Melihat Tradisi Munggah Nikahan di Palembang


Makanan Palembang itu Enak!

Ngirup cuko pempek bikin Seger!

Apalagi makan pempek sambil disuapi sama cowok Palembang, bahagia hidup mu!

Indonesia dengan keragaman budaya dan adat sangat layak untuk di gali. Masih banyak keelokkan yang belum digali dan diekspos untuk menarik wisatawan berkunjung. Rasanya senang sekali kalau bisa menceritakan indahnya Indonesia lewat tulisan dan foto.

Saat Fam Trip bersama teman blogger lain, kami diajak untuk melihat salah satu adat pernikahan orang Palembang. Tradisi ini dinamakan β€œMunggah”. Mungkin banyak yang belum tahu tradisi Munggahan itu apa dan seperti apa. Saya sendiri baru tahu begitu dijelaskan oleh warga Kampung Al Munawar. Bagi masyarakat Sunda mungkin tradisi ini tidak asing. Tradisi ini merupakan bentuk rasa bahagia untuk menyambut suatu acara besar. Boleh dikatakan Munggahan adalah acara puncak. Bentuknya beragam, namun setiap daerah masih memiliki kesamaan.

Palembang juga memiliki adat pernikahan yang lumayan panjang prosesi-nya. Umumnya dilakukan bagi orang yang masih memiliki darah bawaan Palembang asli. Usai melalui proses seperti meminang, berasan (pihak dulur saling bertemu), hantaran, dan proses lainnya. Maka giliran proses pelaksanaan munggah yang diadakan di kediaman pihak wanita. Proses munggah ini memiliki makna agar kedua penganti menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang, serasi, dan bahagia.

Puncaknya saat acara makan besar bersama. Menu utama yang disajikan adalah nasi minyak yang rasanya pulen, hangat dan berwarna kuning coklat. Di tambah lauk pauk yang berlimpah mulai dari kari kambing, daging malbi, opor ayam, ayam kecap, tumis buncis, sambal kemang/manga dan acar. Semua hidangan ini disajikan dengan cara lesehan yang hanya dilapiskan kain. Formasi tempat duduk untuk delapan orang dalam satu tempat. Cara makannya boleh menggunakan sendok, walau disarankan menggunakan tangan kosong.

Foto sebelumnya adalah acara munggahan yang dilakukan di Katering Lembaga yang disponsori oleh Ibu Epi. Ibu ini memiliki usaha katering yang lumayan memiliki nama di Palembang. Masakan dari katering Lembaga ini memang asli orang Palembang, tentunya rasanya akan berbeda dengan cara masak orang Arab dari Kampung Al Munawar. Di sini kita juga menyantap munggahan yang disediakan warga. Sehingga dari dua tata cara ini saya memiliki gambaran yang berbeda dari cita rasa masakan orang Palembang asli dan orang keturunan Arab.

Berbeda menu dengan kepunyaan katering Lembaga, menu munggahan dari warga kampung Al Munawar sedikit berbeda dari lauk pauk. Cita rasa masakan khas buatan orang Arab tentunya memiliki bumbu-bumbu rahasia yang membuat lidah bergoyang. Seperti gado-gado, kari kambing, dan gulai ayam namun penggunaan nasi minyak tetap jadi hidangan utama. Pastinya adat makan “munggahan” seperti ini sudah mulai jarang dilihat jika bukan di acara pernikahan kampung.

Di Palembang sendiri, biasanya ada beberapa warung makan yang menjual menu nasi minyak tapi biasanya hanya dijual pada hari Jumat. Salah satunya bisa kita temui di warung makan Haji Saudi di kawasan jalan Lingkaran Luar (depan Hotel Rio) atau di kawasan Pasar Kuto Palembang.

Hayo… sudah mulai melirik bujang gadis Palembang buat dipersunting?

5 pemikiran pada “Melihat Tradisi Munggah Nikahan di Palembang

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s