“Cindo Nian” Kain Khas Palembang


Di tengah kepopuleran kain Songket, tak banyak orang tahu masih ada jenis kain Palembang lain tengah bangkit. Sekitar 15 menit ke selatan dari Jembatan Ampera, persis di lorong kiri sebelum Jembatan Kertapati, terdapat sebuah perkampungan warga keturunan Jawa. Kampung Tuan Kentang namanya. Di sana sudah dibangun dermaga karena lokasinya di tepian Sungai Musi. Konsep waterfront ini untuk menarik wisatawan datang melalui sungai.

kain khas palembang

Di pinggir Sungai Musi, masih ada warga pinggir yang bertahan hidup dengan berkarya

Masih misteri mengapa perkampungan ini dinamakan Tuan Kentang. Konon, ada seorang saudagar Cina, memiliki bisnis besar di sepanjang muara sungai. Makamnya berada tak jauh dari kampung itu. Teori lain mengatakan area ini dulu dipenuhi tanaman kentang. Namun saat ini tak terlihat satupun tanaman kentang.

Pagi itu di kampung Tuan Kentang masih sepi. Tak terlihat tanda aktivitas warga. Nampak berjajar tiang tiang jemuran kain dengan jepitan masih bergelantungan.

kain khas palembang

Sentral Tenun Tuan Kentang

Saya bertemu dengan Syarif, seorang warga asli Kampung Tuan Kentang yang aktif dalam kegiatan UMKM. Meski sebagian besar warga kampung ini berdarah Jawa, namun sudah tak terdengar logat asli mereka. Saya bersama tiga teman diajak Syarif  berkeliling melihat proses tenun kain tajung, blongsong sekaligus pembuatan kain jumputan. Kain sudah menjadi penopang ekonomi warga.

Menenun Hidup dengan Kain Tajung dan Blongsong

kain khas palembang

Tangan-tangan pengrajin kain

Bunyi riuh alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar memenuhi lorong sempit yang membelah di antara rumah panggung. Kampung ini sejak 1970-an memproduksi tenun kain tajung dan blongsong. Teras rumah umumnya menjadi tempat penenunan. Nampak penenun lansia lincah menggerakan kaki dan tangan dengan irama teratur.

“Di belakang sano nah dek lebih banyak lagi kalau mau lihat,” seru ibu penenun saat saya sedang terpesona menyaksikan kelihaiannya memindahkan benang. Ia sibuk menghitung langkah tenunannya.

kain khas palembang

Lorong kecil menuju rumah warga

kain khas palembang

Generasi muda juga ikut menenun

kain khas palembang

Benang mulai diberi warna

Rona warna kain Tajung dan Blongsong umumnya cerah dengan beragam motif. Mulai dari motif patut, kembang kecil, hingga lepus. Setiap motif memiliki gintir atau tingkatan. Tingkatan yang lebih rumit adalah motif dobi atau tenun timbul. Semakin tinggi tingkatan, semakin lama waktu pengerjaanya, makin tinggi nilainya. Yang membedakan kain Tajung dan Blongsong dengan Songket terletak pada benang yang digunakan tidak menggunakan benang emas seperti Songket. Kain Tajung dan Blongsong sebenarnya sama, hanya berbeda peruntukannya. Tajung lebih maskulin karena untuk digunakan oleh pria sebagai sarung. Sedangkan Blongsong digunakan oleh perempuan sebagai sarung atau selendang.

Menjemput Jumputan

kain khas palembang

Mewarnai kain jumputan

Tak butuh waktu lama untuk pandangan saya tergoda oleh lambaian kain warna-warni yang tengah dijemur. Rona warna jumputan Palembang memang tampak berbeda dengan kain jumputan daerah lain, seperti kain Shibori dari Jepang.  

“Mau foto, Dek? Tapi hanya bisa sendiri ya. Soalnya rumah kecil. Masuklah ke dalam!” seru si bapak. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan menyaksikan proses pewarnaan kain jumputan.

Di sebuah rumah sederhana dari kayu, sejumlah orang tengah mengerjakan kain jumputan.

“Apa nama motifnya ini, Bu?”

“Tidak ada, kreasi sendiri, asal bagus, cerah. Sudah jadilah!” jawab si ibu sambil tertawa.

kain khas palembang

Warna-warni kain jumputan dijemur.

Tangan-tangan terampil perajin jumputan, membuat pola ikatan pada kain, mengikat kain, mencelup warna, hingga membuat lapisan akhir. Selesai pewarnaan, kain direbus di air hangat untuk membersihkan zat warna. Kemudian ditiriskan, barulah ikatan kain dilepas dan siap dijemur.

Nilai kain jumputan tergantung dari kerumitan, motif, dan bahan pewarna yang digunakan. Penggunaan pewarna alami akan lebih tinggi nilainya.

