Adanya momen SEA Games 2011 ini saya manfaatkan untuk berjalan di ikon khas kota Palembang, yaitu Jembatan Ampera. Selain Jembatan Ampera, di dekatnya juga ada ikon khas lainnya.
Berbekal kamera Lumix TZ20 dan sebuah topi saya sudah siap melancong. Frame demi frame foto saya bidik.
Seperti apa kisah petualangan saya bersama Lumix TZ20 dan sempat dikira saya seorang turis?
Dimulai saya menapaki kaki ke perkarangan Masjid Agung Palembang. Tampak para bapak pemotong rumput yang sedang bekerja. Saya sendiri mulai mencari objek foto yang dapat dibidik. Bangunan Masjid Agung yang kokoh ini tentunya memuat decak kagum sendiri, ukiran-ukiran khas Palembang ini menjadi aset berharga. Ukiran ini terdiri mengandung elemen oriental dan pribumi. Sungguh paduan yang menarik bukan.
Tampak kegembiraan dari raut wajah anak kecil di gambar. Melihat foto ini, saya menyadari sejatinya anak kecil haruslah menikmati masa kecilnya tanpa beban pikiran. Mereka diberi kebebasan memilih tanpa orangtua harus memaksa kehendak keputusan si anak. Namun tetap si anak mendapat solusi dari orangtua. Bagi saya, anak-anak itu adalah aset masa depan. Trauma masa lalu mereka akan berdampak ke masa depan mereka.
Selesai dari Masjid Agung Palembang, saya menyebrang jalan ke Museum Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA). Sewaktu saya berada di Monpera ternyata ada anak Laison Officer yang menyapa saya āMister, can I help you?ā Hualah, saya dikiranya tamu dari luar Indonesia. Langsung saja saya menyapa āKakak, wong sini lah dek.ā Kita tertawa bersama.
Monumen ini bentuknya unik. Saya sendiri tidak bisa menggambarkan monumen ini seperti simbol apa. Untuk masuk ke dalam MONPERA, kita perlu memberi uang 2 ribu rupiah saja.
Sayang sekali, ini yang ada di dalam hati saya. Jumlah koleksi peninggalan dari Palembang tempo dulu sudah minim informasi. Didalamnya hanya figura-figura foto tempo dulu, tidak ada keterangan yang lengkap.
Monpera ini terdiri dari enam lantai. Masing-masing lantai saya pikir ada isinya, ternyata hanya beberapa bagian saja, sisanya kosong. Lalu kondisi ruangan yang pengap pun membuat sirkulasi udara cukup panas. Sekitar ruangan tidak ada CCTV, barangkali untuk apa juga kalau hanya dipajang foto-foto tempo dulu?
Naik ke tingkat paling atas, cukup hati-hati melangkah karena lantai tangganya itu kecil. Tidak disarankan kalian memakai higheels. Cukup sendal saja. Apalagi pintu aksesnya seperti kita sedang naik tank baja. Harus hati-hati!
Dari atas MONPERA, saya bisa melihat kota Palembang di sekitaran Jembatan Ampera. Lumix TZ20 ini sangat membantu saya membidik objek dengan jarak pandang jauh.
Petualangan saya pun kini beralih ke belakang MONPERA. Di sana ada Museum Sultan Mahmud Bardaruddin II. Bentuk museum yang unik ini berciri khas rumah Palembang yang di bawahnya kosong atau hanya tiang-tiang penyangga saja. Dan ciri khasnya ini berupa rumah panggung dengan polesan plitur.
Saat saya sedang asik memotret halaman luar museum SMB II ini, ada bapak tua yang minta difoto dalam keadaan topless. Dia pun juga mengira saya seorang turis dari luar. Ya, udah deh saya tampilih fotonya disini. Sekalian biar si bapak jadi eksis juga berkat blog saya.
Begitu mau naik tangga museum, ada seorang kontingen asal Brunei mendekati saya. āDo you can speak English?ā tanyanya pada saya. āYes.ā Dan si bapak ini memberi tahu kalau untuk masuk ke dalam museum kita harus membayar 2 ribu rupiah saja.
Museum ini cukup terawat. Begitu masuk, rasanya adem karena teriknya matahari. Area museum ini hanya seluas 1 lantai saja, sedangkan ada beberapa area tidak diizinkan masuk karena alasan untuk kantor mereka.
Masuk ke dalamnya, kita bisa melihat ciri khas rumah Palembang itu seperti apa. Bangunan yang tinggi, pintu jendela yang tinggi, kursi dan meja dari kayu yang dialasin dengan anyaman rotan. Selain itu ada juga lemari ukir khas Palembang. Satu lagi uniknya, selalu ada kepala rusa. Apa ini juga menjadi suatu simbol?
Sepanjang ruang museum ini dipasang dengan kamera CCTV, jadi diharapkan tidak berbuat aneh-aneh.
Adalah bapak Abisofyan. Beliau guide yang menjelaskan tentang sejarah kota Palembang. Bapak yang masih produktif ini membantu para atlet dari luar Indonesia menggunakan dwilinggual yaitu Bahasa Palembang dan Inggris campur. Tapi, kita patut berterimakasih sama bapak ini karena dari dia saya mendapat pesan dari beliau āKejarlah ilmu sampai ke negeri Cina. Jadi orang jangan nanggung, fokus.ā
Selesai dari Museum SMB II, saya beranjak ke pelataran Benteng Kuto Besak yang juga masih di area Jembatan Ampera. Kebetulan sedang ada acara Dragon Boat yaitu festival dayung di seputaran Sungai Musi dan ada juga festival Fashion and Craft Expo.
