Aha Moment Skyscanner : Kenangan Bersama Cumi Lebay


Satu malam saya mendapat pesan whatsapp dari Mbak Ira @itikkecil tentang ajakan apa mau ikut menemani blogger Nasional keliling Palembang selama 3 hari?

Situasi saya waktu itu masih sibuk mencari pekerjaan, kirim lamaran via online ke perusahaan yang ada di Jakarta dan Palembang. Sampai sekarang saya masih punya keinginan hijrah ke Jakarta oleh sebab melihat peluang kerjanya. Waktu kosong memang masih banyak sehingga ajakan dari Mbak Ira tanpa saya pikir dua kali, serta tidak banyak bertanya nantinya mau ngapain aja. Saya cuma jawab iya mau.

Rasanya senang sekali bisa ikut bergabung di suatu acara Fam Trip. Tahun 2015, tahun yang boleh saya katakan turning back poin dengan kondisi tabungan terbatas dan belum punya pekerjaan baru.

Hari fam trip pun tiba, saya hanya berpakaian kaos, celana jeans dan sepatu datang ke Kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Sudah ada mbak Ira, mbak Suzan dan Jony yang diminta tolong oleh Ibu Irene Camelyn, Kadispar Provinsi untuk mengundang para blogger Nasional dan Asia dari Malaysia dan Singapore. Tentunya fam trip ini bertujuannya untuk mengenalkan Kota Palembang di mata nasional dan internasional. Saya tidak begitu tahu mengenai acara, lebih memilih mengamati nama-nama blogger yang diundang.

travel blogger indonesia
Para Blogger Travel Indonesia yang keren!

Siapa mereka? Gumam saya membaca sekilas nama-nama yang masih asing. Entahlah, saya belum mengenal mereka. Sudah lama sekali saya tidak ngeblog sejak disibukkan dengan bekerja. Tiba-tiba rasa kepercayaan diri saya mulai menurun. Seketika saya gemetar setelah bertanya dengan mbak Suzan.

“Mbak siapo mereka-mereka ini?” tanyaku tetap memegang kertas berisi profil para blogger.

“Mereka blogger femes, Huang. Udah sering diundang kemano-mano,” seru mbak Suzan.

Hanya gumaman “oh” panjang yang bersiul keluar. Bisa nggak saya seperti mereka ya? Lamunan saya langsung buyar saat mbak Suzan memanggil saya untuk segera ke mobil menemani dia menjemput para blogger di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pagi itu.

Perjumpaan Pertama

Kemacetan di Palembang mulai dirasakan, mulai ada pembangunan hotel dan perbaikan jalan. Untunglah kami tiba di bandara tidak telat, kami menunggu di ruang kedatangan sambil memegang tulisan “Blogger” penanda kalau kami sudah ada di tempat.

Tiba-tiba, mbak Suzan berteriak ke arah pintu kedatangan. Saya sendiri sudah bersama David Hogan, blogger Malaysia yang sudah tiba terlebih dahulu. Pandangan saya mulai beralih ke rombongan para blogger yang baru datang. Masing-masing saling bersalaman, saya pun mulai memberanikan diri untuk mengenallkan diri dan berjabat tangan pertama kali dengan mereka.

cumilebay
Rombongan blogger baru tiba di Palembang

“Deddy,” ulur tanganku dimulai satu per satu mulai dari pria bertubuh besar dan gemuk yang ternyata bernama Bolang. Ada juga perempuan yang dulu saya kenal waktu masih aktif ngeblog, namanya Eka Situmorang, lalu ada perempuan mungil dan suara yang menggelegar yaitu Yuki dan Satya. Hingga satu orang lagi yang rumpik abis mengenalkan dirinya sebagai Cumi.

Senang sekali bisa bertemu dengan para blogger ini, apalagi setelah tahu prestasi mereka yang sering mendapat undangan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Bahkan bukan hanya Indonesia, negara tetangga juga saling melirik mereka. Saat itu saya berasa kecil sekali, bahkan seperti Mbak Eka yang dulu saya suka ke blognya, dia sempat lupa sama saya. Tapi syukurlah setelah saya beri tahu kalau saya yang dulunya punya blog beralamatkan coffeeoriental, baru dia ingat.

Terasa sekali mendapatkan energi baru dari lingkungan yang positif, saya hampir putus asa dengan kebosanan mencari pekerjaan. Ternyata, keputusan saya menerima ajakan menemani para blogger adalah tepat. Keluar rumah lalu berjumpa dengan orang-orang baru yang membawa energi positif agar kita pun mendapatkan inspirasi baru.

