Antara Solo dan Yogjakarta Kita Jatuh Cinta #JadiBisa


Keanggunan perempuan Jawa membatik memang tak diragukan. Alunan tangan nan gemulai saat melukis di atas kain yang mengagumkan. Melukis motif di atas kain dengan aliran malam keluar dari ujung carat yang terbuat dari tembaga. Lembut dan tenang. Setiap mengisi canting dia meniup ujung carat tuk mendinginkan suhunya agar malam mengalir dengan pas.

booking hotel online di traveloka
Pembatik wanita Jogja yang saya jumpai di Raminten
raminten jogja
Cairan malam

Saya duduk bersila menyaksikan dirinya memegang gagang canting. Ada rasa kagum yang terbersit. Mungkin dia mulai merasakan kehadiran saya tengah memperhatikannya dari balik kamera. Saya pun melemparkan senyum. “Ibu, saya minta izin memotret ibu sedang membatik ya?” Dia membalas lewat  anggukan kepala. Tanda tak harus terucap dengan kata dan kalimat.

Saat Jogja Memanggilku Kembali

Pesona Yogyakarta mampu memikat tiap orang tuk jatuh hati dalam sekejap. Membuat saya datang kedua kalinya dalam rentang sebulan.

Setiba di Bandara Adi Sucipto, saya bergegas menuju Hotel Paku Mas. Jaraknya selemparan batu dari bandara. Lokasinya strategis memudahkan kita ke mana pun di Jogja.

Halaman depan Hotel Paku Mas, Yogyakarta

Sebelum kedatangan ini saya sempat berucap ke Nana, “Aku ingin merasakan suasana yang Jawa banget.” Ada gairah ingin menikmati kehidupan warga lokal.

Semua persiapan sejak akomodasi dan tiket pesawat sudah diurus dengan Traveloka. Nyamannya memesan hotel lewat aplikasi burung langsing berwarna biru ini karena harga yang tertera adalah harga final yang pilihan pembayarannya mudah. Bagi saya yang bukan pengguna kartu kredit, jelas membantu rencana traveling saya.

Resepsionisnya ramah

Saat check in saya meminta pada resepsionis agar diberikan kamar yang nyaman. Keramahan pelayanan hotel Paku Mas memang bukan isapan jempol. Sesuai dengan pengalaman tamu lainnya saat memesan di Traveloka. Ini salah satu alasan saya memilih Paku Mas.

Jatuh cinta pada warna merah pohon akar seribu
Ruang kamar lega dan nyaman.
Kamar mandi telah dilengkapi shampoo dan bath soap

Nuansa hotel yang njawani tampak dari penampilan luar hingga isi kamar. Nuansa kamar bercat putih dengan perabotan kayu meninggalkan kesan homy sebagai penginapan terjangkau di tengah kota Jogja. Interior kamar layaknya kamar pribadi dengan teras lega berhias pemandangan pepohonan seperti rambutan, jambu, hingga belimbing. Suasana malam hari di hotel pun tenang.

Menyusuri Jalanan Jogja

Semakin diperhatikan foto perempuan pembatik di Raminten semakin saya kagum akan budaya jawa. Bagaimana budaya Jawa memprioritaskan keseimbangan, serta menjunjung tinggi kesopanan serta kesederhanaan. Tak ada yang dapat membohongi sebuah gambar saat sedang bercerita.

Walau hanya beberapa tempat yang didatangi, saya menikmati sudut jalanan Jogja seperti di jalan Prawirotaman dan Malioboro bersama Nana.

Ruas jalan Prawirotaman “modern”
Menemukan toko barang antik

Prawirotaman lebih diminati oleh turis luar. Menyusurinya serasa melewati perkampungan yang “terpaksa” menjadi modern. Di sini saya lebih banyak melihat turis bule dibandingkan turis lokal. Deretan kafe yang telah mengikuti menu barat, art gallery, agen perjalanan, serta penginapan mendominasi di kawasan ini. Sebagian bangunan masih memiliki struktur asli, namun ada juga yang dibuat agar tampak modern.

Sang surya mulai tenggelam. Tanpa terasa walking tour kami telah selesai menelusuri jalanan Prawirotaman yang pernah menjadi lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta II.

Warna-warni jalan Malioboro, Jogja

Berpindah dari suasana Prawirotaman, kami sampai pada keramaian khas Yogyakarta. Mana lagi kalau bukan jalan Malioboro. Ruas jalan ini hidup mereka yang datang ingin menikmati suasana Jogja pada malam hari. Nana mengajak saya masuk ke angkringan sebelum kami pulang. Cara sederhana memilih angkringan adalah dengan melihat mana angkringan yang ramai dipenuhi orang.

Angkringan, ciri khas kota Jogja pada malam hari
Lesehanan makan malam di angkringan

“Na, jadi kan besok kito ke Solo balek hari?” tanya saya sambil membuka bungkus nasi kedua.

“Payok! Mudah-mudahan biso dapet tiket kereta go show,” seru Nana.

Terlintas sekejap sebuah nama orang yang saya kenal. “Kita janjian samo Halim peh di Solo? Sekalian kopdar!” ujarku lagi. Peh semacam istilah bahasa Palembang yang berarti ajakan serius. Nana sumrigah tanda dia setuju.

Saya segera menghubungi Halim lewat Twitter. Dia termasuk salah satu traveller asal Solo yang mencintai budaya seperti kami berdua. Malam itu kami berpisah, saya kembali ke hotel.

Embun Pagi di Paku Mas

Selamat pagi, embun

Kicau burung bersahutan terdengar di antara perpohonan. Suaranya menembus hingga dalam kamar. Sejak subuh saya sudah bangun. Apa yang dirindukan dari Jogja telah terjawab. Pagi yang datang lebih awal kini menyapa dengan sinar kehangatan sang surya. Ah, saya jatuh cinta pada kota ini.

Saya bergegas menuju ruang makan yang bersebelahan dengan kolam renang. Melewati naungan pohon akar seribu menjuntai ke bawah bermandikan embun pagi. Hati mana yang tak girang melihat pilihan menu sarapan di Hotel Paku Mas yang serba lokal.

Ice lemon tea yang nikmat dan segar.
Ruang makan terbuka dengan pemandangan menyegarkan
Hotel Paku Mas membuat saya jadi bisa menikmati suasana jawani

“Selamat pagi, Mas! Gimana tidurnya nyenyak?” sapa suara seorang perempuan dari belakangku saat menyeruput lemon tea segar.

“Nyenyak sekali, Mbak. Saya cinta atmosfir Jawa di sini,” jawabku. Senyum hangat menghiasi obrolan singkat kami. Musik gamelan nan syahdu mengiringi kegiatan saya bersantap pagi. Berharap pagi berjalan pelan, namun saya sudah tak sabar bertemu dengan tetangga Jogja, Solo.

Yogyakarta, karena nuansa patriarki dari Keraton membuatnya terasa begitu maskulin. Sementara Solo, terkenal dengan ungkapan “Putri Solo” membuatnya terasa feminim.

Sepenggal Kisah di Solo

Stasiun Solo Balapan

Stasiun Lempuyangan menjadi titik pertemuan kami berangkat menuju Stasiun Solo Balapan. Setelah membeli dua tiket kereta Prameks seharga 8 ribu, kami menunggu di dalam peron hingga kereta datang. “Ini pengalaman pertama saya ke Solo, sepertinya akan jadi seru,” ujar saya kepada Nana.

“Na, gek kito janjian samo Halim di Pasar Gede,” lanjutku lagi. Halim pun sedang dalam perjalanan menanti kami. Saya termasuk gemar mengunjungi pasar tradisonal. Bagi saya, sebuah pasar tradisional tak hanya tempat interaksi sosial antara pembeli dan penjual. Namun juga bermakna sebagai jejak sejarah perkembangan suatu daerah atau kota di mana pasar tersebut berada. Bangunan pasar tradisional merupakan peninggalan masa lampau dengan arsitektur yang khas.

Nana dan Halim sedang berdiri di depan Pasar Gede, Solo

Ada yang datang untuk mencari kebahagiaannya. Ada yang datang melepas kepergian. Begitulah kesan pertama saat melihat stasiun Solo Balapan. Trenyuh oleh pemandangan seorang anak dan orang tuanya berpelukan. Mereka melepas sang anak masuk ke dalam gerbong. Pemandangan yang membuat saya tertinggal dari gerak langkah kaki Nana yang cepat. Kami keluar stasiun menunggu jemputan transportasi online.

“Hei, itu Halim berbaju merah sedang menunggu kita!” seru Nana dari dalam mobil menunjuk ke satu arah. Saya langsung mengenali sosok pria berpostur sedang, dengan tas tergantung di bahunya. Kami menghampiri dia setelah turun dari mobil menuju depan pintu masuk utama Pasar Gede.

“Halo!” sapaku sembari mengulurkan tangan. Ini kali pertama saya dan Halim bertemu muka. Kami mengobrol ringan di antara keramaian pasar sebelum dia mengajak berkeliling sekitar area Pasar Gede Solo. Cara dia bercerita tentang Solo mengungkap betapa dalam Halim mengenal kotanya sendiri. Solo itu menarik dan berkarakter seperti saudaranya, Jogja.

