Idea

Terminal Sementara


Jumat pagi…

Refleksi pagi di tengah hujan, mata saya masih berat untuk menikmati pagi hari ini. Saya harus bergegas ke makam papa. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya makan itu gak ada yang berubah. Bentuknya selalu sama terbuat dari batu dan ada nisan nama di depannya.

Tak ada kata yang terucap…

Suatu ritual yang perlu saya ikuti : memegang dupa, mengucap doa, membakar uang kertas.

p.s : Hidup ini hanya sementara

Tentang Deddy Huang

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

5 comments on “Terminal Sementara

  1. hidup [di bumi] ini hanya sementara ๐Ÿ˜€

    Huang : ๐Ÿ™‚

  2. hidup hanya persinggahan…

    Huang : Ntar lagi singgah di tempat mbak suzan ๐Ÿ˜€

  3. Yap. Masih ada kehidupan yang selanjutnya. ๐Ÿ™‚

    Huang : Apa?

  4. Abu Ghalib

    semoga dapat tempat yang sesuai

    Huang : Mas Abu udah punya tempat?

  5. betul sekali ,hidup ini hanyalah perhentian sejenak,bukan tujuan utama kita…

    Huang : ๐Ÿ™‚

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: