Musi Jazz Sriwijaya 2016 Ajang Perkenalan Budaya Lewat Jazz


Acara Musi Jazz Sriwijaya yang digelar kali ke-2 di Palembang kembali menyedot perhatian warga Palembang. Setelah sukses Musi Jazz Sriwijaya tahun lalu, kali ini Dinas Kebudayaan dan Provinsi Sumatera Selatan bekerjasama dengan Konsulat Amerika Serikat untuk melanjutkan kerja sama di bidang pendidikan dan budaya. Event Musi Jazz Sriwijaya 2016 ini menghadirkan bintang utama Soul Inscribed, kelompok musik yang mengkombinasikan genre hip-hop, soul dan jazz.

Soul Inscribed sebelumnya telah melakukan rangkaian tur di beberapa tempat di Palembang, penampilan di Palembang Sport Convention Center (PSCC) ini adalah puncak dari rangkaian tur mereka. Beruntung saya mendapat akses untuk menonton acara Musi Jazz Sriwijaya ini bersama rombongan teman lainnya. Menonton pertunjukkan musik jazz ini merupakan kali pertama bagi saya, apalagi setelah mengetahui bintang tamu yang akan hadir ada Harry Toledo, Ermy Kullit hingga musisi jazz pendatang baru Briana Simorangkir. Selain itu ada juga musisi jazz lokal Palembang dan Palembang Beat Box ikut menghangatkan suasana Musi Jazz Sriwijaya 2016 hari sabtu lalu (27/02).

Briana Simorangkir

Briana Simorangkir

Soul Inscribed

Dalam penampilan Soul Inscribed sendiri menggabungkan aliran musik mereka yaitu hip hop, soul dan jazz. Mencoba berbaur dengan budaya Indonesia dan Lokal, para personil menggenakan Batik dan Tanjak, topi adat Palembang. Kelompok musik ini berimprovisasi dengan lagu Gending Sriwijaya versi hip hop, vokal jazz dan soul. Selain itu di tengah acara diajak kelompok Beat Box Palembang untuk berkolaborasi. Hadir dengan enam lagu dan satu lagu kolaborasi, penampilan Soul Inscribed ditutup dengan aksi Yako yang melukis mural sebagai kenang-kenangan.

Selesai penampilan Soul Inscribed, para penikmat musik jazz sudah menantikan penampilan Harry Toledo dengan permainan gitar dan juga Ermy Kullit untuk bernostagia musik lawas. Acara Musi Jazz Sriwijaya ini berlangsung hingga pukul 11.30 malam karena tampil juga kelompok musik yang membawakan alat musik tradisional daerah seperti Sekayu dan Pagaralam. Penampilan mereka menutup event Musi Jazz Sriwijaya 2016 dengan alat musik kulintang, sejenis bilah-bilah kayu yang menghasilkan musik yang merdu.

Photo courtesy by suzzanita.com

Harry Toledo – Photo courtesy by suzzanita.com

Photo courtesy by suzzanita.com

Ermy Kullit – Photo courtesy by suzzanita.com

Menurut saya, acara Musi Jazz Sriwijaya ini kolaborasi yang baik dan unik seperti pertukaran budaya. Membawa hip hop dan beat box di sebuah pertunjukkan jazz. Namun, dengan membawa ekspektasi saya sewaktu di rumah adalah menonton jazz dengan lebih tenang dan saya bisa ikut menggerakkan tubuh saya. Sehingga acara malam itu membuat sebagian penonton meninggalkan pertunjukkan tidak sampai selesai, saya sempat bertanya ke beberapa penonton alasan mereka keluar beberapa menjawab suasana jazz tidak seperti jazz, suara musik terlalu keras dengan sound system tidak begitu baik, terlalu banyak hip hop dan beat box yang membuat mereka datang bersama anak kecil ini terlalu bising.

Semoga untuk acara Musi Jazz Sriwijaya 2017 lebih bervariatif dan sesuai jenis musiknya jazz. Saya juga menantikan nantinya Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan akan menggelar Jazz Musi River tanggal 26 Maret 2016 yang akan menghadirkan Dwiki Darmawan dan Rizki Febrian yang dikenal dengan lagu “Berada di pelukanmu mengajarkanku.. apa artinya kenyamanan..” Sudah tidak sabar menantikan event tersebut!

2 pemikiran pada “Musi Jazz Sriwijaya 2016 Ajang Perkenalan Budaya Lewat Jazz

Pembaca yang baik pasti selalu meninggalkan jejak komentar.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s