Kembali ke Macao, Mengumpulkan Kenangan 5 Tahun Lalu


Malam itu saya hanya iseng saja membuka isi folder foto-foto perjalanan. Terkadang saya seperti bernostagia lewat gambar. A picture is worth a thousand words. Saya tertegun pada satu foto yang berhasil diselamatkan dari BlackBerry pada lima tahun lalu. Foto backpacker saya pertama kali ke Kuala Lumpur – Macao – Hong Kong – Shenzhen, saat itu saya hanya bawa ransel ukuran 24L untuk traveling  selama 2 minggu. Jangan ditanya kalau untuk sekarang sudah pasti tidak cukup untuk bawa peralatan kamera.

Saat itu saya hanya berkata dalam hati, kapan saya kembali ke Macao ya? Saya ingin kembali mengumpulkan kenangan lewat foto-foto. Sebab hardisk yang menyimpan foto-foto traveling saat itu rusak. Hilang semua dokumentasi saya, namun beruntung saya menyimpannya dalam blog sehingga masih bisa dibaca kembali. Inilah alasan kenapa saya senang menulis catatan perjalanan dalam blog.

Foto backpacker pertama saat ke KL – Macao – Hong Kong – Shenzhen dengan ransel 22L buat 2 minggu.

Hakuna matata. Semesta mendengar seruan saya lewat lomba yang diadakan oleh Kompasiana dan Macao Indonesia. Saya menjadi salah satu pemenang lomba menulis dengan hadiah perjalanan ke Macao! Sungguh saya sulit untuk mengambarkan rasa senang saya dapat kembali lagi ke Macao. Bagai fragmen yang pecah, saya harus mengumpulkan kembali kenangan tersebut.

Ada Rindu di Macao

Awal perjumpaan di Terminal 2 Jakarta

Turbulensi pesawat kembali mengingatkanku pada saat pertama kali saya datang ke Macao. Kali ini pesawat yang membawa saya kembali ke Macao pun sama mengalami turbulensi yang cukup lama. Jika saya mengalami amnesia maka kejadian ini perlahan-lahan membuka kenangan saya pada saat itu.

Terselip pesan yang sulit diucap, seperti itulah perjalanan panjang yang harus saya tempuh mulai dari Palembang harus singgah ke Jakarta terlebih dahulu. Perjalanan dimulai dari tengah malam sehingga tiba di Macao sekitar pukul 10 pagi. Waktu memang tidak banyak, kami mendapat jatah perjalanan ini hanya 3 hari 2 malam.

Macao masuk dalam teritorial Republik Rakyat Tiongkok setelah diserahkan pada Portugis. Sehingga pemerintahan Macao masih mengacu pada Tiongkok saat ini. Namun, sebagai wilayah kecil bagian dari Tiongkok, Macao memiliki atmosfer perkotaan yang berbeda yaitu pencampuran antara Portugis dan Tiongkok. Kalau boleh saya bilang datang ke Macao kita bisa bebas visa dengan budget perjalanan hemat tapi bisa mendapatkan suasana seperti di Portugis, sebab masih terdapat sisa-sisa bangunan peninggalannya.

Kawasan modern di tanah reklamasi, Cotai

Melewati imigrasi antar bangsa memang menegangkan sebelum paspor kita mendapatkan stempel. Namun, jangan kaget Macao memang tidak memberikan kita stempel paspor melainkan dalam bentuk secarik kertas yang tintanya gampang pudar. Kertas tersebut jangan sampai hilang, karena terkadang saat random check sering ditanyakan.

Keluar dari imigrasi, tiba-tiba bayangan 5 tahun lalu kembali muncul untuk mengulangi rute perjalanan yang sama. Saya mengajak Mas Zul, Mas Christo, dan Mbak Dewi untuk naik bus gratis milik jaringan hotel-hotel mewah yang ada di Macao. Cara hemat untuk traveling di Macao memang memanfaatkan bus gratis yang menghubungkan Macao dengan Taipa, Coloane dan pulau reklamasi, Cotai.

The Venetian Hotel

Makan di dalam foodcourt The Venetian Macao

Kami menumpang bus yang membawa ke The Venetian Hotel, salah satu hotel mewah dengan kasino 24 jam. Ya, Macao memang identik dengan perjudian yang dilegalkan. Banyak orang menaruhkan keberuntungan hidup di meja roulette. Tak sedikit pula orang yang pulang dengan membawa koper kosong menanti dijemput oleh keluarganya. Ironis.

