BerandaIdeaRumitnya Jadi Seleb Media Sosial Saat Ini

Rumitnya Jadi Seleb Media Sosial Saat Ini

Author

Date

Category

Ide tulisan ini berawal dari komentar facebook Mas Danan di dinding status Mbak Rien tentang konten foto keren yang instagenic.

Lalu, muncullah Mas Danan dengan pose terbangnya dengan kain bak peri terbang ke kayangan. Perut udah tekewer-kewer, udel udah terlihat lalu kain menutupi muka. Peri ini gagal terbang. Saya, mbak Dee, mbak Rien kompak tertawa pecah dalam komentar facebook melihat behind the scene Mas Danan. Seolah kami tahu betul proses saat mendapatkan sebuah foto bagus “demi konten”. Kalau kita googling, beragam trik cara ngehits di instagram, cara menjadi endorse di instagram, cara menjadi selebgram dengan cepat dan mudah.

Walau hanya dalam dunia maya, tapi tawa saya lepas begitu saja ketika jempol asyik scroll timeline laman facebook. Sebegitukah demi konten? Atau ini hanya pencitraan untuk menarik perhatian netizen untuk jumlah likes yang diagung-agungkan Selama ini kalau kalian sering melihat gambar bagus di Instagram, apa kalian pernah membayangkan behind the scene-nya?

Let’s take a closer look into what is really going on!

Baca juga : Asiknya Bermain Media Sosial Dari Belum Kenal Jadi Kenalan

Siapakah Orang di Balik Foto Bagus?

Melalui blog saya ini, saya ingin berbagi pengalaman dengan yang selama ini saya kerjakan untuk menghasilkan konten. Kalau kita bermain di tulisan, hal utama tentu saja kualitas tulisan kita yang menarik dan membuat orang betah untuk membacanya hingga habis. Blog berbeda dengan website yang kurang memiliki sentuhan penulisnya. Sehingga mampu memberikan gambaran apa adanya. Bukan menyadur sama persis dari website lalu dimasukkan ke laman blog. Umumnya tampilan blog lebih sederhana, walau saat ini fenomena landing page melayang-layang memusingkan mata dan lama waktu loading tampil sedang marak. Kamu lagi ngeblog atau isi konten website?

lie on social media
Tiduran di pasir demi konten foto :)) Photo by Mbak Dee
Mas Jose naik ke atas ranjang buat fotoin Pungky.

Kedua adalah kualitas gambar. Gambar yang baik tentu akan mendukung cerita kita, walaupun satu atau dua gambar. Mungkin banyak di antara kalian yang tidak mengira kalau di balik foto yang bagus pasti ada cerita. Singkatnya, ada orang-orang di belakang layar yang membantu kita untuk mendapatkan foto cetar spektakuler. Saya sendiri belum setenar itulah yang bisa meng­-hire orang untuk menjadi asisten fotografer saya supaya dia bisa terus membantu saya membuat konten.

Foto-foto saya di Instagram banyak difoto oleh teman-teman yang baik. Teman yang saling bergiliran memotret. Saya motoin kamu, kamu motoin saya. Makanya di akhir caption ada ditulis foto oleh siapa. Sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap teman yang memotret kita. Langkah ini bisa menjadi informasi “kepo” bagi stalker untuk tahu kita sedang jalan sama siapa. Makanya nanti biasanya akan ada yang usil dikolom komentar : yang motoin siapa? Hahahaha….

Foto produk. Saya juga terima jasa foto produk loh…

Namun, kalau misal saya sedang tidak ada bala bantuan saat memfoto yang akan saya lakukan mencari angle foto lain yaitu hanya objek bendanya saja. Biasanya saya lakukan saat memotret produk seperti makanan. Memotret makanan pun juga ada suka dukanya sendiri. Kerap kali saat foto makanan kita tata seapik mungkin, lalu karena sudah terlalu lama didiamkan dan terkontaminasi udara, maka makanan itu dibiarkan begitu saja. Hanya makan yang bisa dimakan. Kadang sulit untuk mengetahui rasa aslinya sendiri.

