Akber Palembang : Dari Sriwijaya Ke Po Lin Fong Sampai Indonesia


Sabtu petang yang sejuk membuat para murid-murid berbondong menuju Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Tempat yang kini menjadi sorotan selama pergelaran Festival Sriwijaya ke-25. Boleh jadi berbangga hati karena saya menjadi salah satu murid dari kelas Akber Palembang. Setelah 2 hari berturut-turut saya mengikuti kelas Akber Palembang, saya pun tentu tak mau melewatkan kelas di hari ke-3. Rugi!

J.J Rizal, siapa yang tidak kenal dengan pria berkulit eksotis dengan topi koboi sore ini mulai membuka perkenalan sesi kelas. Seorang sejarahwan dan penulis ini didatangkan untuk berbagi kepada para murid.

Tema kelas Akber Palembang kali ini bercerita tentang arti sejarah Sriwijaya bagi proses kita menjadi Indonesia.

Wow. Barangkali topik ini sempat terlupakan saat kita duduk di bangku sekolah dengan pelajaran sejarah. Lahir dan besar di Palembang tentu saja saya penasaran dengan sejarah Sriwijaya yang namanya begitu tersohor.

Nama Sriwijaya mengacu pada kata Sri yang berarti “bercahaya” dan Wijaya yang memiliki arti “Kejayaan”.

J.J Rizal membuka kelas lewat sebuah gambar yang menunjukkan Bung Karno saat meresmikan hotel Indonesia pertama kali di 5 Agustus 1962. Hotel Indonesia yang berlokasi di jalan Thamrin atau lebih dikenal Hotel Kempinski. Dalam foto yang ditampilkan nampak foto Soekarno bersama seorang gadis berpakaian adat Palembang saat peresmian Hotel Indonesia.

Ada apa sama gadis berbaju adat Palembang?

Mungkin dalam ruangan bawah di Museum SMB II ini bukan cuma saya yang penasaran cerita dibalik foto hitam putih. Lanjut J.J Rizal, dalam foto tersebut menjelaskan kalau Soekarno ingin mengingatkan orang-orang bahwa Sriwijaya punya sejarah di Indonesia. Soekarno melihat saat itu  orang-orang melupakan bahwa Sriwijaya punya bagian sebagai negara maritime di nusantara, Sriwijaya pernah menguasai lautan. Bahwa jati diri Indonesia tidak boleh lupa daratan.

Lanjut, Soekarno meresmikan Hotel Indonesia bukanlah ruangan hotel melainkan restorannya, Ramayana. Tempat tersebut dibuat dari mozaik keramik yang bertema “Barisan Bhinneka Tunggal Ika”. Hotel Indonesia menjadi cermin muka Indonesia saat itu. Saat itu hadir juga Direktur Hotel Indonesia, Iskandar Ishak yang menemani Soekarno. Dalam pidato peresmian, Soekarno pun berkata “Aku ingin kita mengingat Sriwijaya seperti mengingat Majapahit yang sejarahnya mengantarkan kita menjadi Indonesia.

Saat mendengar ungkapan yang menyentil ini, saya pun seolah dibawa ke masa lampau untuk mengulik lebih tentang Sriwijaya dan bangga menjadi bagian Po Lin Fong (Palembang).

Cerita pun mengalir dengan masuknya Jong Sumatranen Bond yang digawangi oleh Budi Utomo. Pakam Budi Utomo yang mengagungkan budaya Jawa menimbulkan rasa nasionalisme sendiri di dalam pemikirannya. Perkumpulan ini bertujuan untuk mempererat hubungan di antara murid-murid yang berasal dari Sumatera. Hingga masuklah tokoh Tjipto Mangoenkoesoemo yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai” ini keluar dari Budi Utomo dan membuat partai National Indische Partij yang tentunya untuk membangun semangat patriotism semua bangsa hindia kepada tanah air yang telah memberi lapangan hidup terhadap mereka.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan Nusantara terbesar setelah Majapahit di Jawa. Sehingga kedua kerajaan tersebut menjadi kiblat bahwa Indonesia menjadi satu kesatuan negara. J.J Rizal banyak memberikan bukti-bukti yang menunjukkan Sriwijaya sudah ada sejak Indonesia lewat slide presentasinya. Bahwa Sriwijaya juga memiliki peran sumbangsih bagi Indonesia.

Hal yang membuka wawasan saya dari penuturan J.J Rizal dengan gaya sedikit konyol. Dalam sejarah Indonesia ada dua kerajaan kuno yang selalu disebutkan sebagai kerajaan-kerajaan megah dan jaya yang melambangkan kemegahan dan kejayaan Indonesia di zaman dulu. Kedua kerajaan itu adalah Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan, saat kelas diskusi ada hal yang bikin kita tersingkap bahwa runtuhnya Sriwijaya bukan karena Majapahit. Hal ini dikarenakan oleh serangan dari kerajaan luar dan atau dari literatur lain mengatakan dari bajak laut.

Sesi kelaspun menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari murid yang nampak antusias. Mulai dari kok bisa Indonesia itu terbentuk adanya pulau-pulau lain? Apakah benar Indonesia dijajah selama 350 tahun? Pertanyaan yang menarik dari Suzannita, blogger sekaligus reporter televisi lokal ini menanyakan sudah sampai mana J.J Rizal pelajari tentang Sriwijaya. Wah mengernyitkan dahi si pembicara. Tak berapa lama, mas Rizal pun mulai percakapan kembali menjawab pertanyaan peserta.