Bagi saya yang berkantong ngepas tentu lebih memilih menikmati Macao dari sisi lain. Tiga orang teman baru saya terus mengeret koper mereka masuk dalam lobi hotel Venetian bernuansa Italia. Lantai marmer mengkilap dengan langit-langit dinding berlukis khas renaissance.

Megahnya interior dalam The Venetian Hotel Macao

Kasino The Venetian

Hal yang unik dari hotel ini ada pada bagian foodcourt, serasa kita sedang makan dengan suasana outdoor beratap awan. Pilihan makanan di foodcourt cukup banyak dan memberikan informasi jelas. Sebenarnya cukup aman bagi kalian traveler muslim yang mencari makanan halal di kawasan ini. Kalian bisa memesan burger ayam atau nasi goreng yang jelas tidak mengandung babi. Saya sendiri lebih memesan bihun kuah isi bakso ikan dengan harga sekitar 80 MOP atau 140 ribu rupiah. Harga makanan di Macao cukup mahal, tapi porsi makanan di sini bisa dimakan untuk dua orang.

Suasana foodcourt di The Venetian Macao

Bihun kuah porsi jumbo

Pintu belakang hotel yang pada malam hari akan digunakan untuk pertunjukan laser 3D

Cuaca dingin memang membuat nafsu makan saya meningkat. Padahal di pesawat saya sudah memesan nasi biryani dan pastel isi ayam untuk sarapan. Suhu di Macao memang tak sedingin minggu lalu ketika teman saya baru pulang mengajak orang tuanya. Walau dia berpesan agar saya membawa baju hangat, rain coat dan payung apabila tiba-tiba hujan.

Merasakan Sensasi Naik Gondola

Pertama kali naik gondola

Selesai makan, Mas Christo mengajak kami untuk naik gondola merasakan suasana Italia berkeliling sekitar mall ditemani seorang Portugis. Berbekal voucher yang telah dia pesan dari KLOOK, ternyata situs ini juga bermanfaat bagi kita traveler yang membutuhkan voucher pertunjukkan dengan harga hemat selain Traveloka.

Memang saya tidak berekspektasi tinggi saat naik gondola di The Venetian Hotel, oleh sebab akan sangat berbeda sekali kalau kita naik langsung di kotanya, Venezia. Kita boleh memuji keindahan suara sopran yang mengaung seisi ruangan mall. Pengalaman seharga 128MOP ini akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup, sudah pasti pengalaman kedua saya lebih memilih naik gondola di tempat aslinya :mrgreen:

Wujud gondola di The Venetian

Oh jadi kamu lebih pilih dia…

“Indonesia, right?” tanya nahkoda tersebut pada kami. Tiba-tiba dia melantunkan lirik lagu yang sudah sangat familiar di telinga kami.

“Kau begitu sempurna, di mata ku kau begitu indah…” “Wohoo…!” teriak kami kompak saat tahu lagu yang dia nyanyikan. Betul-betul kejutan bagi saya yang tadinya ingin cepat turun dari gondola mengejar destinasi berikutnya tapi sekarang lebih memilih untuk menikmati suaranya tanpa sadar lagu itu menjadi penghantar kalau sesi gondola sudah selesai.

Dia sepertinya tahu cara memuaskan tamu yang datang, menyentuh hal-hal yang nasionalis tentunya akan membuat kita lebih respek pada orang tersebut. Jadi, kalau kalian ingin dapat uang tip lebih berilah pelayanan yang melebihi ekspektasi pelangganmu.

Ini Baru Permulaan

Macao banyak spot instagramable

Waktu sudah hampir sore, kami belum juga singgah ke hotel yang berada dekat Senado Square. Salah satu keuntungan saya traveling menggunakan ransel adalah saya tidak perlu repot mengeret koper apabila ingin berpindah ke tempat lain. Namun, tidak untuk tiga orang teman baru saya tersebut. Akhirnya, kami pun berpindah ke City of Light, salah satu kasino yang berada di seberang The Venetian. Alasannya, di kasino ini menyediakan bus gratis yang dapat mengantarkan kami ke Macao Peninsula, pusat kota Macao.

