Influencer dan Social Responsibility

Baru-baru ini muncul informasi ada artis Indonesia yang merekomendasikan kepada para followernya untuk berinvestasi saham, khususnya di saham tertentu yang mereka tunjuk.

Sang artis mengatakan kalau dia telah menginvestasikan tabungannya untuk perusahaan tersebut dan sudah peroleh cuan.

Apalagi ditambah dengan label, “ini tidak di-endorse ya!”

Apa kamu akan langsung percaya dengan apa yang dibilang sama sang artis?

Digital Influencer Kian Ramai

influencer marketing
Influencer Marketing

Saat ini fenomena dalam mempromosikan produk di industri media digital sudah lumrah. Kita hidup berdampingan dengan para digital influencer, para pemain digital dan pembuat konten.

Ada beragam foto dan video yang dibagikan berkaitan dengan kegiatan keseharian mereka, makanan yang dimakan, tempat nongkrong baru, pendapat mereka suatu hal, tentang berbagai ulasan produk.

Para digital influencer ini layak dibayar karena kemampuan mereka dalam membangun “komunitas” sehingga membuat mereka mampu mempromosikan produk.

Mereka mampu menjangkau dari segi high tech dan high touch. Inilah yang menjadi kunci dari digital marketing seperti yang pernah saya bahas dalam blog ini.

Kalau dibilang, apakah ini hanya berlaku untuk follower banyak saja? Belum tentu. Jika hanya melihat jumlah follower saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai digital influencer. Tapi juga perlu diperhatikan bagaimana engagement yang terjadi, value antara influencer dan followernya serta seberapa percaya publik percaya sama sosok influencer tersebut.

Kunci inilah yang dimanfaatkan oleh sejumlah brand untuk menjalin kerjasama saling menguntungkan. Karena brand melihat strategi pemasaran influencer bisa langsung mengena ke publik.

Influencer Melakukan Word of Mouth

Media sosial mengambil peran penting dalam mempromosikan produk. Seperti Instagram, Youtube, ataupun TikTok.

Para digital influencer ini kita sebut sebagai pihak ketiga yang mereka membangun popularitas cukup tinggi, tapi tidak harus berasal dari kalangan publik figur, tetapi memiliki angka follower banyak.

Angka follower ini memiliki tingkatan dalam dunia digital. Tiap tingkatan seperti Nano, Micro, Mid-Tier, Makro, dan Mega Influencer memiliki keuntungan dan kelebihan.

Sudah membaca tulisan saya tentang kasta influencer beberapa waktu lalu kan? Kalau belum, bisa baca kembali ya.

Dalam konteks promosi, digital influencer ini sebenarnya menerapkan promosi mulut ke mulut atau Word of Mouth (WOM). Ada survey dari majalah Forbes kalau sekitar 90% orang lebih percaya sama influencer dibandingkan iklan atau cara endorse menggunakan artis. Asumsi ini juga tidak salah.

Sehingga setiap hari selalu bermunculan insan-insan kreatif baru yang membagikan keseharian mereka di platform media sosial.

Logikanya, kalau kalian punya teman dekat, ketika dia rekomendasikan sebuah tempat makan enak. Masa iya kamu nggak percaya?

Mengarah ke User Generated Content

influencer marketing
Micro Celebrity istilah lain dari Influencer

Saya termasuk yang percaya akan hasil riset kalau orang Indonesia salah satu negara yang paling aktif menggunakan media sosial seperti Instagram. Platform ini menjadi media sosial favorit untuk kelompok milenial dan Z.

Lantaran informasi yang semakin banyak dan luas, saya pun masih menemukan tentang peran mereka, terutama saat mempromosikan suatu produk.

Maksudnya bagaimana?

Instagram membuat kita menjadi User Generated Content (UGC). Dalam media sosial, setidaknya ada 3 kegiatan yang dilakukan oleh para digital influencer, yaitu :

  1. Rutin posting dan melakukan interaksi dengan follower
  2. Melakukan endorser untuk produk yang punya kesamaan target audiens. Tujuannya agar aktivitas Word of Mouth informasi yang kita sampaikan bisa terdistribusi dengan baik.
  3. Dari konten yang diolah, maka hasil akhir yang dilihat adalah key performance dari konten. Aspek yang dilihat seperti reach, impression, dan engagement. Kita bisa melihat bagaimana engagement konten dari like, share, comment, dan save.

Belum lagi digital influencer juga masih harus berjuang dengan algoritma Instagram yang kian berubah setiap saat.

Seorang teman pernah bilang ke saya saat kami sedang diskusi mengenai digital marketing. Media Instagram bersifat UGC sehingga ada aturan yang berlaku seperti jangan membohongi dan tetaplah menjadi diri sendiri.

Maksudnya kita tentu paham ada orang yang tampak di media sosial seperti selalu hedon, padahal aslinya bisa saja dia menumpang panjat sosial demi popularitas. Sudah banyak kan digital influencer abal-abal yang kita lihat dari konten yang dihasilkan.

Influencer Role Model

Waktu saya mengisi seminar di beberapa sekolah tentang media sosial. Hampir sebagian anak-anak memiliki sosok influencer favorit sebagai panutan dan referensi mereka.

Saya bisa pahami hal ini. Saya beri contoh diri sendiri saja, nggak apa-apa kan?

Konten yang saya tampilkan di blog dan Instagram @deddyhuang merupakan konten seputar traveling, informasi tentang destinasi yang mengangkat nilai sejarah dan budaya, serta memberikan review. Atau seputar opini saya akan hal.

Produk yang saya ulas juga relatif terjangkau dan bermanfaat misalnya gadget. Jadi ketika saya memberikan review tentang suatu produk, seperti memberikan tips ringan saja kepada pembaca saya.

Kedengarannya mudah ya?

Setelah saya jalani ternyata tidak terlihat mudah, justru bisa menjadi beban. Pertama, tidak semua audiens saya bisa percaya dengan konten yang saya ulas. Orang sudah memiliki pandangan kalau tulisan berbayar pasti akan dibuat bagus, padahal tidak demikian.

Sebagai seorang blogger, saya juga turut memberikan informasi tulisan dan gambar di media sosial saya ini ada semacam tanggung jawab pribadi.

Saya juga membagikan tips bagi blogger pemula yang ingin membangun blognya lebih profesional.

Akankah konten saya ini bisa diterima oleh publik?

Bukan hanya nilai uang atau benefit yang akan saya peroleh, tapi saya juga akan menanyakan hal-hal mengenai produk terlebih dahulu. Agar produk yang saya coba dan informasikan tidak menyesatkan atau informasi salah.

Apabila produk yang saya gunakan ternyata tidak cocok, maka saya akan memberitahu alasannya ke brand. Atau, saya pun juga bisa menolak karena tidak cocok sama niche.

influencer marketing

Hal ini juga termasuk ketika saya akan membahas makanan. Biasanya saya akan melihat bertanya pada vendor mengenai kandungan bahan makanan. Apakah menggunakan pewarna makanan alami?

Dan, ketika saya sedang traveling untuk mengulas tempat wisata atau hotel. Saya mencoba menghargai tempat. Misalnya, saya tidak ingin membahayakan diri sendiri untuk berdiri di atas pagar batas kayu puncak Pianemo, Raja Ampat seperti foto-foto influencer lainnya.

Sedangkan untuk hotel, hal sederhana saya mencoba untuk tidak merubah posisi kasur di dalam kamar untuk dipindahkan ke jendela untuk mendapatkan foto bagus. Kenapa? Karena jika saya berbuat demikian, orang yang melihat foto saya akan memiliki ekspektasi tinggi. Saya tidak perlu jadi bintangnya, karena yang perlu menjadi bintang adalah isi dalam kamar hotel tersebut. Sampai disini paham kan?

Dan, dari sisi brand image hotel tersebut juga akan menurun. Informasi ini saya dapatkan dari salah satu marketing communication sebuah hotel berbintang.