Baca juga : 10 Lokasi Hits Instagramable di Palembang

Satu per satu blogger yang sudah datang mulai naik ke dalam mobil. Saya tidak begitu banyak bercerita, ada rasa kikuk untuk memulai obrolan. Perjalanan pertama yang kami kunjungi yaitu mengunjungi Museum Balaputera Dewa yang terkenal dengan Rumah Limas-nya yang ada di mata uang 10 ribuan. Kunjungan itu merupakan kedatangan saya yang pertama kali, sebab saya sendiri belum tahu kalau di daerah KM 5 ada museum.

Begitu kami semua tiba di pintu masuk Museum Balaputera Dewa, kami semua kumpul sejenak menunggu tarian selamat datang yang memang telah disiapkan sebelumnya oleh Ibu Diah, tuan rumah museum.

“Eh tadi siapa sih yang namanya Deddy Huang itu…,” teriak suara pria dari depan.

“Kenapa mas Cum?” jawab suara di sebelahnya.

“Iya, aku dipesenin kalau ke Palembang jangan sampe gak selfie sama dia. Gue mau selfie biar bukti gue udah ke Palembang.”

Seketika saya yang sedang berada paling belakang langsung terdiam mendengar jawaban dari Mas Cumi. Tak sanggup menahan ketawa sekaligus jadi GR. Ternyata ini ulah Nana @pinktraveler yang malam sebelum kedatangan para blogger udah minta titip salam ke Mas Cumi dalam bentuk selfie sama saya. Nana memang sudah mengenal Mas Cumi lebih dulu daripada saya. Maklumin saja, terlalu lama vakum dari media sosial membuat saya jadi tidak ikut perkembangan tentang blog.

Kami berdua pun mengabadikan foto selfie berdua menggunakan ponsel Mas Cumi di depan pintu masuk museum kemudian melanjutkan perjalanan trip seharian berkeliling kota.

Sebuah Nasehat Baik dari Mas Cumi

Hotel Novotel Palembang menjadi tempat bermalamnya para blogger, sedangkan saya tidak mendapat jatah menginap di hotel. Mas Bolang, Wira, Pasha, dan Swastika sedang asyik berendam di kolam renang bagian belakang. Mereka saling bercanda dan mencoba mengajak Mas Cumi untuk ikut masuk ke dalam kolam. Cuma mas Cumi menolak untuk berenang, alasannya karena badannya baru habis bekam jadi masih ada sisa bekam.

Saya dan Jony hanya duduk di samping melihat serunya teman blogger lagi berenang.

cumilebay
Mas Cumi digoda buat nyebur ke kolam.

“Mas Cumi udah sering ya ke Palembang,” tanyaku membuka obrolan.

“Iya, gue udah beberapa kali waktu itu pernah singgah di rumah omnduut tuh. Gue sih senengnya ke mall aja,” seru mas Cumi yang cuma pakai kancut berwarna. Yayan atau omnduut memang lebih banyak mengenal para blogger travel, jam terbang dia juga cukup tinggi. “Eh kalian kok gak ikut berenang?” lanjut Mas Cumi sambil menahan godaan tidak cemplung ke kolam.

“Gak lah mas, gak bawa baju ganti ntar juga mau balik rumah kan,” jawabku singkat.

“Lho kalian emang gak nginep di hotel?”

“Gak dapat jatah dari dispar, mas Cumi.”

“Ya udah bobok aja di kamar kita, si David pasti mau juga lah. Kan enak besok jalan-jalannya bisa bareng.” Saya dan Jony saling lirik mata, akhirnya kami cuma bilang mau menumpang mandi saja di kamar mas Cumi.

Entah kenapa, saya merasakan seolah tidak ada jarak saat sedang ngobrol bersama Mas Cumi. Kok bisa ya kita yang mungkin dianggap orang sebelah mata, tapi sama dia seperti sudah saling berkenalan sebelumnya. Rasa penasaran saya pun timbul untuk bertanya seputar dunia blog sama dia. Mas Cumi ini orangnya nggak pelit dengan pengalaman, dia mau berbaik hati memberikan nasehat bagaimana bersikap di dunia blog adalah untuk lebih humble dan hindari nyinyir. Saya makin tertarik untuk mengenal dunia blog lewat Mas Cumi.

“Mas, gimana sih biar kayak kalian diajak jalan-jalan terus?”

“Lu tuh jangan sok blogger terus sombong, hobi nyinyir aja, ngga penting sombong kalau congkak boleh.” Seru Mas Cumi sambil ketawa. “Ya proses lah, gue itu ya kalau komentar di blog gue belum sampai 100 gue gak berenti tuh datengi satu-satu blog orang. Gue broadcast tiap ada postingan baru, nodongin biar mereka dateng ke blog gue. Pagi abis gue sholat subuh, gue datengi aja satu-satu. Jadi bukannya dalam waktu satu malam aja. Lagian lu ngeblog ya ngeblog aja, konsisten nulis terus rajin-rajin komen di blog orang. Siapa tahu ntar dibuka jalan.” Pesannya yang masih saya ingat jelas hingga sekarang.