Semangat para peserta saling mendayung ini perlu kita acungin jempol. Begitu saya melihat dayung dari jarak dekat, bahan tongkatnya itu dari besi. Wow sangat berat tentunya harus beradu arus dengan air sungai. Cucuran keringat mereka pun sudah tidak terbendung lagi jatuhnya kemana.
Asik menonton festival dayung, saya pun menuju ke lokasi selanjutnya.
Expo ini diikuti oleh beberapa daerah yang ada di kota Sumatera Selatan. Apa saja yang mereka tawarkan itu dimulai dari makanan khas kota masing-masing, kaos nuansa SEA Games 2011, pernak-pernik yang terbuat dari batu dan kayu, selain itu juga ada stand-stand pendukung lainnya.
Momen petugas kebersihan ini tidak saya lewatkan. Gitu-gitu dia juga butuh hiburan dong.
Untuk masuk ke dalam, tidak dipunggut biaya. Malahan kita bisa membubuhkan jejak tanda tangan kita di baliho yang sudah disediakan. Saya juga ikutan meninggalkan jejak.
Stand ini lucu sekali loh dekorasinya. Kayak ada boneka Danboo.
Harga yang ditawarkan di Expo ini cukup variatif, mulai dari range 50 ribu sampai 200 ribu. Kalau beruntung bisa tawar menawar.
Keluar dari booth Expo, saya berjalan mengitarin Benteng Kuto Besak (BKB). Errgh pengen sekali saya bisa masuk ke dalam tapi sayang sekali ini bukan tempat umum. Apalagi ada bapak berseragam yang berjaga di pos.
Bisa kamu bayangkan kalau saya ambil foto ini dari jarak dekat itu gimana rasanya? Tampangnya yang galak itu aja udah buat merinding duluan :mrgreen:. Untunglah ada Lumix TZ20 dengan Intelligent Zoom-nya saya bisa ambil dari jarak jauh tanpa mereka ketahui. Hahahahahahaā¦.
Kulit sudah terasa mulai perih karena langsung kena matahari. Telat banget lupa pakai sunblock. Selanjutnya saya ke bawah Jembatan Ampera, atau tepatnya di taman bawah Ampera.
Di Taman ini saya menemukan frame-frame yang sangat sayang untuk dilewatkan. Belajar lebih down to earth. Kalau di pelataran BKB ada Festival Fashion and Craft Expo. Di sini ada Festival Musik Jalanan. Wow!
Dari namanya saja Musik Jalanan tentu pemainnya adalah teman-teman kita yang berprofesi sebagai pemusik jalanan atau istilahnya pengamen. Teman-teman kita ini memang suaranya oke loh.
Selain itu, ada juga semacam pasar yang khusus berjualan untuk kalangan bawah. Mulai dari baju-baju bekas atau baju BJ, handphone bekas, jajanan kaki lima.
Selesai menikmati nyanyian dari teman-teman pemusik jalanan, saya mulai beranjak untuk pulang. Perut pun sudah terasa lapar. Saat perjalanan menuju pulang, saya melihat pemandangan romantisme anak remaja masa kini So sweet bener ya makan cokelat saling berbagi. Hahahahahaā¦. lumayan ya hasil candidnya.
Akhirnya, perjalanan saya selesai dan masuk ke pertokoan Megahria. Pertokoan yang sempat mengalami kebakaran ini dibangun kembali. Mata saya pun harus tergoda untuk belanja sepotong batik dan celana pendek.
Adanya momen SEA Games 2011 ini, memberi dampak baik bagi orang-orang Palembang. Minimal lebih melek bahasa Inggris.
Iya untuk cerita perjalanan saya hari ini sudah selesai. Tapi saya beri bonus tambahan tentang asiknya pakai Lumix TZ20. Kamera pocket yang hasilnya seperti DSLR ini sungguh membuat saya kagum. Selama pakai Lumix TZ20 ini saya nyaman dan praktik. Tidak perlu bawa DSLR yang berat itu dan saya juga tidak punya. Cukup satu kamera ini saja, saya bisa membidik setiap frame yang ciamik..
p.s : Semoga mendapat kado ultah Lumix TZ20. Amin.
Wuah banyak sekali tempat penting yang wajib kunjung di Palembang.
: )
[…] serunya aja kita. Kalau kalian suka sama hasil foto saya pakai Lumix TZ20, kalian bisa beri vote untuk foto […]
keren bgt,,,
aduh sekseh sekali si bapak topless ituh š
Yang enak dari kotanya “wong kita galo” juga empek-empeknya.
Selamat sore sobat, sukses selalu…
Enggak sekalian ke Pulau Kemaro ya?
Keren lho..
Ke sana perlu dana sekitar 250ribu untuk jasa angkut speed-boat :D. Sangat tidak worthed saya perginya sendirian kemarin. Hahaha…
Btw thanks mas Gie udah mampir ke blog saya š
wow keren, aku mau ke Monpera….
Sekalian keliling ke Museum SMB II nya, Ke. Hehe…