Detak Jantung Berhenti Dikejar Tatung Singkawang


Sebagai orang keturunan Cina, saya merasa Indonesia sangat indah dalam keragaman perbedaan. Setiap tahun, setiap hari kelima belas tanggalan Cina setelah Imlek selalu ada perayaan Cap Go Meh atau Malam Kelima Belas. Selama bulan tersebut sebelum masuk ke Cap Go Meh ditandai dengan musim penghujan. Hujan lambang kesuburan sehingga dipercaya sepanjang tahun akan diberkati berlimpah.

Semarak Cap Goh Meh menjadi momen menarik yang ditangkap oleh Pariwisata Indonesia untuk mendatangkan wisatawan. Di Palembang perayaan Cap Goh Meh dilakukan di Pulau Kemaro, pulau legenda yang terbentuk oleh mitos percintaan dari Siti Fatimah dan Panglima Tang Bun An. Banyak umat Tridharma datang untuk bersembahyang. Bahkan di Singkawang, Festival Cap Go Meh masuk dalam Calendar of Events 2019. Perayaan Cap Go Meh Singkawang sudah lama dikenal.

tatung

Atraksi tatung di Palembang

Salah satu tatung yang tubuhnya sudah dimasuki oleh dewa.

Ada kemiripan antara Palembang dan Singkawang dalam ragam budaya dan tradisi. Kota Palembang memiliki akulturasi mulai dari orang lokal asli, Melayu, keturunan Arab, dan Cina. Komunitas orang Cina pun juga banyak tersebar di Kota Pempek. Tidak jarang kita bisa melihat harmonis kerukunan antar suku di kota ini. Sama seperti Singkawang, salah satu kota yang ada di Kalimantan Barat ini memiliki keistimewaan tersendiri. Keberagaman orang lokal setempat yang mayoritas adalah kelompok orang Cina, Dayak, Melayu dan orang lokal menjadi potret toleransi dalam keberagaman. Warga Singkawang sering disebut sebagai Cidayu.

Sejak dulu, saya penasaran apa yang membuat seseorang berbondong-bondong datang ke Singkawang. Sekian banyak daerah di Indonesia, Singkawang menjadi bukti kayanya Bumi Pertiwi oleh keberagaman, adat istiadat dan budaya. Daya pikat serta cerita di dalam perayaan Cap Go Meh menjadi alasan utama untuk datang, yaitu Mencari Tatung.

Wisata Budaya

Beberapa puluh tahun lalu, Singkawang menjadi kota persinggahan para penambang emas dari Cina. Para penambang membawa budaya asal mereka salah satunya bahasa Khek yang akhirnya menjadi bahasa ibu untuk orang Singkawang. Kota Singkawang dikelilingi oleh gunung dan laut yang membuat Singkawang dikelilingi oleh Pegunungan Pasi, Poteng dan Sakok.

Para penambang ini akhirnya beranak pinak dengan warga setempat menjadi banyak dan tersebar ke beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Dalam keseharian mereka termasuk ritual agama pun terjadi asimilasi dengan budaya lokal termasuk dalam perayaan Cap Go Meh. Salah satu ritual agama yang dibawa adalah Tatung. Saya sudah mengenal Tatung dari sejak kecil, sebagai orang Cina saya sudah diajarkan mengenai budaya Cina. Berbeda dengan Tatung di Singkawang, kehadiran tatung menjadi atraksi budaya yang paling ditunggu. Tatung juga dilakukan bukan hanya orang Cina melainkan ikut serta orang Dayak yang berwarna.

Tatung merupakan manifestasi roh dewa atau leluhur yang dimasuki ke tubuh orang. Nanti orang tersebut menjadi kebal, tidak sakit atau berdarah ketika badannya ditusuk besi tajam dan disayat golok. Menjadi tatung adalah karunia karena dipilih oleh dewa. Setiap orang bisa saja terpilih, baik itu laki, perempuan, orang dewasa maupun anak kecil! Menakjubkan sekali.

Arak-arakan tatung ini dipercayai untuk membersihkan dari pengaruh roh-roh jahat sepanjang tahun. Para tatung digiring mengelilingi kota dari pagi. Musik pengiring, kerincingan dan sorakan penonton menjadi penambah semangat. Diharapkan untuk tetap kuat menonton karena arakan ini tentunya akan menunjukkan sisi lain dari para tatung.

Wisata Sejarah

Setiap berkunjung ke tempat baru, senang sekali kalau dapat mengunjungi salah satu bangunan bersejarah yang ada di kota tersebut. Dalam bahasa Hakka, Singkawang dilafalkan sebagai San Khew Jong. Dulunya ketika nenek moyang mereka bermukim di Singkawang untuk menggali emas, untuk tetap dapat sembahyang, mereka akhirnya mendirikan sebuah pondok untuk menghormati Toa Pe Kong atau Dewa Tanah. Pondok itu sekarang menjadi Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang menjadi ikon Kota Singkawang.

Bagi umat Tridharma, klenteng menjadi tempat yang sakral dan dipercayai dijaga oleh roh-roh dewa melindungi kawasan tersebut. Bahkan ketika satu hari sebelum Cap Go Meh, para tatung dari dalam dan luar Kota Singkawang wajib meminta restu ke Toa Pek Tong di klenteng ini. Tujuannya agar terhindar dari bahaya dan hal-hal yang tidak diinginkan pada saat memanggil tatung.