Menyadari Kekuatan Diri Sendiri

Saya sering mendengar dari Mas Cumi kalau banyak orang yang nggak suka sama dia, memang sebagai manusia kita tidak bisa memuaskan tiap orang.  Tapi saya sendiri tidak tahu celah mana yang membuat orang sebaik Mas Cumi masih ada orang yang tidak suka?

Satu hal yang saya salut sama Mas Cumi, walau dirinya tidak suka dengan orang yang sudah nyinyirin dari belakang tapi pada saat ketemu Mas Cumi masih dapat bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, justru yang ada dia menyapa duluan. Terus terang, menurut saya ini bagian sulit sekali seolah menurunkan harga diri kita di depan orang yang kita tidak suka.

Cara dia menyapa orang pertama kali bertemu sekalipun dia belum kenal, ternyata membuka pintu silaturahmi. Hal yang perlu dicontoh bukan?

Sepengetahuan saya, Mas Cumi termasuk orang yang taat sholat dan menjalankan puasa. Bahkan saat fam trip kemarin dia menahan diri dari godaan kuliner enak Palembang, dia lebih memilih sibuk dengan ponselnya dan duduk di belakang bus.

Baca juga : Datang Ke Palembang Enaknya Cari Makan Apa?

Kopdar bareng Winny, Dita “malesmandi”, Choky, saya dan Mas Cumi di food court Grand Indonesia.

Tiga hari menemani para blogger berlalu dengan cepat tapi meninggalkan kenangan. Kami berkeliling ke destinasi wisata Palembang yang kekinian. Tanpa saya sadari ternyata saya banyak mendapat pengalaman baru bersama para blogger tersebut. Pengalaman dan networking ini yang menjadi pegangan saya untuk melanjutkan kembali mengisi laman blog saya. Tapi, dari mana saya mulai nulis blog? Sedangkan blog saya sudah lama sekali tidak diisi konten.

Saya tahu diri ini kemungkinan sulit mengejar prestasi seperti mereka, jam terbang menjadi jawaban dan kualitas mereka sudah tidak diragukan. Walau begitu, entah kenapa hal tersebut tidak membuat saya berkecil hati.

Impresi pertama kali saat Mas Cumi masih mengingat nama dan merangkul saya untuk selfie bersama itu adalah momen yang membuat saya dihargai dan dipandang ada.

Pesan Rindu untuk Mas Cumi

Secara logika, selevel blogger femes seperti Mas Cumi yang namanya udah selalu ada ditiap ingatan agensi/brand/blogger masih mau mengajak saya yang bukan siapa-siapa untuk ngobrol bareng dan memberikan semangat. Saat itu juga saya mulai giat untuk merawat blog saya, mengikuti nasehat yang ternyata selalu dia sampaikan ke orang-orang yang dia jumpai. Saya hanya lakukan yang saya bisa, terus menulis dan menulis, apa yang menarik saya tuliskan lewat laman blog ini.

Termasuk mengikuti lomba-lomba yang selama ini menyokong kehidupan saya mulai membaik. Orang-orang mulai mencari tahu dan mengenal saya. Trafik blog pun perlahan meningkat. Dan, secara tidak langsung kualitas menulis saya semakin baik.

Makan siang bareng di warteg langganan Mas Cumi dalam Mall Ambassador

Hari itu, saat kembalinya saya dari Perth dan transit di Jakarta. Saya sengaja mengajak Mas Cumi kopdar di mall Ambassador. Ini kali kedua saya berjumpa dengan dia. Kami saling bercerita sambil makan siang. Saat mau membayar, Mas Cumi marah sebab dia tidak mau dibayari.

“Kalau lu tahu groupies gue, pasti lu tahu hal yang gak gue suka.” Saya pun menarik uang dan hanya membawa makanan yang saya pesan. Kami banyak bercerita sampai dia bilang ke saya tentang mensyukuri apa yang sudah didapat.

Pernah saya bilang ke Mas Cumi tentang rasa malu cari rejeki dari ikutan lomba, “Nanti dikiranya cari barang gratisan aja bisanya. Ikut lomba hadiah jalan-jalan aja udah dinyinyirin. Pengennya kan diajak langsung aja gitu mas Cumi,” tawaku saat kami makan menikmati semur jengkol favorit.

“Kali aja rejeki lu di lomba, ya udah dijalanin. Kalau gue mah bukan lomba, nulis aja lu lihat sendiri pendek gitu tapi ngewarnainnya bisa lama,” pesannya sambil tertawa.