Saya pun beberapa kali pernah mengajak teman saat saya diundang untuk review tempat makan yang memang mengizinkan saya untuk mengajak teman. Tujuannya agar teman saya tahu A sampai Z proses foto makanan, bisa butuh waktu lama sampai perut pun lapar sendiri. Saya sendiri pernah kambuh maag 2 minggu oleh sebab telat makan siang dan salahnya saya tidak tahu kalau menu tempat makan itu hanya satu croisant dan kopi.

Baca juga : Makna Hari Blogger Nasional, 27 Oktober

Proses Menciptakan Karya yang Paripurna

Sebuah foto bagus yang dilihat oleh netizen tentunya akan mencari respon yang beragam. Mulai dari berkomentar nada positif sampai negatif. Kalau kalian mau lihat komentar-komentar pedas netizen bisa kalian lihat sendiri di akun-akun “repost” publik yang lebih dikenal daripada akun asli kreatornya.

Kadang merasa miris ya, akun aslinya justru kurang dikenal daripada akun-akun “repost” tersebut. Tapi, lupakan itu semua sebab para fansku tahu mana yang demi konten atau pencitraan, bukan? Kalian memang luar biasa.

Balik lagi, proses menciptakan karya foto yang paripurna memang perlu ditata sedemikian rupa sesuai ide yang ada di benak kita.

Pose loncat pakai kain yang gitu deh.
Ceritanya mau ikutin foto orang yang keren, ternyata …
Berasa lagi iklanin shampoo rambut panjang terurai

Beberapa pose foto terbang atau levitasi yang pernah saya lakukan itu bukanlah satu dua kali jepretan. Bisa lebih dari lima kali kalau misal hasilnya kurang memuaskan bagi saya, toh yang loncat dan capek sendiri juga saya 😆 Biasanya foto levitasi ini saya lakukan sebagai penanda kalau saya sudah ke tempat tersebut. Supaya ada ciri khas di tiap konten saya saja.

Dari sekian kali jepretan foto selalu saja banyak gagalnya, entah itu dari kaki yang kurang pas, cara loncat yang membuat saya malu sendiri, dan lainnya. Bahkan ada yang perlu sampai guling-guling di tanah atau naik ke atas kasur agar bisa mendapatkan foto dari sudut pandang yang berbeda. Seru kan proses di balik layar supaya punya foto paripurna.

Demi Konten atau Pencitraan?

Bermain di ladang media sosial tidak lepas dari namanya pencitraan. Gaya hidup apa yang ingin kita tampilkan kepada netizen? Sering berfoto di hotel agar tampak kita sering keluar masuk hotel menikmati fasilitas hotel yang nyaman? Foto dengan gadget terbaru sambil ngopi cantik di café?

Saya pernah berpikir bahwa dunia dalam timeline media sosial ternyata tidak ada orang yang miskin-miskin amat. Kaya raya dan selalu bahagia. Rasa bangga saat dapat endorsement dari brand bahwa dirinya tampak femes. Hampir tiap detik tiap menit, ada saja orang yang sibuk posting sana sini di media sosia demi sebuah anggapan dan pencitraan. Sebelum posting, wajah diedit secantik mungkin, lingkungan dibikin semewah mungkin, dan gaya dibikin asik supaya dibilang gaul.

Ini!!! ah sudahlah, kain modal pinjam saling tukeran pakai. Lemak pun nampak. Photo by Mbak Dee.

Netizen saat ini sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh idolanya termasuk demi konten atau pencitraan. Kerap kali, teman-teman saya lebih memilih japri ke saya menanyakan langsung cita rasa makanan yang habis saya upload di @KokoCariMakan untungnya mereka tahu kode etik untuk tidak langsung berkomentar, tapi langsung direct message. Padahal di caption foto makanan sudah saya berikan ulasan mengenai rasa makan tersebut dengan bahasa yang halus.