Traveling tentang bagaimana kita menciptakan momen. Saat kami tersesat mencari jalan keluar bersama. Akan berbeda kalau sedang solo traveling. Beberapa kali kami bolak-balik lantaran jalan yang kami pilih salah. Mobil bus turun persis di depan Grand Emperor Hotel, untung saja kita tiba di Macao di pagi hari jadi masih mudah untuk mencari jalan. Dulu, rute bus harusnya turun di Hotel Sintra – sekarang rute tersebut sudah tidak ada. Apa kabar waktu itu saya tiba di malam hari dan kena scam oleh supir taksi? :mgreen:

Hotel Grand Emperor tempat turun bus dari Cotai

Kontur tanah menanjak

Di antara bangunan apartemen warga lokal

Jalanan di Macao untuk satu arah

Jalanan di Macao sangat ramah dengan pedestrian pejalan. Walau kendaraan yang lewat melaju cepat, mereka sadar penuh untuk memberikan akses bagi pejalan kaki. Tahu kapan akan menginjak pedal rem. Saat berjalan di antara lorong dan tanjakan jalan, saya melihat potret kehidupan masyarakat lokal di antara apartemen tua. Deretan jemuran baju menjuntai di depan kamar apartemen mereka.

Di balik megah dan kuatnya arus pertukaran uang di meja kasino, Macao memiliki jejak sudut yang humanis dan menarik bagi mata lensa saya. Tanpa sadar, kaki kami berhenti pada satu bangunan hotel dengan di depannya adalah sebuah taman kota.

Serba-Serbi Macao

Idealnya Macao dapat kalian kunjungi untuk 3D2N, sebab Macao tidak begitu luas sehingga dalam waktu satu hari bisa menelusuri tiap sudut kota dengan berjalan kaki. Macao sangat nyaman untuk pejalan kaki, sehingga kalian tidak perlu khawatir tidak ada akses yang nyaman. Apalagi petunjuk arah menuju tempat wisata juga jelas.

  • Bagi pemegang paspor Indonesia, kita bebas visa berkunjung ke Macao selama 30 hari lamanya. Namun kita tidak mendapatkan stempel paspor melainkan kertas izin masuk.
  • Mata uang Macao adalah Macao Pataca (MOP), namun kita dapat menggunakan mata uang Hong Kong Dollar (HKD). Hanya saja mata uang Macao Pataca tidak dapat digunakan saat kita melanjutkan jalan-jalan ke Hong Kong. Jadi, sebisa mungkin kalian menghabiskan uang MOP di Macao atau meminta kembalian dengan mata uang Hong Kong.
  • Transportasi di Macao bisa menggunakan bus gratis dari hotel-hotel mewah kawasan Cotai. Waktu operasional mulai dari pukul 10 pagi. Bus gratis ini akan akan mengantar dari/ke Terminal Ferry dan bandara.
  • Selama jalan-jalan di kota, kalian bisa menggunakan bus dengan pembayaran menggunakan uang pas atau kartu.
  • Bahasa yang digunakan adalah Kanton, Mandarin, Inggris dan Portugis. Apabila kalian kesulitan menemukan jalan, dapat meminta bantuan dengan memberikan petunjuk gambar atau peta

… bersambung ke cerita selanjutnya.

Trip perjalanan ini merupakan sponsor dari Macao Indonesia dan Kompasiana. Terima kasih atas kesempatan berharga ini bagi saya.

Iklan

29 pemikiran pada “Kembali ke Macao, Mengumpulkan Kenangan 5 Tahun Lalu

  1. Ping balik: Kalibre Vantage 05, Ransel Trendi Untuk Traveling | Koh Huang

  2. Ping balik: Rua De Cunha, Sudut Kuliner Menggiurkan di Macao | Koh Huang

  3. Ping balik: Sunyi Pagi Membisu Macao – Koh Huang

  4. Ping balik: Romantisme Reruntuhan Gereja St. Paul, Macao – Koh Huang

  5. Ping balik: [REVIEW] ACMIC A10Pro 10000 mAh Quick Charge 3.0 – Koh Huang

  6. Denger nama Makau sontak inget sebangsa Andy Lau, Jacky Chan, Stephen Chow, dll. Kalau udah cerita tentang perjudian maka setting-nya Makau, selain Hong Kong yang merupakan basis mereka. Baru tahu kalau ternyata ke Makau itu bebas visa ya buat orang Indonesia (lalu inget paspor yang nyaris 3 tahun dibuat nggak pernah dipake). Tapi sekali makan di atas 100rb, aku pun bilang WOW 😀 Mehong bambang boooo. Tapi someday kudu ke sana. Nggak boleh nggak. Makau ini salah satu koloni favorit Portugal.

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.