Inilah yang menjadi keunikan dari Singkawang karena dalam satu kota terdiri banyak kelenteng-kelenteng dewa. Penikmat arsitektur bangunan tentunya akan sangat senang ketika berkunjung ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya sebab ini merupakan salah satu wujud tingginya toleransi beragama di Kota Singkawang.

Wisata Alam

Berlibur ke Singkawang ketika perayaan Cap Go Meh memang mengasyikkan, selain kita bisa menikmati atraksi budaya dan menapaki sejarah Kota Singkawang. Ternyata sisi lain kita juga bisa menikmati pesona alam Singkawang yang indah. Salah satu pesona Wisata Kota Singkawang adalah pantai dan bukit yang cantik.

Gradasi warna tosca dan perpaduan hijau perbukitan memang menangkan jiwa melepas penat dari kesibukan kota besar. Nama Singkawang sendiri artinya dikelilingi oleh laut dan bukit yang membuat kota ini menjadi magnet bagi wisatawan. Sebut saja Pantai Pasir Panjang yang memiliki karakter pasir putih serta barisan pohon kelapa bak sedang menari terpapar angin laut. Di bagian tepi pantai juga terdapat beberapa batuan yang mempercantik saat difoto.

Ada pula objek wisata lainnya seperti Pantai Kura-Kura, Sinka Island Park dan Bukit Rindu Alam yang menjadi tempat ideal untuk bersantai sambil menikmati panorama alam dari ketinggian. Menenangkan hati dan tak pernah bosan. Ini juga menjadi alasan mengapa Singkawang memiliki magnet kuat bagi para pelancong sebab tak cukup waktu sebentar untuk singgah tanpa mencicipi kuliner khas.

Wisata Kuliner

Kuliner kota Singkawang tak boleh luput dari perburuan. Cita rasa khas yang hanya dapat ditemukan di Singkawang. Secara gastronomi, kuliner di kota Singkawang memiliki percampuran budaya antara Cina dan Melayu. Mulai dari jenis makanan kecil hingga berat bisa kita jumpai di Singkawang.

Sebut saja Bubur Gunting. Namanya cukup unik, membuat kita jadi penasaran seperti apa bentuk makanan ini. Bubur disajikan dengan potongan cakwe, biji kedelai yang sudah dikupas kemudian diberikan kuah. Makanan ini paling enak dicoba pada saat pagi hari sebagai menu sarapan.

Ada juga sebuah kedai mie yang dijual oleh seorang paman atau asuk dalam bahasa Singkawang. Bagi kalian penikmat mie tentunya harus mencoba Mie Tiaw Asuk yang memiliki tekstur pipih serta diracik dengan kecap, tauge, telur, serta perasan jeruk nipis. Rasa gurih sudah pasti meledak dalam mulut.

Satu lagi kuliner yang berasal dari Cina, namun berhubung mayoritas warga Singkawang merupakan orang Cina maka Choi Pan menjadi makanan khas yang bisa ditemukan saat sedang menonton Festival Cap Go Meh Singkawang. Choi Pan terbuat dari tepung beras yang diisi dengan bengkoang diiris tipis kemudian dicampurkan dengan udang, ayam dan ikan. Cara memasaknya hanya dikukus kemudian disajikan dengan bawang putih goreng sebagai penambah rasa. Biasanya menikmati Choi Pan dengan saus sambal atau kecap asin. Nikmat!

Semarak Cap Go Meh Singkawang

Kota Singkawang tak hanya menyediakan panorama alam yang cantik, tapi juga dilengkapi dengan berbagai kemudahan serta akses. Mulai dari restoran, hotel dan beberapa cottage yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan saat sedang berkunjung ke Singkawang.

wisata singkawang

Daya tarik pariwisata Singkawang adalah tatung. Foto : indonesiakaya

Tidak sulit untuk mengunjungi Kota Seribu Kelenteng ini pada saat Festival Cap Go Meh Singkawang. Sudah banyak maskapai penerbangan besar yang memiliki rute penerbangan ke Bandara Supadio di Pontianak. Setelah tiba di Bandara Supadio, kita bisa langsung menyewa taksi dengan lama waktu perjalanan sekitar lima jam. Sehingga akan sangat disarankan memilih penerbangan pagi agar pada saat perjalanan ke Singkawang tidak terlalu malam. Sedangkan untuk pilihan akomodasi hotel pastinya harus dipesan jauh hari karena dipastikan hotel penuh terisi.

Kota yang kental budaya dan daya pikat memukau bagi tiap orang datang melihat, Singkawang nyatanya memberi warna tersendiri bagi pariwisata Indonesia. Bukan hanya semarak festival imlek saja melainkan kita juga dapat memaknai perayaan tersebut lebih khusyuk. Tahun 2019 perayaan Cap Go Meh Singkawang meriah dengan ikutnya 1060 orang tatung dan menampilkan atraksi lainnya.

Detak nafas masih terasa ketika saya melihat sendiri bagaimana seorang tatung sedang menusuk jarum besar menembus mulut. Bahkan ketika bola paku yang terus dia pukul-pukul tanpa membuat sang tatung kesakitan. Momen ratusan tatung turun ke jalan merupakan wisata menarik bagi warga lokal juga termasuk wisatawan. Sulit dibayangkan sensasi pengalaman melihat langsung pertunjukan tatung yang menjadi warisan tanah leluhur turun temurun hingga sekarang.

Tahun depan saya pasti ke Singkawang.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang

Iklan