Dari sini, saya melihat pola netizen saat ini sudah mulai bosan dengan kesempurnaan. Bagi mereka melihat foto-foto yang ditata, teratur dan pose-pose bagus seperti sebuah kesempurnaan yang mungkin hanya sebatas itu saja. Mereka menginginkan hal-hal yang seperti kita lakukan biasa, kehidupan yang tidak perlu dibuat wah. Because everything looks so artificial.

Untuk dapatin hasil foto maksimal, banyak foto-foto yang gagal.

Demi tampak wah oleh orang, ada yang rela meminjam barang milik orang lain numpang untuk memotret lalu upload. Seolah-olah dia punya barang mewah tersebut atau sedang jalan-jalan ke suatu tempat. Namun, saya juga tak ingin membohongi followers dengan berpura-pura seperti itu. Terlebih membohongi diri sendiri.

Baca juga : Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

Mbak Dee tiduran di tumpukan daun getah damar. Katanya bagus…

Mengutip caption dari @pungkyprayitno :

“Disini, semua orang tampil, kadang berebut panggung. Jadi lebih cantik, lebih kaya, lebih bijak, lebih ngehe, kadang lebih bahagia dari aslinya. Pasangan-pasangan lebih mesra padahal aslinya berantem mulu. Ibu-ibu kelihatan bak bidadari dari langit padahal aslinya anak numpahin air dikit aja nyerocosnya rauwis-uwis. Bapak-bapak kelihatan family man banget padahal anak ngompol ya dia tetap aja molor.

Tapi ngak apa-apa. Karena masa ibu lagi marah sempat foto dulu, kan enggak. Atau tiap sedih diposting ya malah senep liatnya. Karena memang sudah ke sanalah dunia berjalan, ke era pencitraan itu, dan ibu memilih ikut.”

Membaca caption ini saya jadi teringat berita jatuh dari motor, tapi si korban minta difoto dulu untuk di­upload ke media sosial sebelum ditolong. Kadang berpikir di mana akal sehatnya ya? Atau saya juga pernah membaca berita ngutil di mall agar bisa berfoto seolah-olah punya barang tersebut. Sakit!

Sudah Tepatkah Kalian Follow Seleb Sekarang?

Instagram berkembang menjadi salah satu media sosial yang populer di milenial saat ini sejak 2010. Dia memberikan ruang khusus di mana kita dapat memposting berbagai aktivitas kita seperti foto, video, bahkan dapat dijadikan lahan bisnis bagi pengguna.

Sebagai kreator konten dan influencer, saya lebih memilih menyampaikan apa adanya. Mempromosikan produk yang memang saya gunakan serta membuat foto agar tampak lebih menarik supaya bisa bekerjasama dengan brand dan klien yang mau membayar jasa sesuai dengan usaha dan hasilnya. Sebab hidup ini sudah penuh drama. Dunia media sosial itu pergerakannya sangat dinamis. Tiap detik ada ratusan ribu pengguna yang meng-upload foto dan dilihat oleh jutaan orang.

Ada fotografer, model dan sutradara di sebuah konsep foto. Photo by Pungky Prayitno

Kadang berpikir demi apa ya saya capek loncat berkali-kali, pose tahan nafas beberapa detik agar buncit sedikit mengempes, tiduran di pasir, atau berpanas ria di bawah terik matahari. Agar konten yang saya hasilkan dapat memanjakan mata followers dan sudi memberikan likes. Namun, saya juga tidak ingin menutupi proses di belakangnya.

Demi konten yang kami lakukan dan senangi. Ada nilai effort di dalamnya yang mungkin orang lain belum sadari. Hal yang kenapa kami sangat ingin dihargai bukan hanya foto kami di-repost dan parahnya kadang foto kami di-monetize sama oleh akun “repost” mereka. Kita yang capek membuat konten, mereka yang nerima hasil. Tapi itu adalah resiko, sifat oportunis yang sulit dilepas dari sifat kita sebagai manusia.

Jujur pada diri sendiri. Kita juga tidak perlu pura-pura kaya kalau kenyataannya biasa saja. Sekarang setelah kalian sudah tahu sebagian behind the scene social media yang tampak sempurna itu, saya juga ingin mendengar insight bagaimana menurut kalian?

