananku hanya 3 hari 2 malam, makanya aku nggak bawa yang terlalu banyak untuk pakaian. Aku hanya pakai tas ransel yang isinya 3 stel pakaian lengkap, underwear yang cukup dengan jumlah hari liburan.
  2. Jika memungkinkan ajak temen kamu yang berasal dari kota liburan kamu, atau orang yang benar-benar tahu dimana saja lokasi rekreasinya sampai daerah rawan.
  3. Pastikan tempat liburan kamu akan kemana saja. Kalau tempat liburan kamu ada airnya, nggak ada salahnya kamu bawa pakaian lebih.
  4. Bawalah beauty case kamu. Mulai dari peralatan mandi sampai wewangian, tisue dan tisue basah, alat make up.
  5. Bawa juga obat sesuai jenis penyakit kamu. Misalnya suka migrain atau asma. Kalau aku cuma bawa minyak kayu putih untuk penghangat.
  6. Bawa jaket, celana panjang dari kain untuk tidur karena pasti nggak nyaman kalau kamu tidur pakai celana jeans. Terus jangan lupa bawa kaos kaki.
  7. Selama liburan aku cuma pakai sendal jepit “Swallow”. Akan lebih baik kamu juga bawa sepatu olahraga atau sendal gunung untuk terhindar dari licin.
  8. Untuk masalah makanan itu sesuai dengan kebutuhan kamu. Kalau aku kemarin hanya bawa air minum 1,5 liter saja. Sisanya nanti sesampai di kota liburan pasti kamu bisa minta stop di mini market untuk beli persediaan makanan. Biasanya mie instan paling dicari soalnya tinggal diseduh air panas atau dimasak sebentar. Kalau aku lebih ke susu sama pisang karena bisa melancarkan pencernaan selama liburan kita pasti akan makan sembarang makanan. Intinya pas pergi jangan bawa barang terlalu berat, kecuali kalau kamu perginya bareng pasangan kamu/pacar.
  9. Boleh juga kalau kamu mau bawa kompor kecil, peralatan makan plastik tinggal buang.
  10. Berpergian pakai mobil, tune up dulu mobil kamu. Kemudian kalau bisa siapin sopir cadangan dan co-sopir.
  11. Jangan lupa! Kamera! inget ini saatnya kamu narsis mode on :p.

HIKMAH

Kalau dibilang kota ini sebagai dusun. Mereka yang bersahabat dengan alam akan tetap terus merawat, menjaga, dan menghasilkan hasil alam. Sedangkan mereka yang menjadi musuh dengan alam akan tetap terus merusaknya. Perjalanan 3 hari 2 malam ini membuatku semakin kagum akan Sang Pencipta. Bagaimana Dia dapat membuat semua yang aku dan kamu lihat sekarang?

Dusun mereka nggak ada bangunan tinggi, nggak ada tempat bermain seperti Timezone atau makanan selezat Pizza Hut. Yang ada hanya hamparan sawah hijau, air yang sejuk dan setiap hari mereka hanya mengurusi tanah milik mereka. Sisanya palingan kerja jadi PNS atau home industry yang dijual ke Palembang. Lalu aku berpikir dan menemukan jawabannya. Pola pikir mereka juga nggak neko-neko seperti orang kota. Asal dapat makan hari ini kenapa harus repot memikirkan hari esok? Sederhana sekali.

Dan aku kembali dirunut pertanyaan selanjutnya. Adakah orang dusun ingin ke kota dan mencari lapangan pekerjaan di kota? Aku nggak bisa menjawab. Sedangkan di kota juga susah menemukan lapangan serta pekerjaan yang cocok.

Tiap orang memiliki aktivitas masing-masing…

Dalam hening pikiran jadi jernih.

p.s : Airnya dingin sempat bikin malas untuk mandi. Tapi setelah dipikir sayang juga lewati momen mandi dengan air yang sejuk. Habis mandi terasa segar.

p.s : Aku nggak bawa buah tangan. Mau bawain alpokat, rambutan, durian, atau daun teh rasanya menambah berat bawaan ditangan. Karena di Palembang sendiri juga ada yang jual. Kupikir lebih baik membeli buah tangan yang nggak dijual di kota asal kita sendiri.

p.s : Jadi lebih baik aku bawa buah tangan berubah cerita lengkap beserta foto-fotonya :).

p.s : Berusahalah untuk nikmati perjalanan liburan kamu, jangan berharap lebih karena pasti keadaan nggak sesuai dengan yang kamu harapin. Misalnya kamu merasa bosen atau sebal dengan teman kamu. Nikmatilah!

14 pemikiran pada “Heningku di Pagar Alam

  1. hm,pagaralam emg indah,gmna rasanya di pagaralam?? smg menyenangkan,org pagaralam ya klo yg msh ingt adat istiadat ya gak neko2 tapi klo yg kna arus globalisasi ad jga yg neko2 tapi umumnya anak muda…..

    Huang : Betul itu πŸ™‚

  2. Ping balik: Catatan 3 Hari « Soul | Mind | Body | Huang

  3. alangkah indahe kota pagaralam makini, ngomong2 la 5 tahun ini dide balek?ngahi kance2 nek d luar klu ka balek informasi!!!

    Huang : Hayo balik kampung πŸ˜€

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s