Kata “peradaban” merupakan yang dilihat oleh mas Rizal. Hal yang menarik dari Sriwijaya adalah adanya suatu kehidupan interaksi sosial. Sebagai contoh saat perhelatan Sea Games 2011 lalu, saat semua kontingen negara datang ke Palembang lalu Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring ramai dengan “bule”. Saat itu nama Palembang mulai dikenal sebagai tuan rumah Sea Games 2011 dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang ada acara pun berjalan. 

“Peradaban hanya kan ada jika terdapat sebuah sistem yang matang,” ujar J.J Rizal.

Napak kilas balik saat zaman Sriwijaya, dimana para pedagang-pedagang dari belahan dunia singgah ke Sriwijaya lewat perairan Sungai Musi untuk melakukan traksaksi perdagangan. Tentunya kita tahu betul kalau Sriwijaya dikenal sebagai negara maritime dengan jalur rempah dan bahari yang luas. Banyak orang Cina dan Arab berdatangan untuk mempelajari tradisi sampai penyebaran ilmu agama.

Lanjut mas Rizal, sebuah kota yang baik bisa dilihat dari museum dan perpustakaan. Dari dua tempat ini kita bisa melihat besar atau tinggi peradabannya. Mulai dari kondisi museum dan perpustakaannya, ramai pengunjung sampai prasarana yang lengkap sebagai tanda bahwa tempat tersebut sering dikunjungi. Entah kenapa saya jadi teringat pembincangan saya dengan mbak Diah saat di Museum Balaputera Dewa, dia pun berucap demikian. Saya sepakat bahwa museum itu menjadi saksi bisu tempat cerita-cerita terbentuknya kota tersebut. Walaupun saat ini masih nampak momok menyeramkan atau membosankan bagi tiap orang untuk berkunjung ke museum. Kalau dalam bahasa Palembang, apo gawe aku ke museum? nak nyari antu apo? Cuma kalau ditanya bagaimana agar kita yang sudah sadar kalau museum itu punya banyak kisah bisa menularkan virus museum, ya tentunya dimulai dari diri sendiri dong.

Semua pertanyaan murid dijawab dengan santai tapi bisa dipahami oleh murid. Sangat menarik mengikuti kelas Akber Palembang hari ini. Memang pertemuan kurang lebih 2 jam ini masih terasa kurang untuk bertanya dan mendengar dari pakarnya tentang Sriwijaya. Namun, hebatnya walau materi terasa berat karena sejarah, J.J Rizal mampu menghipnotis peserta dengan santai dan timbul rasa ingin tahu lebih.

Secara pribadi, saya pun menikmati tiap ulasan mengenai Sriwijaya sampai ke Po Lin Fong. Makanya acara Festival Sriwijaya yang diadakan sepekan ini oleh Dinas Budaya Pariwisata Sumatera Selatan sebagai wadah apresiasi agar masyarakat Sumatera Selatan kembali kembali mengenang masa kejayaan Sriwijaya. Apalagi hadirnya generasi muda yang sudah melek internet dan sosial media, akan sangat mudah untuk berkolaborasi menyebarkan informasi positif dan bermanfaat tentang Palembang.

So, beruntung sekali adanya acara akber kali ini tentunya bisa mengingatkan kita kembali terhadap hal-hal yang terlupakan tentang jati diri dari kota sendiri. Buat kamu yang mau lebih tahu tentang kelas-kelas Akber Palembang selanjutnya bisa ikutin di timeline @AkberPLB

Akademi Berbagi…. Berbagi Bikin Happy!

Iklan

13 thoughts on “Akber Palembang : Dari Sriwijaya Ke Po Lin Fong Sampai Indonesia

  1. Saya suka deh tempat ini, saya juga suka dengan situasi sekitar tempat ini yang modelnya seperti harbor di luar negeri. Waktu main ke museum ini, museumnya sepi pengunjung dan saya jadi puas mengitari gedung ini tanpa banyak gangguan

  2. Aku bolak balik baca kata Akber, tapi belum nemu arti atau kepanjangannya … jadi Akber itu apa koh?

    O iya, menyoal tentang kebesaran nama Sriwijaya. Aku jadi ingat dua tahun lalu menonton pertunjukkan Siam Niramit di Bangkok. Ini merupakan pertunjukkan semacam opera tentang sejarah Kerajaan Siam, yang dipentaskan pada sebuah panggung raksasa (konon merupakan panggung terbesar di dunia – versi Guinness Book of Record). Pada salah satu episodenya disebutkan bahwa bangsa Siam pernah bersentuhan atau bekerjasama dan mungkin juga mendapat pengaruh dari sebuah kerajaan besar di Sumatera, namanya adalah Srivichai. Jadi secara tidak langsung, Sriwijaya juga memberi pengaruh pada kebudayaan Thailand yang kini tetap bertahan sebagai sebuah kerajaan besar di dunia.

    Waktu nonton itu, aku sempat bertanya-tanya sih: Kenapa Siam tetap berjaya hingga kini, sementara Sriwijaya meredup bahkan hilang dari kancah budaya dunia. Meskipun pada akhirnya aku mengingat, jika sejarah sebuah bangsa itu memiliki sebuah umur tertentu.

Feel free to share you idea.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s