***

Postingan bersama ini berawal dari obrolan kami tentang Behind The Scene sesi pemotretan blogger. Mau lihat postingan dan foto nista lainnya? Simak tulisan di bawah ini.
1. Danan Wahyu : Blogger, Sibuk Pemotretan Instagram dan Syuting Youtube
2. Katerina S :
3. Dian Radiata : Di Balik Foto-Foto Cetar yang Beredar di Media Sosial

Deddy Huanghttps://deddyhuang.com
Storyteller and Digital Marketing Specialist. A copy of my mind about traveling, culinary and review. I own this blog www.deddyhuang.com

195 KOMENTAR

  1. beuh perjuangan banget, saya aja masih belajar mas. Ngeliat teman ngepos apa adanya aja kadang kesel, soalnya mereka hanya mementingkan dimana tempatnya bukan gimana susahnya dalam proses pengambilan gambar yang tepat.

  2. Keren!!! , yang di tulis disini beneran realita dari sosial media saat ini. Dan dari tadi pas baca cuma bisa bilang dalem hati “bener banget!, wah aku juga gini, ihh kok bener lagi, dsb” ????

  3. Mmm… gimana ya…
    Bukan pencitraan sih apalagi membohongi diri sendiri
    Tp klo pas sdh dpt job trus disuruh kasi foto n kita bikin fotonya asal2an…

    Cuman kata pencitraan itu yg srg dilabelkan org pd blogger yg monetize blognya.

    Jd ya keep levite dan tahan lemaknyaaa ?

  4. Posting blog ini menyadarkan saya betapa selama ini saya kurang menghargai perjuangan berat untuk menghasilkan foto-foto pendulang like di kanal-kanal medsos. Lucu2 ternyata. Sayang saya nggak punya moment2 kayak gitu. Selama ini saya cenderung jalan sendiri. Jadi tidak tergerak untuk membuat foto2 instagrammable yang menampilkan saya sendiri karena kalo cuman sekedar minta tolong orang asing kan pastinya nggak bisa juga nyuruh2 dia ngikutin kita jumpalitan nyari frame keren.

  5. omaygaaaat, i feel youuuu hahahaha.
    Demi konten yaaaah. Aku selalu kagum dengan perjuangan seorang influencers yang berhasil membuat foto – foto kece !

    Dibalik sebuah foto kece, ada potografer yang susah payah nyari angle terbaeeek!

  6. Saya tdk bnyak pham ttg fotografi atau sensasi suatu foto.??
    Saya bukan penikmat seni visual yg baik.

    Tapi setelah membaca postingan ini, sy jd tahu trnyta foto yg tmpak indah yg dipublikasi itu punya crta yg gak gmpang di balik pembuatannya.

  7. Bener bangeeet usaha bikin konten yang ‘layak unggah’ itu butuh effort banget Hehe. Tapi kalau aku itu jadi kepuasan tersendiri juga mas. Nggak dipungkiri ada unsur pencitraannya juga hehe.

  8. ya begitulah, ada aku ada dalam pusaran pembuat konten itu. smeoga jadi ga ngelewatin momen demi hal ini. lebaran tahun ini berhasil. aku fokus dengan keluarga, setelah lebaran tahun lalu kayaknya kurang siip ahahaha

  9. Setuju banget tulisan ini heheheh
    Di balik foto-foto apik ada pengorbanan dan orang-orang yang siap membantu. Kayak foto makanan saya, itu mesti take berkali-kali dengan angle berbeda, hasilnya masih jauh dari sempurna. Belum lagi digangguin anak-anak, ya ampun perjuangan bangeeet hehehe

    Senang banget kalau ada teman yang jago motret kayak di foto-foto ini, beuh IG kita jadi keceh lah 😀 berhubung nggak punya IG hubby, jadi jarang foto kek koh Deddy *halaaaaah heheheh

