Pentingnya Makna “Kalau Sudah Sampai, Kabarin ya!”

“Bapak Ibu, saat ini kita sedang terbang dalam kondisi cuaca tidak seimbang. Pastikan sudah mengencangkan sabut pengamanan Anda.”

For your safety and comfort, please remain seated with your seat belt fastened.

Bunyi telepon suara yang terdengar jelas makin membuat saya meremas pegangan kursi. Sambil mulut berkomat kamit meminta keselamatan.

Salah satu ketakutan saya saat naik pesawat adalah mengalami turbulensi.

Mau itu turbulensi tingkat 1 dari empat tingkatan, saya tetap berharap itu tidak terjadi.

Getaran, naik turun pesawat menembus gumpalan awan keras pun bisa dirasakan saat kita berada di atas.

kecelakaan pesawat

Ini berbeda kalau kita naik kendaraan darat. Saat naik mobil, kita tahu kapan membuka jendela atau bisa keluar lewat pintu saat berhenti.

Nah, sementara saat terbang, kita tidak punya kesempatan yang seperti itu. Mau kamu buka pintu darurat pesawat dan langsung oleng?

Saya pikir ini menjadi bagian terbesar setiap orang saat naik pesawat.

Critical Eleven Saat Penerbangan Pesawat

critical eleven

Pernah mendengar istilah critical eleven?

Masa-masa pesawat baru lepas landas hingga mencapai ketinggian maksimal merupakan situasi krusial di setiap penerbangan.

Kendati kita sering melakukan bepergian dengan pesawat, tetap saja ada rasa khawatir.

Kita semua akan merasakan pada 3 menit awal setelah pesawat lepas landas dan 8 menit akhir sebelum pesawat mendarat.

Kondisi ini dijelaskan kalau dalam waktu 3 menit pertama pilot akan menstabilkan posisi dan mengontrol kecepatan pesawat. Maka, pada saat itu kita akan merasakan jantung sedikit berdengup ketika pesawat memasuki ketinggian.

Sedangkan, 8 menit sebelum mendarat, kita akan merasakan detik-detik pesawat mulai mengurangi kecepatan dan menyesuaikan pesawat dengan landasan.

Dalam dua situasi krusial ini, tak jarang pramugara/pramugari pesawat mencoba mengatasi suasana dengan meminta seluruh penumpang untuk mengenakan sabuk pengaman, mematikan ponsel, menegakkan sandaran kursi, melipat meja dan membuka penutup jendela.

Sumpah saya bisa panas dingin kalau sudah merasakan turbulensi!

Beri Kabar Orang Tersayang

pesawat terbang

Ada yang bilang, saat pintu pesawat sudah ditutup, penumpang sudah duduk di kursinya masing-masing. Artinya, kita sudah masuk dalam “peti mati” masing-masing.

Ibu ku termasuk orang yang cemas saat saya akan berangkat. Saat mau ke bandara, dia pun ikut sibuk untuk menyiapkan perintilan yang sebenarnya sudah saya siapkan sendiri.

Malam harinya, dia masih bertanya, apa masih ada yang belum dibawa. Kemudian, dia juga bertanya saya naik pesawat tipe apa, jam berapa sampai tujuan. Semua detil itu dia minta saya sebutkan.

Hingga dia bilang, “Kalau sudah sampai, kabarin ya!”

Dulu saya mengira, ah apa sih. Orang juga berangkat jaraknya dekat.

Banyak orang yang ngomong :

“Hati-hati yah di jalan”

“Have a safe flight!”

“Take care yah.”

Lama kelamaan saya mulai berpikir sendiri, kenapa ibu saya sampai begitu cemas dengan kegiatan anaknya. Walau kadang saya sering lupa untuk langsung memberitahu, baru setelah keluar dari bandara saya telepon kembali ke ibu. Tapi, ternyata itu bisa melegakan dia karena selama saya berangkat di atas, tidak ada sinyal telepon.

Saya pun menyadari kalau makna kalimat ini banyak. Bisa jadi itu kalimat terakhir yang bisa kita ucapin.

