Eloknya Budaya Tenun Kain Songket, Jumputan, dan Batik Khas Palembang


Tiap daerah di Indonesia punya ikon kain sendiri yang menjadi budaya dari turun temurun. Misalnya ada kain Ulos dari Batak, tenun ikat khas Lombok, kalau dari Banjar Kalimantan Selatan ada kain Sasirangan yang dibuat dengan cara diikat lalu dicelupkan dalam berbagai warna sehingga menghasilkan motif beragam. Pastinya Palembang juga memiliki kain khas yang telah mendunia yaitu tenun songket.

Saat pra sejarah Kerajaan Sriwijaya ke Kesultanan Palembang, lalu lintas perdagangan di Sungai Musi pastilah sangat ramai. Banyaknya para pedagang jual beli dari Cina maupun Eropa masih membawa pengaruh. Sebenarnya, Sumatera Selatan memiliki kekayaan alam yang luar biasa mulai dari rempah-rempah sampai tekstil. Benang merah, saat pedagang Cina melakukan transaksi barter antara kain sutera dengan rempah Palembang maka banyak peninggalan tak ternilai dari berasal dari kerajaan terkenal itu, salah satunya tenun Songket.

Pada saat itu para pedagang Cina membawa sutera sebagai alat penukar dalam perdagangan, tentunya benang sutera emas dan perak menjadi primadona saat itu. Menurut hemat saya, oleh karena mendapatkan benang bagus maka dimanfaatkan untuk menenun kain. Kain Songket merupakan jenis kain tenunan tradisional Melayu di Indonesia. Umumnya penggunaan songket ini untuk acara kebesaran atau acara khusus. Sehingga Songket memberikan nilai tersendiri bagi orang-orang yang memakainya.

Menurut bahasa Palembang, songket berasal dari kata disongsong dan di-teket. Kata “teket” dalam bahasa Palembang lama artinya sulam. Kata tersebut merujuk pada proses penenunan dengan memasukkan benang dan peralatan lainnya ke Lungsin (benang tenun) dengan cara disongsong. Pembuatan kain songket pada dasarnya dilakukan dengan cara disongsong dan disulam. Pendapat lain mengatakan Songket Palembang berasal dari kata songko, yaitu kain penutup kepala yang dihias dengan benang emas.

Motif Songket yang hampir selesai ditenun.
Proses memasukkan benang tenun ke dalam alat tenun.

Rangkaian benang yang tersusun dan dianyam sehingga membentuk pola yang telah dirancang ini membutuhkan waktu sekitar 3 bulan. Waktu yang cukup lama untuk menghasilkan sebuah kain berukuran 2 meter. Mulai dari pemilihan motif, benang, dan waktu tenun 2 minggu. Biasanya untuk acara khusus, beberapa orang sengaja memesan khusus agar dibuatkan motif yang berbeda atau dengan bahan berkualitas.

Semula songket adalah kain mewah bagi bangsawan untuk menaikkan derajat dan gengsi si pemakai. Hal ini dikarenakan segmentasi songket untuk golongan masyarakat kaya. Akan tetapi sekarang harga songket bervariasi, dari yang biasa dan terbilang murah, hingga yang eksklusif dengan harga yang sangat mahal. Oleh karena lama proses pembuatan, maka layaklah sebuah kain songket diberi harga mulai dari 1,5 juta sampai 100 juta. Kalau merasa harga kain songket mahal, para pengrajin pun mengeluarkan variasi produk seperti tas, tempat alat tulis, dompet, atau kantong hape dengan harga yang terjangkau.

Gadis Palembang ini sedang asik melakukan tenun Songket.

Saat berada di Sentral Tenun Pengrajin Songket daerah 26 ilir, saya melihat proses kerja para gadis Palembang yang sedang sibuk melakukan proses tenun. Sepertinya keahlian dan ketelitian telah mendarah daging, namun sayangnya yang menjadi penenun songket disini bukanlah gadis Palembang asli, tapi pinggiran Palembang yang didik untuk menjadi penenun. Selain itu, mereka hanya dibekali keahlian menenun tapi pengetahuan seperti motif yang sedang mereka kerjakan mereka sendiri tidak tahu. Padahal, kain Songket ini memiliki ragam motif yang terbilang banyak. Di Palembang, ada lima kategori jenis kain songket. Pembagian ini berdasarkan benang, benang emas dan motif yang digunakan.

Melihat perkembangan kain Songket di Palembang, toko pengrajin tenun kain Songket selain menjual Songket Palembang juga memproduksi kain Batik dan kain Jumputan. Kedua kain nusantara ini memiliki tekstur dan motif yang berwarna. Khususnya kain Jumputan khas Palembang atau kain pelangi merupakan kerajinan tenun yang dihasilkan dengan teknik jumputan untuk menghasilkan motif tertentu dari dari bahan berwarna putih polos. Dimulai dengan menjahit dan mengikat erat bagian-bagian tertentu kemudian mencelup dalam larutan pewarna sesuai keinginan.

Ragam corak Kain Jumputan khas Palembang

Teknik pembuatan kain jumputan ini mengenal metode strich and dye, yaitu membuat jelujur dengan benang pada bidang kain dengan mengikat pola yang telah ditentukan. Selanjutnya dengan ditarik erat-erat sehingga berkerut-kerut, lalu dimasukkan ke dalam larutan pewarna kain. Kain jumputan biasanya memiliki motif yang memenuhi seluruh bahan. Kain jumputan umumnya menggunakan bahan sutera, dan memiliki berbagai macam motif, antara lain motif bintik tujuh, kembang janur, bintik lima, bintik sembilan, cuncung (terong), bintang lima, dan bintik-bintik.

Eloknya pesona Songket ini memberi bukti masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang masih ada di kota Palembang. Andai kata kamu tertarik mengoleksi kain, maka tidak ada salahnya memiliki kain Songket khas Palembang ini sebagai koleksi. Kain Songket, Batik dan Jumputan ini bisa mudah didapatkan di kawasan 26 ilir sebagai sentral pengrajin tenun songket atau di pasar tradisional seperti komplek pertokoan Ramayana atau di pasar 16 ilir Palembang. Happy hunting Songket!

Iklan

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s