  10. Hahaha.. foto-fotonya banyak yang lucu, Koh. Tapi yang bagus juga banyak.
    Kreatif banget yaa.. ternyata behind the scene-nya seperti itu. Kalau saya sendiri, sih, masih minimalis usahanya. Soalnya kamera cuma kamera hape, trus gak ada yang motoin juga. Hehehe. Oh ya, kalo saya suka foto apa adanya, sih. Lha wong mau nggaya kayak orang kaya ya gimana dan di mana nyari propertinya. Hiks 😀

  11. Hahahahaha di balik sebuah foto Instagram keren, ada seorang fotografer yang siap manjat-manjat kasur. Btw saya baru tau juga nih kalo koh Huang juga ternyata iklan shampoo terurai indah.

    Tapi ya begitulah Instagram dan dunia sosial. Kita dapat ruang untuk mencitrakan diri dan pasti ingin terlihat sempurna di mata netizen, ya meskipun followernya cuma lingkaran pertemanan itu itu aja sih hihi. Postingan yang menarik, koh. Sekarang kita semua liat foto-foto keren di IG DeddyHuang itu effornya segede apa hihi

  12. buahahahaha suka sama artikel ini. buahahaha
    behind the scene.
    foto aib di balik foto keren biasanya dikomentarin setelah foto kerennya di unggah ke sosmed.
    Alamakkkk emang bikin malu-maluin tuhhh foto aib. Tapi di satu sisi jadi kenangan tak terkira dibandingkan foto kerennya hahahaha

    di balik foto keren, ada perjuangan berdarah-darah!

  13. Haha kocak deh liat foto-fotonya, beneran dapat foto bagus itu perjuangan ya koh ada kepuasan tersendiri. Asal jangan sampai melanggar norma dan membahayakan diri serta orang lain sih fine fine ajaa..

  14. Demi feed bagus di Instagram ya Koh..
    Saya lihat tidak sedikit blogger justru traffic di blognya nambah karena foto di instagramnya keceh2. Jadi impact foto bagus ini lumayan gede juga buat ningkatin traffic blog.

  15. Sampe jongkok2 motret mbak Dian di kebun damar haha. Itu kaki nendang perut, kualat kau Ded ?

    Salut lah sama Deddy, di balik foto2 cetar yg diposting, ternyata ada berbagai cerita dan cara yang ga semudah keliatannya ya.

    Aku suka deh baca tulisan2 macam behind the scene gini. Bisa buat nambah2 ilmu jugaa

  16. Wkwkwkwk..itu yang edisi laptop ASUS kebetulan saya lihat duluan proses pemotretannya di instastorynya Pungky. Belakangan baru saya lihat hasil jadi fotonya.

    Jadi begitu lihat fotonya yang udah kece, udah keburu pengen ngakak karena ingat gimana proses di balik itu semua 😀

  17. Pengen komen lagi KO..boleh yak..jadi pernah nyoba fotoin dari atas kasur kayak gitu, abis itu ambruk lah gak kuat pegangan hahaha…astaga demi apaaah? demi terlihat professional, akhirnya nyedah dech, hidup pexels.com #eh…

  18. Kadang bukan karena ingin memanjakan followers aja sih bikin-bikin foto yang bagus. Mungkin pada dasarnya kita memang orang nggak betah diam, harus melakukan something good. Larinya ya bisa ke foto atau apa aja. Lagian ada kepuasan batin tersendiri kalau lihat hasilnya jadi kece beneran. Kalau dapat banyak likes ya alhamdulillah, bonus buat blogger yang kreatif.

  19. Baca ini dibeberapa bagian aku ngakak
    Dibagian lainnya aku manggut2
    Iya sih, untuk sebuah foto kece pasti ada usaha dibelakangnya
    Aku sih belum sampai yang naik2 bangku tempat tidur dll itu, tapi memang untuk beberapa foto kadang harus diambil berulang-ulang agar sesuai harapan. Meski tak jarang juga akhirnya putus asa karena udah bolak balik tapi hasilnya tetap mengecewakan hahaha

  20. Hahah postingan ini gue banget. Butuh perjuangan bagi org yg punya tampang paspasan kyk saya buat ngambil foto yg sesuai dengan keinginan. Butuh perjuangan, meski ujung2nya jarang upload foto diri sendiri, kebanyakan objek lain.

    Benar banget, banyak yg pencintraan, sah-sah saja sih kalau masih dalam batas wajar wkwkwk, dan gak sampe membohongi diri sendiri… mudah2an saya gak masuk golongan yg disindir sama koh deddy hahahah

  21. Mungkin yang cuek dengan segala detail adalah diriku, makanya hasilnya begitu aja. hahaha

    Tapi lumayanlah, aku gaya lavitasi nggak pakai nendang orang. Ups. Atau udah pose cakep, eh malah ditinggal ngibrit `fotografer` .. hehehe minta dijeburin laut.

    ahhhh jadi kangen kamu!!!! kapann klayaan sama diriku yang biasa aja ini????

  22. Haha, aku pernah tuh pas lagi foto njentit2 pakai daster, sama adik dari belakang di foto, mau diupload aku protes ???

    sundulerparents(dot)com

  23. Klo poto ketje mcm levitasi gtu blom prnh si Koh.. emang g tau jg caranya.. hehe..
    Paling moto makanan.. bnran tu rasanya jd g enak n plg srg dikomplain ma suami.. krn kelamaan..

  24. Kenapa aku jadi terbius dengan pose ala model iklan rambut panjangterurai ya. Hahhaa
    Kokoh Huang, salut untuk perjuangan untuk mendapatkan angle terbaik. Itu bukan proses yang mudah tentunya. Soalnya kadang mau meniru eh belum tentu bisa 🙂

  25. untuk blog, aku memang suka dengan tampilan yang sederhana dan ga macem2 biar sisi pribadi penulis dapet.
    aku juga pernah motoin sih, gaya levitasi nyebur dari kolam renang dengan banyak pose sampai berkali2 wkwkw, melelahkan.
    eh itu gaya foto seakan2 sedang membelai rambut panjang terurai kok lucu ya? wkwkwk

  26. Ya pastinya dibalik setiap kehebohan ada “nilai effort”. Yeay to that! Karena foto itu hasil dari “capturing the moment, the ambiance” yg kadang gk bs diwakilin dgn kata2…

  27. Skg eranya cari hiburan di sosmed. Jadi aku sangat berterimakasih sama klean2(hihi) yg kerja keras demi konten.

    Ttd, penikmat konten teman2 blogger

  28. perut terkewer-kewer 😆
    kosakata baru
    eh iya loh koh aku sering jadi korban juru potret teman yg ngebet jadi selebgram
    (kok mau juga -___-)
    Because everything looks so artificial.
    Ah iya bener sih, yang natural dan tak terduga itu lebih asyik

  29. Kalau sekedar memenuhi tuntutan profesi sih sah2 aja. Namanya juga kerjaan. Dia lagi kerja, wajar kalau menampilkan yg terbaik bak bintang iklan. Apalagi kalau itu foto2 endorsan, biar aja lah. Lagian kalau kita tau dunia nyatanya bagaimana dia, biar semewah apa juga, tetep aja kelihatan kok semua kemewahan itu polesan, atau bahasa sarkasnya sih foto mewah ala turis abidin, alias atas biaya dinas (baca: endorsan).
    Nah yang susah itu kalau bicara pencitraan, toh niat seseorang untuk pencitraan, misal biar keliatan citra bahagia atau citra kaya raya, atau citra supaya kayak pasangan paling bahagia sejagad raya, lha gimana ngukurnya cobak niat seseorang.
    Tapi aku sih lebih suka yang natural, luwes fotonya, sesuai karakter orangnya, endorsenya halus mainnya (beberapa blogger pinter yang begini, aku suka). Abis aku sering geli sendiri kadang saat melihat foto yang too much. Kecuali emang aslinya dia kece, keren, body languagenya bagus, fotogenik, nah kalau yg gini mau too much kayak apa juga bebas hehehe. Kalau nggak ya sekalian hancur2an aja, malah menghibur khan.
    Imho….

