Macao, Potret Lingkungan Ramah Pejalan Kaki


Petang di Macao belum tampak ramai, kaum muda profesional belum waktunya pulang kantor. Toko-toko di sepanjang lorong yang kami lalui masih sepi, hanya ada beberapa pembeli. Sisanya hanya jalanan yang sepi yang dilalui kendaraan. Sering kali dijumpai para lansia yang berjalan kaki dengan gagahnya. Seolah menyindir kami yang masih muda tapi sudah ngos-ngos­an.

Suara petunjuk dari GPS memberitahu jarak kami akan segera tiba ke Best Western Sun Sun Hotel. Ternyata hotel ini berdekatan dengan Ole London Hotel yang dulu sempat kami cari tapi tidak berhasil. Setelah mengurus proses check in, kami pun sepakat untuk berkumpul kembali di lobi hotel setelah satu jam untuk mempersiapkan diri atau mandi.

Best Western Sun Sun Hotel

Ruang kamar yang homey dan pemandangan menarik

Dari kamar lantai 10, saya merasa suasana kamar yang homey. Tidak begitu luas tapi sangat cocok untuk tidur sendirian. Pemandangan kamar menghadap ke laut lepas membuat saya sejenak menikmati waktu bersantai dan mengambil waktu mandi. Tiap kali review sebuah hotel, kamar mandi menjadi poin yang paling saya sorot mulai dari kelengkapan aminities dan shower. Bagi saya yang satu hari penuh di perjalanan tentu mendambakan tembakan shower yang kencang layaknya sedang dipijat. Ternyata kamar hotel ini memenuhi ekspektasi saya!

A Ma Temple

Toko-toko di Macao tak jauh berbeda dengan pertokoan di Indonesia

Wajah kami saling berseri saat kumpul di lobi hotel. Berbeda sekali saat kami baru tiba. Sore di Macao tampaknya masih sangat terang, kami memutuskan untuk mengunjungi kelenteng tertua yang ada di Macao. Nama A Ma Temple bukanlah nama yang asing bagi saya, sebagai salah satu kelenteng tertua, A Ma Temple lokasinya berada di pusat kota.

Kami bergegas menuju arah halte bus, sempat terjadi diskusi antara kami berempat saat ingin naik bus tapi bingung dengan cara pembayarannya. Transportasi di Macao selain memanfaatkan bus gratis, juga tersedia bus umum dengan sistem pembayaran tunai dan kartu. Kita bisa membayar menggunakan uang pas atau dilebihkan sedikit, sebab bus di Macao tidak ada tukang kenek. Sedangkan untuk kartu kita tinggal tap pada saat naik dan tap kembali pada saat turun.

Cukup lama juga kami berdiskusi, akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati suasana sore perkotaan. Jarak A Ma Temple dari Hotel Sun Sun sekitar 1,5 kilo berjalan lurus. Memang benar kalau berjalan bersama-sama jarak jauh pun terasa dekat. A Ma Temple letaknya persis di paling ujung dekat dengan berbukitan dan pinggir laut.

A Ma Temple

Gerbang masuk, biasanya untuk sembahyang ke Dewa Langit.

Bentuk rumah dewa terbuat dari batu

Perlu naik ke atas untuk sembahyang

Doa yang dipanjatkan tulus semoga dikabulkan

Sebuah bangunan kelenteng yang tak lazim pada umumnya, tidak ada bangunan berbentuk seperti rumah maupun hiasan warna merah dan emas. Awalnya saya ragu untuk masuk, wangi dupa dari dalam seolah menggundang saya untuk masuk ke dalam melihat aktivitas warga lokal sedang berdoa. Dupa yang digunakan ditempat ini berwarna kuning, dupa khas luar negeri kalau saya bilang.

Selama beberapa menit saya masih bingung dengan alur dan tata cara berdoa di tempat ini, sebab tidak ada urutan nomor selayaknya harus kemana mulainya. Ternyata kelenteng A Ma ini berupa bukit yang harus kita daki ke atas, tiap sisi tangga ada altar dewa beralas batu. Saya baru pertama kali menemukan kelenteng unik di tempat ini. Suatu cagar budaya yang memang layak dikatakan kelenteng tertua di Macao.

Patung yang diletakkan di lantai

Sekitar 30 menit berada di dalam kelenteng, saya menikmati kilauan emas di sekitar kelenteng serta melihat pasangan muda memadu kasih. Walau sudah sore, kelenteng ini masih ramai dikunjungi.

Berada tak jauh dari kelenteng A Ma terdapat sebuah toko kue Koi Kei yang namanya sangat dikenal. Toko kue ini memiliki banyak cabang yang mudah dijumpai saat kalian sedang berjalan kaki. Salah satu jajanan yang layak dicoba adalah Eggtart Portugues yang merupakan salah satu gastronomi Macao. Satu eggtart seharga 10MOP ini memiliki citarasa lembut dan gurih. Wajar akan banyak dijumpai para wisatawan memborong eggtart maupun dendeng babi sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Lingkungan Ramah Lansia

Banyak taman rindang tempat berkumpulnya orang tua.

Kami melanjutkan kembali perjalanan mengarah pada lorong-lorong kota yang sebenarnya juga tidak tahu akan mengarah ke mana selain Senado Square. Berjalan hanya mengikuti petunjuk dari peta. Namun, tiap bertemu dengan persimpangan lorong, saya banyak menemukan aktivitas warga setempat yang sangat manis.

Mulai dari anak-anak baru pulang sekolah, mereka bermain bersama teman-teman mereka. Sering kali mereka bermain adu lomba lari atau mengusilin salah satu teman lainnya. Sedangkan tak jauh dari arena anak-anak bermain ada orang tua mereka yang berkumpul. Teringat pemandangan seperti ini saya melihat hal yang sama seperti di Indonesia saat sedang menunggu anak di sekolah?

Kelucuan anak-anak SD

Tak sedikit saya sering bertemu lansia di Macao, pada awalnya saya sempat bertanya-tanya mengapa para lansia ini merasa begitu nyaman dan aman ketika harus bepergian sendiri dan berjalan kaki. Meski dari fisiknya kita bisa menebak bahwa usia mereka sudah lebih dari 60 tahun. Tak jarang di antara mereka ada yang memakai tongkat atau alat bantu. Cara mereka berjalan yang cepat dan bersemangat mencirikan kondisi tubuh yang sehat dan energik.

Teringat saya dengan aktivitas mereka rutin berolahraga tiap pagi, mentalitas kemandirian lansia di Macao telah terbangun sedemikian rupa. Kemandiriannya menyiratkan usia bukanlah halangan bagi mereka untuk memiliki gaya hidup sehat. Apalagi jalan-jalan di Macao sangat ramah dengan pejalan kaki. Trotoar yang disediakan bersih dan luas. Pejalan kaki seperti prioritas. Ini terjadi pada saat kami ingin menyebrang, misalnya motor dan mobil akan langsung berhenti dan memberi ruang kepada kami saat hendak menyebrang di lorong. Siapa yang jadi tidak betah untuk traveling kalau sudah diberi kenyamanan seperti ini?

Bersantai di Senado Square

Senado Square

Lampu jalan mulai menyala, para urban yang bekerja di kantoran pun mulai turun di jalan. Keramaian paling banyak dicari saat sore hari adalah Senado Square, kawasan alun-alun tempat menghabiskan waktu malam. Syukurlah kami tiba di waktu yang tepat, walau saya harus kecewa dengan situasi air mancur persis di depan Senado Square sedang diperbaiki. Andai air mancur tersebut menyala tentu malam akan lebih indah.

Senado Square menjadi pusat kota tempat muda-mudi berkumpul di waktu malam. Berada di kawasan ini seperti masuk ke sebuah labirin sebab penuh lorong bercabang. Untunglah tiap persimpangan lorong diberikan petunjuk arah yang jelas. Barangkali saat waktu lampau, kawasan Senado Square merupakan perkantoran orang-orang Portugis yang kini digunakan sebagai toko-toko.

Bentuk bangunan tua peninggalan Portugis masih ada dan terawat. Warna-warni pastel yang mendominasi masih sama seperti 5 tahun lalu, tidak pudar oleh waktu. Suasana mini Portugis bisa kita rasakan saat berada di Senado Square. Terkadang kita suka berjumpa dengan orang-orang menggunakan bahasa Portugis.

Malam di kota Macao mulai ada kehidupan warga lokal dari pukul 7 malam hingga 9 malam, aktivitas yang wajar selayaknya seperti saya di Palembang. Namun di Macao, kita tidak perlu khawatir menjadi diri kita sendiri. Jauh dari kata kepo dan ghibah, sebab tidak ada yang peduli dengan yang kalian lakukan. Beberapa kali mbak Dewi seperti mengelus dada saat melihat dua orang pria bergandengan tangan, terlihat aneh tapi hal seperti itu sudah biasa terjadi di kultur budaya timur.

Loulan Islam Halal Restaurant

Kota ini mulai tampak hidup saat jam pulang kantor

Mas Zul termasuk orang yang sangat siap dalam traveling pertamanya ke luar negeri. Dia bercerita persiapan dirinya mulai dari berolahraga sebelum berangkat agar stamina tetap fit. Hal ini tidak pernah saya lakukan saat akan traveling, padahal penting sekali untuk menjaga kebugaran tubuh kita. Selain itu dia juga membawa vitamin agar kondisi tubuhnya terjaga.

Sebagai seorang muslim, ada hal yang sepertinya menjadi kekhawatiran bagi dirinya yaitu tersedianya makanan halal di sebuah negara mayoritas adalah orang Tionghoa. Makanan halal seolah sulit ditemukan di Macao, apalagi saat traveling. Tiba-tiba dia menyarankan untuk mencari salah satu restoran halal yang ada di sekitar Senado Square.

Jam pulang kerja, jalanan mulai padat aktivitas warga

Sepanjang hari ini kami menggunakan internet portable yang disediakan oleh hotel. Tiap kamar kami diberikan sebuah ponsel yang bisa dijadikan sebagai wifi thetering setiap 30 menit. Makanya saya bilang Hotel Sun Sun ini layak kalian lirik kalau mencari akomodasi, lokasinya strategis dan fasilitas internet memudahkan kita sehingga tidak perlu membeli nomor lokal. Walaupun saya menggunakan XL Pass 3 hari selama di Macao.

Berada tak jauh dari Senado Square mengarah ke Wynn Hotel, di antara lorong-lorong pertokoan yang gelap kami sampai di sebuah restoran. Saya termasuk orang yang terakhir masuk dalam restoran. Suasana restoran sepi, hanya ada tiga orang Portugis yang sedang menikmati makan malam. Seorang pelayan dengan bahasa Indonesia melayani kami, dia mengenakan celemek serta berikat bandana.

Loulan Islam Restaurant

Daftar menu makanan halal

Suasana di dalam restoran

Cumi goreng

Udang goreng

Menu makanan di buku berbahasa Mandarin dan Inggris, untunglah dia bisa membantu menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Akhirnya kami sepakat memesan menu hidangan yaitu udang goreng, cumi goreng tepung dan sayuran hijau. Tak ada yang bisa mendustai kenikmatan makan malam kami, walau akhirnya kami menyadari makan malam ini seharga 180 ribu per orang untuk tiga menu tersebut. Hahaha…

Apabila kalian ingin merasakan Roma, maka datanglah ke Fisherman’s Wharf, Paris kalian bisa datang ke Parisian, Portugal maka datanglah ke Senado Square. So, why say no to Macao? You’ll fall in love with this place.

Serba-Serbi Macao

Setiap orang tentu memiliki kisah perjalanan yang berbeda, termasuk dari cara pengambilan foto. Kadang saat kita sedang jalan bersama, sudut pandang kita akan berbeda.

Hotel menyediakan internet portable untuk dibawa keluar.

  • Hotel Sun Sun lokasinya strategis. Dekat dengan Senado Square juga dekat dengan halte bus. Jaraknya hanya sekitar 1,5 kilo menuju A Ma Temple.
  • Selain itu hotel ini juga menyediakan internet portable ditiap kamar yang bisa dibawa.
  • Saya menggunakan XL Pass 3 hari untuk roaming data internet saat di Macao. Namun pada saat sampai ternyata XL Pass tidak bisa digunakan, akhirnya saya menghubungi pimpinan XL Palembang untuk membantu mengecek status XL Pass. Syukurlah berhasil. Provider lain seperti Telkomsel dan Indosat juga memiliki paket roaming data internet.
  • Cobalah naik bus. Cari rute bus dengan menggunakan google map nantinya akan diarahkan bus yang harus dinaikin.
  • Tersesat di antara lorong-lorong Senado Square karena akan menemukan hal-hal menarik yang jarang kita jumpai.
  • Laolan Halal Islam Restaurant, salah satu tempat makan halal dengan range harga makanan berkisar 100MOP, tapi worth it untuk dicoba.

Trip perjalanan ini sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

Iklan

85 pemikiran pada “Macao, Potret Lingkungan Ramah Pejalan Kaki

  1. Macau ini emang kota yang hebat, selalu bersih, rapih, kotanya memang sudah disiapkan bukan hanya untuk pemilik kendaraan, tapi juga untuk para pejalan kaki……..Andai Indonesia spt ini yaaa…….

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.