Mas Cumi itu walau orangnya seperti becanda, tapi tiap yang dia omongin ada benarnya. Walau sebenarnya dia mau bilang, mungkin saja saya tidak bisa seperti dia. Tapi ada cara lain yang bisa saya kerjakan agar orang lain bisa sadar dengan kemampuan kita. From nothing to be something.

Baca juga :

Sekarang tiap ada yang bertanya tentang perjalanan saya kembali ngeblog, pasti saya akan flashback saat awal berjumpa dengan Mas Cumi. Mengenang kembali perjalanan saya dari bawah, mengingat siapa orang yang mendukung kita walau belum pernah kenal, dan membagikan kembali pengalaman hidup ini agar orang lain juga ikut terinspirasi. Momen itu memang meninggalkan kesan yang manis di ingatan saya, secara tidak langsung memotivasi saya untuk terus membuat blog saya makin banyak dikenal orang.

Saya tahu mungkin masih ada orang yang tidak menyukai saya, tapi belajar dari pengalaman Mas Cumi masa bodoh aja. Tunjukin dengan prestasi, suatu saat orang itu juga akan diam sendiri.

Kadang ingin bercerita dengan Mas Cumi dengan progress saya sejauh ini dan mendengarkan kembali nasehatnya layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Masih banyak yang belum saya ceritakan sama Mas Cumi. Sekarang, Mas Cumi sedang melanjutkan traveling di surga. Berkancut ria yang menjadi kebanggaan serta maskotnya. Masih kaget waktu membuka whatsapp group yang mengabarkan cumilebay meninggal dunia. Kami merindukanmu, Mas Cumi.

Mencoba menahan mewek saat menulis cerita perkenalan dengan Mas Cumi. Kalian pasti kangen kan buat godain Mas Cumi, apalagi pas facebook mengharuskan pakai nama asli, Mas Cumi akhirnya ubah nama aslinya. Adi. Hihihi.. Saya pun jadi ingat nama di daftar peserta yang pernah saya lihat, Moechamad Adi Mariyanto lalu saya dipesani jangan panggil nama aslinya, tapi panggil Cumi Lebay. Rest in Peace, Mas Cumi.

Lomba Menulis Aha Moment Skyscanner

Kalian punya cerita menarik selama traveling yang tentunya bisa menginspirasi orang lain? Ikutan yuk kompetisi menulis “Aha Moment Skyscanner“.

Caranya mudah sekali, kalian cukup tulis dan ceritakan kembali pengalaman traveling kalian yang berkesan hingga itu menjadi “Aha Moment!” yang sulit dilupakan. Selain itu jelaskan juga bagaimana Skyscanner Indonesia, sebuah mesin pencari tiket pesawat, hotel, dan rental mobil di seluruh dunia, bisa membantu kalian mencari lebih banyak “aha moments” saat traveling.

Kabar baiknya, di sini ada tiga kategori lomba yang bisa kalian ikutin yaitu kategori Konten, SEO dan Blogger Refferal. Setiap artikel akan berkesempatan menang di kategori konten maupun SEO. Kalian hanya perlu memasukkan satu kali URL artikel saja dalam dashboard.

Kompetisi ini ada dua fase.

Fase 1 dimulai dari tanggal 7 Agustus 2017 – 2 Oktober 2017 pukul 15.00 WIB. Penjurian akan dilakukan 3 Oktober 2017 – 16 Oktober 2017. Terakhir pengumuman pemenang Fase 1 (Kategori Konten, SEO, dan Blogger Referral) akan diumumkan melalui akun Facebook Skyscanner Indonesia dan C2live pada tanggal 17 Oktober 2017.

Fase 2 akan diumumkan untuk finalis kategori Voting yang akan diketahui pada tanggal 18 Oktober 2017. Lalu, kalian berkesempatan untuk mencari voting sebanyak mungkin dari mulai 18 Oktober 2017 – 15 November 2017 pukul 15.00 WIB. Nantinya voting akan diambil siapa yang meraih angka paling tinggi pada tanggal 20 November 2017 di akun Facebook Skyscanner Indonesia dan C2live.

Bagi kalian yang belum tahu tentang refferal. Refferal ini semacam referensi dari kalian yang mengajak teman-teman lainnya untuk mengikuti kompetisi ini. Nantinya, apabila teman kalian memenangkan kompetisi dari referal, maka secara langsung kalian juga akan mendapatkan hadiah. Tapi bagi kalian yang menjadi referal juga perlu ikut partisipasi membuat tulisan ya.

Pastikan kalian partisipasi dalam kompetisi ini ya! Hadiahnya travel voucher dengan nilai total Rp33.000.000! Informasi lebih lanjut tentang syarat lomba kalian bisa kunjungi di sini.

Referensi tulisan :

Iklan

89 thoughts on “Aha Moment Skyscanner : Kenangan Bersama Cumi Lebay

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s