Baru-baru ini saya menolak tawaran dari salah satu tempat makan cukup sering dikunjungi di Palembang. Mereka berniat mengundang saya untuk meramaikan tempat mereka dengan melakukan live Instagram Stories dengan beberapa tamu lain.

Dalam program tersebut, nantinya saya akan mengobrol seputar makanan yang disajikan. Dengan duduk saling berdekatan, makanan disajikan ala rijsttafel.

Saya langsung menolak saat itu juga. Karena, saya tidak ingin audiens saya mencontoh dengan apa yang saya lakukan di tengah pandemi kalau makan di luar itu sudah aman. Selain itu saya bilang kalau itu pun akan membuat brand image tempat makan itu dipertanyakan. Lebih baik saya kehilangan kesempatan uang yang datang, daripada nanti efek risiko yang terjadi.

Pandemi ini saya juga banyak kok kehilangan kesempatan pekerjaan digital. Tapi saya mencoba bertahan, misalnya tetap produktif ngeblog dan menjadi fotografer makanan di Palembang.

Namun, saya mendengar nasehat dari salah satu teman. Dengan kita belajar mengendalikan diri artinya kita bisa mengatasi serta meminimalkan isu di media sosial yang mungkin terjadi.

Tetap Ada Tanggung Jawab Sosial yang Melekat

Tanggung jawab sosial atau Social Responsibility adalah prioritas utama bagi influencer dan pengikut mereka. Tahun ini, saya mengamati sejumlah besar influencer menjadi vokal tentang masalah sosial yang mereka sukai.

Akhirnya, cara ini juga mempengaruhi cara mereka bekerja dengan merek, dengan siapa mereka memilih untuk bekerja, dan pesan apa yang mereka bagikan.

Influencer akan terus memeriksa brand yang menjadi mitra mereka, dan menolak brand yang tidak sesuai dengan nilai mereka.

Tren ini akan mengarah pada kampanye yang lebih otentik dan sadar sosial. Brand tentu juga akan mengambil kesempatan unik ini untuk terlibat dengan konsumen, memanfaatkan percakapan yang bermakna, dan membangun kepercayaan.

Tanggung jawab bisa jadi bukan soal kerelaan (filantropi). Namun menjadi aksi seorang manusia dalam menjalani.

Hubungan influencer dengan pengikutnya ada engagement yang secara etis mengharuskan para digital influencer ini memberikan edukasi sama pengikutnya.

Apalagi influencer juga diberikan pengaruh berkat adanya media sosial. Mereka mudah diidentifikasi dan diiduplikasi oleh para pengikutinya.

Memang tidak ada obat untuk digital influencer yang tidak sadar, bahkan tak acuh malahan mempertontonkan tindakan yang tidak esensial. Ya, biarkan saja.

Akan tersadar saat keadaan terdesak bahwan mereka akan kembali pada lingkungan sosial yang lebih nyata, daripada sekedar dunia maya.

Viral Dulu, Minta Maaf Kemudian

influencer marketing

Kecepatan penyebaran informasi dan mudahnya menjadi viral adalah kelebihan utama di era digital saat ini.

Misalnya pada salah satu postingan saya tentang destinasi wisata, maka follower saya akan membuat komen dan melakukan tag ke temannya untuk ikut melihat.

Kendati perihal influencer belum memiliki kode etik influencer tertulis. Tapi bukannya setiap profesi apapun sebenarnya punya tanggung jawab sosial?

Kita sendiri bisa melihat bagaimana hukum sosial berupa etika dan moral dari se-Indonesia Raya. Menurut saya ini yang paling menyeramkan.

Tidak bisa dipungkiri kalau di tengah masyarakat membuat kita secara tidak sadar ingin terus mengkonsumsi dan membagikan konten mainstream.

Konten yang bertujuan agar kita mendapat perhatian dari dunia maya. Namun, tanpa kita sadari kalau bisa mempengaruhi pikiran dan perilaku kita, dan orang yang melihat.