Menenun Generasi Baru

kain khas palembang

Area tempat anak-anak muda belajar menenun

Perkampungan Tuan Kentang seakan labirin. Setiap lorong memberi pemandangan baru. Di sisi lain tampak sejumlah remaja muda yang turut diajak menenun dan membuat jumputan.

“Nah inilah workshop yang kami bangun!” seru Syarif ketika mengajak kami ke tempat berikutnya. “Di sini tempat kami mengajak anak-anak muda menenun. Sayangnya masih terbatas dengan jumlah alat yang kami punya,” tambahnya lagi.

Keterbatasan yang dialami oleh UMKM Tuan Kentang bukan hambatan bagi warga untuk tetap optimis dan mandiri. Para perajin ini akhirnya membuat sendiri ATBM untuk memenuhi kebutuhan alat sekaligus memberdayakan anak-anak muda kampung untuk belajar menenun. Selain difasilitasi ilmu, mereka juga diberikan uang saku sekitar Rp 500.000 sebagai pemasukan buat mereka. Tujuannya melestarikan budaya menenun.

Proses menenun cukup panjang, berkisar 1-3 bulan. Di workshop ini remaja diajarkan pemilihan benang, pemisahan benang, pewarnaan hingga pembuatan motif atau pelimaran kain yang setelah itu dibongkar dan dimasukkan dalam paletan.

Senyum terkembang menghiasi raut wajah mereka saat saya mengabadikan momen lewat kamera.

Lambaian Kain Menarik Minat Pengembangan Usaha

Usaha turun temurun yang dibangun sejak tetua mereka hijrah ke Palembang, bekerja dengan saudagar setempat. Hingga berhasil membuka usaha sendiri membuat mereka nampak lebih ulet dibandingkan penduduk asli Palembang sendiri. Kerja keras mereka membuat pihak swasta dan pemerintah mulai melihat potensi warga Tuan Kentang. Sehingga para pelaku usaha tenun Tajung, Blongsong serta Jumputan mendapatkan fokus pembinaan dan pemberdayaan.

Pembinaan yang dilakukan bervariasi mulai dari memaksimalkan strategi pemasaran, promosi usaha, sistem pemasaran online, pencatatan usaha dan laporan keuangan usaha serta pelatihan-pelatihan lain yang mendorong pengembangan usaha. Adapun para pelaku usaha ini juga mendapatkan pengadaan alat tenun bukan mesin yang baru untuk mengganti alat lama yang berusia tua. Tujuannya agar UMKM Tuan Kentang kegiatan produksi lebih lancar dan omzet meningkat.

Melayangkan Kain Palembang Ke Seluruh Penjuru Tanah Air

kain khas palembang

Griya Tuan Kentang Palembang

Di Kampung Tuan Kentang ada tempat untuk menampung dan memajang hasil produksi anggota perajin yang tergabung dalam UMKM Tuan Kentang, Griya Kain Tuan Kentang. Uniknya di sini kita bisa datang langsung ke pengrajinnya. Sehingga bisa menyaksikan sendiri kualitas dan motif yang diinginkan.

Saya dibawa untuk bertemu dengan Habibie, Ketua Usaha Bersama di Tuan Kentang. Habibie menjelaskan perkembangan tenun kain Tuan Kentang. Sekitar 70% hasil penjualan kain datang dari pedagang yang berasal dari Palembang maupun luar Palembang. Sedangkan 30% sisa penjualan berasal dari gabungan antara tamu yang datang berkunjung ke lokasi dan penjualan daring lewat Instagram.

kain khas palembang

Kain jumputan direbus agar warna lebih mengikat

kain khas palembang

Kain Jumputan dibentang luas

Perkembangan dunia usaha dan gaya hidup masyarakat daring, mempermudah UMKM tenun Tuan Kentang mengirimkan pesanan kain dengan cepat dan aman. Dengan bantuan JNE, UMKM Tenun Tuan Kentang dapat menjangkau konsumen dari luar Palembang dengan jaringan yang luas. Habibie menjelaskan selama ini sangat tertolong dengan JNE sebagai partner yang menghubungkan penenun ke pembeli di seluruh Indonesia.

“Seminggu pasti ada yang kirim barang pakai JNE. Apalagi petugas JNE dapat datang menjemput kiriman ke sini,” tambah Habibie.

Fasilitas pick up point memudahkan pelaku UMKM Tuan Kentang tanpa harus repot mendatangi gerai JNE. Petugas tinggal mengambil paket yang sudah dikemas rapi. Jenis layanan JNE YES (Yakin Esok Sampai) adalah pilihan favorit. Tak perlu kuatir barang tak sampai sebab ada fasilitas pelacak sehingga pelaku usaha bisa memberikan informasi akurat ke pembeli.

Rona warna-warni kain tenun Palembang menyimpan sejuta kisah perjuangan perajin tenunan dalam membangkitkan kembali Tajung, Blongsong dan Jumputan.

***

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan di Kompasiana. Tulisan ini sebagai portofolio artikel yang sayang tidak diarsipkan ke blog.

Cindo = cantik

Iklan