Rumah tua zaman kolonial

Berjalan kaki di bawah terik mentari tak membuat kami mengeluh dalam walking tour singkat ini. Dari satu kampung masuk ke kampung lainnya.  Menikmati kuliner Solo seperti Dawet Telasih dan Leker Gajahan. Dalam obrolan mengagumi sejarah kota Solo, Halim menangkap kode ajakan kami untuk blusukan ke kampung Laweyan. Akhirnya dikejar rasa penasaran, kami putuskan untuk mengunjungi Laweyan.

Lawang Laweyan Terbuka Menyambutku

Gerbang awal masuk ke Kampung Batik Laweyan, Solo

Nama Laweyan baru pertama kali saya dengar. Suatu keberuntungan bisa berjodoh ke salah satu kawasan kampung yang kaya budaya dan sejarah. Di tembok putih tergantung tulisan “Kampung Batik Laweyan” seakan mengucapkan selamat datang bagi kami.

Menapak masuk ke dalam, terasa kuat atmosfer suasana perkampungan batik tempo dulu yang tenang. Semakin masuk ke dalam, kampung ini tampak istimewa bukan semata karena usianya, tapi juga menyimpan sejumlah kisah. Dinding-dinding tinggi menjulang ke atas, membuat Kampung Laweyan seperti sebuah labirin yang misterius. Seolah kita tak tahu ada kejutan apa dibaliknya menanti tuk dijumpai. Beberapa pintu rumah warga sengaja dibuka lebar.

Pusat lorong Laweyan
Maaf, saya lupa mengkondisikan perut 😀
Tehel rumah zaman dulu masih ada di Laweyan

Kami bertiga menyaksikan aktivitas warga sedang membatik. Menatap satu sama lain, ada keinginan tertahan untuk masuk. Namun, seruan suara dari dalam rumah justru mengundang kami masuk dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan.

Keramahan dan kehangatan bisa saya rasakan sewaktu melihat sekeliling ruangan. Sejumlah rentangan kain batik berbagai motif dengan warna yang indah. Tiba-tiba si bapak menawarkan kami mencoba mewarnai batik. Tanpa pikir lagi, saya menyambut tawaran ini dan langsung mengambil posisi membatik.

Keceriaan anak kecil bermain sepeda
Ornamen pintu yang unik

“Coba kalian lihat pintu-pintu rumah di Laweyan ini! Apa yang berbeda?” seru Halim membuka obrolan.

Mata saya mulai mengamati sekeliling pintu. Ada pemandangan yang tampak berbeda untuk sebuah pintu. Dalam sebuah pintu besar terdapat pintu kecil dengan gagang pintu berada di bagian bawah.

“Itu bagaimana membuka pintu kalau gagang pintu di bawah?” tanyaku penasaran.

Itulah kekhasan dari Laweyan. Dulu, pintu kecil digunakan jika ada tamu maka mereka masuk lewat pintu kecil dengan cara menunduk. Pintu besar dibuka hanya untuk tuan rumah. Orang Laweyan dikenal santun maka saat tamu datang dengan cara menunduk itu semacam gestur “kulo nuwun”. Namun sekarang pintu-pintu kecil itu tak lagi digunakan jika ada tamu datang.

Sepanjang lorong-lorong kecil kami menjumpai kumpulan anak kecil sedang bermain atau duduk di depan rumah. Bermain sepeda sambil membonceng temannya. Pemandangan yang langka di kota besar.

Sepetang trip singkat di Solo bersama Halim dan Nana

Azhar telah berkumandang, Nana mengingatkan saya kalau kami harus segera kembali ke stasiun sebelum kehabisan tiket kereta. Berat hati saat harus meninggalkan Kampung Batik Laweyan. Halim menemani kami ke stasiun untuk kembali ke Jogja.

Dalam perjalanan pulang di kereta, saya lebih banyak berdiam. Mengingat kembali kesan mendalam petualangan singkat kami di Solo. Jogja dan Solo seperti sepasang pria dan wanita. Dua kota yang sekilas sama Jawani tapi punya kekhasan berbeda.

*Lawang: Pintu

Iklan

145 thoughts on “Antara Solo dan Yogjakarta Kita Jatuh Cinta #JadiBisa

  1. Halo Mas, salam kenal ya. Saya setuju sekali dengan review tentang Paku Mas, Jogja dan Solo dalam setiap rangkaian kata di blog post ini. Kata-kata yang digunakan, gambar yang diambil, semua semakin menghidupkan daya tarik kedua kota yang bak saudara kembar dampit ini. Nice post 🙂

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s