  30. Ga mau ngomong panjang lebar, intinya aku suka tulisan ini, meski isinya rada berbau ‘curhat’ dengan kalimat yg halus. Hihihi. Been there done that, though! pokoke apapun demi bikin konten yg berkualitas! ???

  31. Waaah serunya. Aku udah stop posting diri di IG krn dikomplen keluarga. Skrg cuma posting craft yg aku bikin & sesekali foto diri kalau lagi ada event. Tapi soal foto gantian itu ya Allah ngeseliiiin banget kalau barengannya selebgram wanna be. Kalau pas group foto tanpa rasa bersalah langsung depan sendiri padahal lainnya dah siap dari tadi. Trus yg diupload pas dianya paling cakep dong, peduli amat pose lainnya gimana. Kalau pas foto sendiri maunya semua lokasi minta difotoin, bukannya milih bbrp yg bagus. Udah gitu pas posting captionnya kayak sedang menerawang seorang diri, gak ada colekan buat yg keringetan motoin (baca: saya) wkwkwk gombal banget dah. Makanya kalau lagi pada main ke Jogja, dah males aja kalau ketiban nemenin selebgram wanna be. Mendingan selebgram beneran krn sdh punya etika & bisa numpang ngetop meski cuma berupa tag. Hehehee

  32. Selera netizen kerap berubah, ya. Ada masanya senang yang sempurna. Ada masanya kebalikannya. Tapi biasanya saya kembalikan ke diri sendiri. Lebih nyaman dengan tampilan seperti apa. Kan Ibaratnya socmed itu rumah, maka kepuasan pemiliknya yang utama. Tapi memang salut juga dengan orang-orang yang berada di belakang foto-foto cakep 🙂

  33. hihi bener ini, eh tapi pas aq ikutan workshop, untuk pelaku profesional di dunia digital kayak blogger, influencer pencitraan itu penting lho. meski begitu, kadang kala follower juga ingin melihat ketidaksempurnaan kita. Nah enaknya jadi blogger, proses ketidaksempurnaan bisa kita bawa ke blog, kayak behind the scene tadi. Jangankan Koh Deddy yang udah famous, aku yang amatir aja suka disindir sama temen2, “Duh enaknya jalan-jalan mulu.” Padahal mereka nggak tahu, ada effort sebelum atau sesudahnya, entah kudu posting, entah kudu nulis, atau kudu report analitik. Tapi bagian senengnya adalah ketika memang ada yg tanya beneran soal produk, tempat makan atau tempat wisata yg kita sharing kan, jadi ikut seneng karena mereka bisa dpt info dari kita, yg sebisa mungkin kita juga selalu jujur

  34. Buat saya branding atau pencitraan di medsos gak ada salahnya. Dan itu pilihan kok. Yang salah itu kalau berlebihan. Misalnya selfie di emasnya Monas dan setelah itu kita jatuh…hehe

  35. Hahaha bener koh, dibalik kece nya sebuah foto selalu ada orang di belakangnya. Sebenarnya aku pengin nulis “dibalik foto ig ku” tapi belum kesampaian juga wkqkqkkq

    Kadang ya harus lewati foto2 yg gagal sebelum dapat yg bagus

    Dan benar deh, kadang foto seleb itu hanya pencitraan

  36. Kalau udah cakep dari lahir mah gampanglah. Sisanya menyesuaikan. Apa apa jadi bagus ???? giliran yang biasa biasa perjuangaaannua head to toe dapetnya pun pas pasan klo ngga mencapai target langsung kuciwa.
    Yaaaaa kalo ngga cakep amat ya pilihannya jadi yang jelek, aneh atau gila gilaan sekalian
    Karena dikiri kanan teriak cakep itu relatif dan jelek adalah mutlak. ???

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Deddy Huang

As a digital creator, this blog discusses topics related to traveling, culinary, product reviews and digital marketing. The articles on this blog provide many tips and recommendations based on personal experience.

This blog also opens up opportunities for collaboration. Contact me at [email protected]

Artikel Populer

Komentar Terbaru