Contohlah Hal yang Positif dari Influencer

Saya bukan pribadi yang alim, tapi sebisa mungkin melakukan kurasi berdasarkan nilai yang saya yakin kalau konten atau menerima promo produk untuk menjadi diri apa adanya.

Mulai dari saat brand ingin mengajak saya kerjasama, tidak mentah-mentah saya terima materi. Saya pun menyesuaikan copywriting agar sesuai dengan audiens. Kalau memang produk tersebut tidak cocok sama karakter, saya pun tidak akan menerima demi mendapatkan penghasilan.

Apabila audiens saya kurang nyaman dengan apa yang saya bagikan, please feel free buat hubungi saya untuk menerima saran dan pendapat.

Saya sendiri ingin tetap berusaha untuk membuat konten positif agar tidak memberikan dampak negatif untuk kehidupan setidaknya diri saya sendiri. Dan, jikalau satu hari itu terjadi, saya tidak sengaja terpeleset. Saya mohon dibukakan pintu maaf. Serta diingatkan jauh sebelum itu terjadi.

Penulis: Deddy Huang

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

10 komentar

  1. Semua ada tanggungjawabnya bahkan untuk hal kecil, selembar foto atau sebuah caption singkat. Bersikap, berpendirian dan jujur akhirnya akan menunjukkan siapa kita dan di level mana kita berada

  2. Seandainya semua influencer punya pikiran yg sama kayak koh Deddy :).

    Yg paling aku sebel, kalo seorang influencer mempromosikan barang2 yg belum terdaftar di BPOM (ini biasanya kosmetik) ato kayak yg baru2 ini, menyarankan suatu saham, tanpa tau fundamental dari saham itu. Dia ngerti ga baca fundamental suatu saham? Kalo yg disaranin mungkin saham berfundamental kuat, aku msh bisa terima, tp jelas2 yg dipromosikan saham gorengan lemah dari sisi fundamental. Kalo sampe ada followersnya , ga terlalu paham saham juga, ikutan beli, dan rugi, si influencer itu bisa kena. Aku yakin dia ga punya license utk menyarankan suatu saham.

    Sedih aja, kalo seorang influencer hebat, followers bejibun, tapi ga bisa memberi contoh baik ke fansnya.

    1. Kalau soal bahan BPOM ini aku merasa kayak misalnya review makanan soal Halal atau Tidak Halal. Masih perlu ada acuan sejauh mana batas kita untuk mengulas (dari kacamata blogger). Ya, kalau sudah ada logo Halal MUI akan lebih enak kan. Tapi kalau aku biasanya tanya hal-hal yang dasar dulu aja biar akunya juga yakin.

      Soal saham, mau ajarin aku gak hahaha..

  3. Tugas influencer sebetulnya berat karena penuh tanggung jawab dibaliknya. Ada profesionalitas yang perlu dijaga. Ada etika dan moral yang perlu diperhatikan. Dan ada value yang ditransfer ke pengikutnya. Bukan semata-mata, ‘ Nih gua udah endorse brand ini ono’ trus cuma pasang pose ala-ala billboard iklan dan selesai. Karena dibalik itu semua ada nilai-nilai yang kita bawa saat ‘hadir’ buat audiens. Makasih udah mengingatkan kita lewat postingan ini, Koh. Nice post!

  4. Sebenarnya ada rasa kegundahan tersendiri melihat fenomena munculnya para influencer saat sekarang ini, pengennya dibuat satu tulisan namun waktu dan kesempatannya belum pas. Kalau seperti Kokoh memang layak dipandang sebagai seorang influencer profesional karena kapasitasnya cukup mumpuni. Jangan pernah bosan berhenti melakukan hal baik dan positif ya Koh.

  5. With great power comes great responsibility. Influencer punya kekuatan untuk menginfluence people tapi kadang lupa bahwa mereka punya tanggung jawab besar dibalik hal-hal yang mereka endorse. Yang penting “kerjasama jalan terus”

Tinggalkan Balasan