The Bucket List


Sepekan ini saya suka baca tulisan tentang kematian, entah itu dari status facebook, plurk, chatting dari YM atau blog. Ada apa dengan kematian?

Umur orang sekarang paling lama bisa hidup berapa lama sih? 50 tahun? 60 tahun? bersyukur kalau bisa sampai umur 80 tahun. Bisa hirup udara di setiap paginya saya udah merasa cukup bersyukur terlepas dengan pikiran hari ini saya mau ngapain yak? Sometimes I think to wake up to sleep quickly because I fear that my eyes immediately closed with this meeting and can not be opened again.

UHm… kok saya bisa mikir sampai sejauh itu yaa..

Kematian ibaratnya kadaluarsa. Bukankah kita menolak buat konsumsi barang yang udah kadaluarsa? Ada rentang waktu kapan masih dan layak untuk digunakan. Saat waktu (umur) sudah mendekatin batas kadaluarsa itu, ya habislah sudah. Apakah dengan sikap berpasrah saja itu menyelesaikan masalah? Tentu tidak.

Umur tetap menjadi rahasia ilahi, tapi bukan ini yang mau saya tuliskan.

Pernah dengar things to do before i die?

imagesAda orang yang bikin the bucket list tentang hal-hal apa saja yang bakalan dia lakuin sebelum dia meninggal. Saya pikir itu menarik dan harus! Pikir secara positif, dengan hanya meratapi diri sendiri, mengais-gais mencari harapan apakah usia ini masih diperpanjang, melihat orang-orang yang kita sayangin berada disamping tempat tidur kita sambil menghibur diri kita bahkan meratapi nasib kita. Teman, itu yang kamu mau? Saya rasa kamu nggak bakal memilih pilihan yang itu.

Akankah kita lebih baik melakukan hal yang menurut kita itu bisa membawa kebahagiaan kita?

Saya pengen travelling ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungin, saya pengen ke Singapore melihat langsung maskot singa negara itu serta merasakan Great Shopping Singapore. Serta hal lain yang tentunya bukan sekedar bersifat metafora/abstrak.

Tentunya hal itu lebih baik kan? karena kita telah mencicipi sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Saya inget omongan temen saya tentang cara bagaimana agar diri kamu bahagia adalah bagaimana cara kamu menyenangkan dirimu sendiri. Mungkin sepotong tenderloin steak itu adalah makanan terlezat yang pernah dimakan.  Tapi, setelah menderita kesakitan, apakah tenderloin tadi masih jadi makanan yang terlezat?

Mundurlah dirimu sejenak dari sosialiasi dengan orang-orang terdekat, dan kadang sosialisasi itu bikin saya jenuh. Saturated with falsity and hypocrisy in the words of a community called. Ambil waktu untuk dirimu sendiri, bukankah kita butuh waktu untuk sendiri?

p.s : Sudahkah kamu mendapat kebahagiaanmu? Apakah kebahagiaanmu juga bikin orang lain merasa bahagia?

29 pemikiran pada “The Bucket List

  1. Ping balik: You Are Not Alone « une note du noir et blanc

  2. ya…alway positif tinking aja deh, yang penting merubah segala hal menjadi energi positif, biar tetep brr..brr…brr…brr..berrrrsemangat karena energi negatif hanya menuju kegagalan dan frustasi

  3. Yang jelas siapkan Emergency Plan buat orang yang kita cintai kalo sampai sesuatu terjadi pada diri kita…hhmm..itu suatu kebahagiaan juga lo…Bukankah kita bahagia kalo istri dan anak kita bahagia? Menarik sekali artikel ini, karena semua orang mau bahagia..he..he…

    • mbak tuti ngak salah kok, tulisan ini aku bikin setelah abis nonton film “The Bucket List”. Aku coba mencari intisari aja apa yang bisa aku bagiin sama orang lain 🙂

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s