Kita akan sadar betapa pedih saat kita kehilangan orang tersayang.

Memberi kabar ke teman/keluarga atau orang yang kita sayang tidak salah.

Walau cara yang dilakukan penumpang baru landing langsung menyalakan ponsel untuk memberi kabar kalau sudah tiba itu salah. Tapi mereka ingin memberi kabar kalau mereka sudah sampai dengan selamat.

Perpisahan itu Menyedihkan

Kematian membuat hidup lebih memiliki nilai. Mungkin kita yang masih hidup ada rasa penyesalan terhadap orang yang sudah pergi lebih dulu.

Kita sering menyepelekan waktu saat masih ada kesempatan. Ada banyak janji yang belum terpenuhi. Jadi manfaatkanlah waktu yang ada karena kita tidak tahu sampai kapan kita bisa bersama. Lakukan yang terbaik pada hari yang diberi hingga tidak ada penyesalan di kala waktunya pergi.

Sekarang saya paham, betapa berartinya kata : “Kabarin ya kalau udah sampai!”

Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com
Posts created 1719

20 tanggapan pada “Pentingnya Makna “Kalau Sudah Sampai, Kabarin ya!”

  1. Terima kasih banyak, Koh, sudah menuliskan dengan tepat perasaan mayoritas orang hari-hari ini saat hendak bepergian dengan pesawat.

    Sama seperti kalimat “Semoga sehat-sehat selalu ya!” yang kembali menemukan makna sejatinya semenjak pandemi, kalimat “Kabarin kalau sudah sampai, ya!” saat ini juga tak lagi jadi sekedar basa-basi.

  2. Akupun koh, kdg kalo masuk pesawat itu, rasanya memang hrs pasrah. Kita ga tau apa yg bakal terjadi. Even pesawat bagus sekalipun, ttp ada kemungkinan jatuh :(. Sekali aku pernah ngalamin turbulensi yg parah banget pas ke Bali, outing kantor. Itu paling parah, sampe aku juga lemes :(. Temen di sampingku ketakutannya ntah udah kayak apa, tanganku diremes kuat banget.

    Turbulensi yg begitu aja bikin aku pucet, ga kebayang yg dirasakan para korban pesawat di detik2 trakhir hidupnya. Aku nangis kalo ngebayangin. Aku ngalamin bbrp kali kehilangan orang2 yg aku kenal Krn kecelakaan pesawat. Pas Garuda jatuh di Sibolangit 97, temen ku dan mamanya jd korban. Pas Hercules jatuh di jalan raya medan, pilotnya temen adikku yg dulu pas kecil srg main ke rumah. Pas air Asia, temen kantor 1 org jd korban. Lion kecelakaan trakhir, tetanggaku yg jd korbannya.

    Takutnya jd LBH berasa. Kepikiran gimana rasanya itu, rasa takut yg mereka Alamin Sampe akhirnya ajal DTG :(. Kdg butuh wkt lama sampe aku akhirnya berani lg naik pesawat. Makanya aku ga prnh mau nonton film ttg kecelakaan pesawat. Ga tega.. ga berani juga

  3. Ngomongin critical eleven, aku selalu resah kalau pesawat mau landing. Biar sudah puluhan kali naik pesawat, proses landing selalu tak nikmati dalam hening.

    Pengalaman 2 kali gagal landing karena pesawat “tersapu” angin yang mendadak nongol dan bikin pesawat yang aku tumpangi oleng, tambahlah lagi derajat ketakutan soal landing. Sesuatu banget lah pokoknya.

  4. Kalo mama saya bukan cuma saat saya mau pergi, misalnya saya ada ujian atau interview kerja mama akan bilang,”sebelum mulai dan setelah selesai kabarin ya.”
    Saya tau kalau mama saya pasti akan di kamar dan berdoa untuk keberhasilan atau keselamatan saya.

  5. Iya betul sekali. Baru terasa kehilangan setelah benar-benar hilang. Intinya jaga terus komunikasi. Ngasi kabar itu hal kecil namun punya effect besar.

    Salam sehat.

Tinggalkan Balasan

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: