Belajar Lewat Deret Angka


1, 2, 4, 5, 6, 7, 9, 10

Perhatikan deret angka di atas untuk beberapa saat. Lalu, ceritakan ke saya apa yang dapat diceritakan dari deret angkat tersebut. Rata-rata 70% orang yang saya tanyakan lewat kelas training yang saya bawakan mereka sepakat jawab kalau tidak ada angka 3 dan 8. Kenapa bisa demikian?

Sebagai manusia sosial yang membutuhkan interaksi satu sama lain, ternyata sifat untuk selalu melihat kekurangan dari orang lain itulah yang paling dicari. Dari deret angka yang saya contohkan, kenapa tidak menceritakan kalau cuma ada angka 1, 2, 4, 5, 6, 7, 9, dan 10. Bisa juga ceritakan kalau andai saya punya uang sekitar Rp 124.567.910?

Saya punya pengalaman dengan seorang teman lama, dulu dia sempat bekerja di tempat saya saat ini bekerja. Tiap kali kita ngobrol lewat facebook messenger, dia selalu bertanya tentang kondisi ‘kantor dia yang lama’. Dimulai dari kebijakan manajemen dan renumerasi. Namun ujungnya dia juga membandingkan dengan perusahaan dia sekarang. Bagi saya, for what? Saya jamin jika kita punya mental seperti itu, mau berpuluh kali pindah ke tempat kerja yang baru juga sama, mengeluh dan mengeluh.

Saya akhirnya tersadar kalau memang kita selalu melihat kekurangan yang ada tanpa melihat kelebihan lain. Tertutup karena melihat jam kerja teman di perusahaan lain lebih cepat pulang, tapi tidak melihat di luar sana justru ada yang kepengen jam kerja lebih karena padatnya aktivitas. Melihat enak penghasilannya sebulan tapi tidak melihat tugas dan tanggungjawab mereka.

Apalagi waktu saya memberi training yang mana pesertanya adalah sales, mereka justru lebih banyak berkomentar tentang jeleknya produk yang akan mereka jual. Sungguh ironis padahal mereka sendiri harus menjual, bagaimana mereka bisa berjualan dengan angka fantastis kalau mereka sendiri sudah melihat kurangnya dulu?

Dulu saya di tempat kerja yang lama, saya sempat ngobrol sama teman kerja juga, opsinya ada 2 yaitu bertahan atau  jika tidak suka ya keluar saja. Opsi yang terakhir itu juga masih tetap menjadi opsi?

Saya jadi ingat kata-kata he-must not-be-named kalau selama masih bekerja janganlah mematikan asap dapur rumah tangga kita. Hindarilah pergaulan yang negatif karena tentunya mereka juga akan membawa negatif, misal konsultasi masalah keluarga dengan orang yang sudah bercerai tentu dia menyarankan untuk bercerai karena dia pun juga demikian.

Semoga tulisan saya bermanfaat dan menginspirasi.

Huang

Iklan

2 thoughts on “Belajar Lewat Deret Angka

  1. Inspiratif. Dulu saya juga begitu ketika baru kerja setelah lulus kuliah. Saya selalu mengira di luar lebih hijau, padahal pekerjaan kalau sudah disyukuri pasti terasa nikmat. Untuk saat ini, saya merasa menikmati pekerjaan saya walaupun kalau dipikir ada beberapa hal yg kurang enak, tp kalau kita sudah syukuri dan nikmati, semua terasa enak.

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s